alexametrics
25.3 C
Probolinggo
Sunday, 14 August 2022

Cerita Guru SLB Sinar Harapan 1 Probolinggo Jadi Pendamping Bahasa Isyarat

Namun, tentunya hal itu juga harus dilakukan secara cepat pula. Sebab, jika dieja satu persatu akan makan waktu, sementara orang yang berbicara terus berlanjut. “Jadi memang harus fokus. Karena fokus itu tadi perasaan takut saat melihat tahanan hilang,” katanya.

Hal senada disampaikan Endang Sulistyowati, 58, guru senior SLB asal Kebonsari Kulon, Mayangan, Kota Probolinggo. Guru angkatan 1986 menyebut, memang tidak semua kata harus diterjemahkan ke dalam bahasa isyarat.

“Jadi intinya saja yang kami terjemahkan. Yaitu, bahasa yang sudah biasa diterima oleh warga tunarungu. Sehingga tidak terlalu panjang juga,” tambahnya.

Saat awal MoU dilakukan kurang dari setahun lalu, sekolah memang menunjuk guru senior untuk melakukan pendampingan. “Biasanya saya dan Bu Siti Maisyaroh. Namun karena minta yang masih muda, akhirnya kami mendorong guru muda terlibat. Agar bisa, kami ajak mereka melihat kami dulu. Selanjutnya kami minta mereka sendiri berangkat melakukan pendampingan,” imbuhnya.

Kepala SLB Sinar Harapan 1 Holipah, 67, mengaku senang dengan MoU tersebut. Sehingga mereka yang memiliki kebutuhan khusus bisa paham bila rilis itu disiarkan di televisi.

“Senang ya. Termasuk ketika pemkot meminta bantuan pendampingan ke kami. Sekolah ini memang punya guru dan siswa SLB terbanyak. Siswanya ada 1.443 dengan jumlah guru 20,” tuturnya. (hn)

Namun, tentunya hal itu juga harus dilakukan secara cepat pula. Sebab, jika dieja satu persatu akan makan waktu, sementara orang yang berbicara terus berlanjut. “Jadi memang harus fokus. Karena fokus itu tadi perasaan takut saat melihat tahanan hilang,” katanya.

Hal senada disampaikan Endang Sulistyowati, 58, guru senior SLB asal Kebonsari Kulon, Mayangan, Kota Probolinggo. Guru angkatan 1986 menyebut, memang tidak semua kata harus diterjemahkan ke dalam bahasa isyarat.

“Jadi intinya saja yang kami terjemahkan. Yaitu, bahasa yang sudah biasa diterima oleh warga tunarungu. Sehingga tidak terlalu panjang juga,” tambahnya.

Saat awal MoU dilakukan kurang dari setahun lalu, sekolah memang menunjuk guru senior untuk melakukan pendampingan. “Biasanya saya dan Bu Siti Maisyaroh. Namun karena minta yang masih muda, akhirnya kami mendorong guru muda terlibat. Agar bisa, kami ajak mereka melihat kami dulu. Selanjutnya kami minta mereka sendiri berangkat melakukan pendampingan,” imbuhnya.

Kepala SLB Sinar Harapan 1 Holipah, 67, mengaku senang dengan MoU tersebut. Sehingga mereka yang memiliki kebutuhan khusus bisa paham bila rilis itu disiarkan di televisi.

“Senang ya. Termasuk ketika pemkot meminta bantuan pendampingan ke kami. Sekolah ini memang punya guru dan siswa SLB terbanyak. Siswanya ada 1.443 dengan jumlah guru 20,” tuturnya. (hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/