alexametrics
24.9 C
Probolinggo
Wednesday, 17 August 2022

Cerita Guru SLB Sinar Harapan 1 Probolinggo Jadi Pendamping Bahasa Isyarat

“Pertama ditunjuk itu dadakan. Kurang 15 menit diminta ke Polresta, jadi belum sempat belajar lagi. Sementara bahasa kan terus berkembang. Ada beberapa kata yang juga tidak ada isyaratnya. Sehingga harus mencari padanan katanya,” terangnya.

Belum lagi pada saat pertama kali melihat sejumlah tahanan yang dikeluarkan. Rasa takut muncul dalam benaknya.

“Karena tidak terbiasa di hadapan kamera, gugup dan grogi. Biasanya saya datang hanya untuk mendampingi senior. Nah, kemarin itu pertama kali melakukanya sendiri tanpa didampingi senior,” terangnya.

Namun grogi itu hanya sebentar. Rafika yang baru tujuh bulan mengajar di SLB kemudian fokus menerjemahkan keterangan saat pers rilis berlangsung. Dia pun harus konsentrasi penuh.

“Kesulitanya itu ketika yang berbicaranya cepat. Selain itu, ada sejumlah bahasa yang tidak ada isyaratnya. Jadi harus mencari kata yang sama maknanya. Itu pun harus cepat. Kalau tidak, akan tertinggal dengan bahasa yang disampaikan setelahnya,” tuturnya.

Belum lagi ketika menghadapi kata yang tidak populer dalam bahasa isyarat. Misalnya kata milenial, struktur, paradigma, dan lainnya. Para penerjemah bahasa isyarat menurutnya, biasanya kesulitan menerjemahkan kata yang tidak populer.

Bila terpaksa tidak menemukan padanan katanya, untuk mengatasinya biasanya mengeja huruf satu persatu. “Seperti S-T-R-U-K-T-U-R,” ucapnya sembari menerjemahkan dengan bahasa isyarat.

“Pertama ditunjuk itu dadakan. Kurang 15 menit diminta ke Polresta, jadi belum sempat belajar lagi. Sementara bahasa kan terus berkembang. Ada beberapa kata yang juga tidak ada isyaratnya. Sehingga harus mencari padanan katanya,” terangnya.

Belum lagi pada saat pertama kali melihat sejumlah tahanan yang dikeluarkan. Rasa takut muncul dalam benaknya.

“Karena tidak terbiasa di hadapan kamera, gugup dan grogi. Biasanya saya datang hanya untuk mendampingi senior. Nah, kemarin itu pertama kali melakukanya sendiri tanpa didampingi senior,” terangnya.

Namun grogi itu hanya sebentar. Rafika yang baru tujuh bulan mengajar di SLB kemudian fokus menerjemahkan keterangan saat pers rilis berlangsung. Dia pun harus konsentrasi penuh.

“Kesulitanya itu ketika yang berbicaranya cepat. Selain itu, ada sejumlah bahasa yang tidak ada isyaratnya. Jadi harus mencari kata yang sama maknanya. Itu pun harus cepat. Kalau tidak, akan tertinggal dengan bahasa yang disampaikan setelahnya,” tuturnya.

Belum lagi ketika menghadapi kata yang tidak populer dalam bahasa isyarat. Misalnya kata milenial, struktur, paradigma, dan lainnya. Para penerjemah bahasa isyarat menurutnya, biasanya kesulitan menerjemahkan kata yang tidak populer.

Bila terpaksa tidak menemukan padanan katanya, untuk mengatasinya biasanya mengeja huruf satu persatu. “Seperti S-T-R-U-K-T-U-R,” ucapnya sembari menerjemahkan dengan bahasa isyarat.

MOST READ

BERITA TERBARU

/