Penjualan Sepeda Meningkat saat Pandemi, Toko Sampai Kehabisan Stok

Bersepeda atau gowes kini tidak hanya menjadi olahraga. Namun, menjadi gaya hidup di tengah pandemi Covid-19. Masih tutupnya gym, kolam renang, sampai tempat futsal, membuat masyarakat beralih ke olahraga sepeda. Imbasnya, penjualan sepeda meningkat sampai kesulitan stok.

————–

Hari masih pagi, matahari baru saja mengintip dari balik cakrawala. Namun Firman Triyanto, 34, sudah bersiap keluar rumah.

Tujuannya, tidak untuk bekerja. Namun, bersiap-siap gowes. Dengan kaus santai, celana pendek, dan sepatu sneakers. Firman mulai mengeluarkan sepeda Polygon Xtrada 5-nya yang baru saja dibelinya sebulan terakhir.

Firman mengaku ingin bersepeda sudah lama. Lantaran rekan sekantornya tak sedikit yang sudah hobi gowes sejak lama. “Tapi sejak korona ini baru beli sepeda. Lantaran badan juga sudah sakit karena terlalu lama tidak berolahraga,” ujarnya.

Sebelumnya, Firman lebih suka ke gym ataupun olahraga badminton dengan teman-temannya. Namun sejak korona, tempat gym langganannya tutup. Mau janjian badminton dengan rekannya masih belum bisa.

“Selain tempatnya masih tutup, juga teman-teman gak berani kumpul-kumpul dulu. Jadi, akhirnya setelah Lebaran membulatkan tekad beli sepeda untuk gowes,” terang warga Bendomungal, Bangil, ini.

Firman bahkan mengaku olahraga gowes ini lebih fleksibel. Sebab, bisa dilakukan pagi atau sore hari sepulang kerja. Termasuk akhir pekan, bisa janjian bersepeda dengan 3-5 temannya untuk gowes bersama. Serunya, olahraga ini tidak ribet. Hanya perlu sepeda dan bisa olahraga, bahkan bisa menikmati pemandangan alam.

KIRI-KANAN: Akhmad–Firman Triyanto – Yogi saat bersepeda di Bukit Raci, Bangil. (Foto: Dok Pribadi)

Tak sendiri, Akhmad Tirmidzi, 34, warga Bugul Kidul, Kota Pasuruan, bahkan baru seminggu ini membeli sepeda Thrill-nya. “Sebelumnya sudah coba-coba punya teman dan memang tertarik. Namun, baru seminggu ini akhirnya beli sendiri,” ujarnya.

Sebelumnya, Akhmad justru lebih suka futsal. Tapi, setelah korona, olahraga yang menimbulkan kerumunan masih dilarang. Sehingga, pilihan bersepeda menjadi paling masuk akal. Sejak memiliki sepeda, tiap pagi sebelum berangkat kerja, Akhmad keliling di sekitar rumahnya.

“Kalau pagi bisa sendiri keliling sekitar rumah. Baru akhir pekan dengan teman komunitas. Sudah coba ke Bukit Raci, Bangil, termasuk ke Gondangwetan,” terangnya.

Kendati masih jarak tipis-tipis (dekat), menurutnya komunitas gowes di Pasuruan ini sangat welcome. Banyak dan beragam. Sehingga, jika ingin gowes bersama tetap asyik. Dan jika ingin sendiri juga bisa santai.

“Karena korona, sehingga yang ikut juga gak banyak. Paling 5-10 orang. Itu pun kalau bisa gak bergerombol, ada jarak. Yang penting tetap bisa gowes dan sehat,” ujarnya.

Setelah bisa berolahraga lagi dengan bersepeda. Dikatakan stamina tubuhnya kembali baik lagi.

Eko Mulyono, ketua Fixie Rider Pasuruan dan koordinator Aliansi Pesepeda Pasuruan mengatakan, sejak korona memang ada pertumbuhan pemakai sepeda. Hal ini terlihat di jalan, termasuk yang ikut komunitas sampai melihat gairahnya toko sepeda.

“Memang terlihat ada peningkatan signifikan dari yang saya lihat. Mungkin juga ada beberapa sebab. Selain pelajar yang libur dan akhirnya bersepeda agar tidak sakit di rumah terus. Juga orang dewasa sekarang banyak yang memilih bersepeda untuk olahraga,” terangnya.

Kendati tidak bisa memperhitungkan kenaikan jumlah pesepeda, dari pantauannya kegiatan Aliansi Pesepeda Pasuruan terlihat ada gairah naik. Dulu rata-rata yang ikut lebih dari 100 orang.

“Sekarang kurang lebih bisa 150 pesepeda. Dan prediksi bisa nambah,” terangnya.

Sulis, salah satu pemilik toko sepeda di Jalan Soekarno-Hatta, Pasuruan, menyebut terjadi lonjakan pembeli sepeda beberapa waktu belakangan. Terasa meningkat sejak setelah Lebaran.

“Awalnya sejak ada korona Maret, April sepi. Mungkin imbas PSBB, social distancing, dan sebagainya,” terangnya.

Namun, setelah Lebaran mulai banyak yang membeli sepeda. Bahkan, lonjakan bisa naik lipat dua dibandingkan hari biasanya. Menurut Sulis, tingginya pembelian tidak hanya di Pasuruan, tapi di seluruh Indonesia.

“Sampai distributor juga tidak bisa memenuhi permintaan. Banyak stok yang kosong di toko sampai di pabrik. Yang banyak dicari saat ini adalah sepeda merek Polygon. Mungkin tidak menyangka terkait kenaikan permintaan sepeda,” terangnya.

Banyaknya masyarakat yang bersepeda menurutnya justru bagus. Mungkin karena sudah 2-3 bulan di rumah dan tidak bisa olahraga. Sehingga, sekarang sepeda menjadi pilihan di tengah pandemi korona.

Di Kota Probolinggo, sejumlah toko sepeda juga kehabisan stok. Bahkan, tak jarang pembeli harus pesan terlebih dahulu. Sebab, dua bulan belakangan peminat sepeda melonjak hingga lipat tiga.

Seperti yang dialami oleh sebuah toko sepeda di Jalan Panglima Sudirman, Kota Probolinggo. Tiap harinya, biasanya hanya 19-25 unit sepeda terjual. Namun, selama Mei-Juni penjualan sepeda bisa tembus 70 unit per hari.

Akibatnya, tak jarang pembeli harus inden. Paling banter dua minggu sepeda bisa datang.

“Banyak peningkatan pembelian. Yang dibeli dengan harga mulai Rp 1 juta sampai Rp 3 jutaan, hingga lebih dari Rp 10 juta. Kalau dirata-rata paling banyak harga di bawah Rp 5 juta,” katanya. (eka/rpd/hn)