alexametrics
25.2 C
Probolinggo
Sunday, 26 June 2022

Cerita Guru SLB Sinar Harapan 1 Probolinggo Jadi Pendamping Bahasa Isyarat

Beberapa kali menggelar rilis, Polres Probolinggo Kota (Polresta) kini melibatkan penerjemah bahasa isyarat. Termasuk Pengadilan Negeri Kota Probolinggo dan Pemkot Probolinggo. Para penerjemah ini merupakan guru-guru SLB.

 

RIZKY PUTRA DINASTI, Mayangan, Radar Bromo

Ada beberapa penerjemah bahasa isyarat yang kerap hadir saat Polres Probolinggo Kota (Polresta) menggelar rilis. Mereka semua dari SLB Sinar Harapan 1, Kota Probolinggo. Di antaranya, Rafika Ayu, 23.

Meski terbiasa menggunakan bahasa isyarat saat mengajar, Rafika tetap saja grogi tampil di depan umum. Khawatir keliru menerjemahkan dengan bahasa isyarat.

Terlebih saat pertama dilibatkan, warga Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo itu hadir sendirian. Tidak ditemani seniornya. Hal itu membuarnya grogi, bahkan tegang.

“Sekolah kami memang melakukan MoU pendampingan bahasa isyarat dengan Polresta dan Pengadilan Negeri. Jadi kalau ada pers rilis atau kegiatan lain yang membutuhkan pendampingan, maka sekolah kami dihubungi,” terangnya.

SLB sendiri tidak menunjuk guru yang sama saat pendampingan bahasa isyarat. Siapa yang tidak berhalangan, dialah yang ditunjuk. Biasanya menurut Rafika, rekan seniornya yang ditunjuk. Namun, akhirnya dia ditunjuk untuk kali pertama pada 17 Mei lalu.

Lulusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Negeri Malang itupun sempat takut salah. Apalagi, dia tidak punya kesempatan menyiapkan diri.

Beberapa kali menggelar rilis, Polres Probolinggo Kota (Polresta) kini melibatkan penerjemah bahasa isyarat. Termasuk Pengadilan Negeri Kota Probolinggo dan Pemkot Probolinggo. Para penerjemah ini merupakan guru-guru SLB.

 

RIZKY PUTRA DINASTI, Mayangan, Radar Bromo

Ada beberapa penerjemah bahasa isyarat yang kerap hadir saat Polres Probolinggo Kota (Polresta) menggelar rilis. Mereka semua dari SLB Sinar Harapan 1, Kota Probolinggo. Di antaranya, Rafika Ayu, 23.

Meski terbiasa menggunakan bahasa isyarat saat mengajar, Rafika tetap saja grogi tampil di depan umum. Khawatir keliru menerjemahkan dengan bahasa isyarat.

Terlebih saat pertama dilibatkan, warga Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo itu hadir sendirian. Tidak ditemani seniornya. Hal itu membuarnya grogi, bahkan tegang.

“Sekolah kami memang melakukan MoU pendampingan bahasa isyarat dengan Polresta dan Pengadilan Negeri. Jadi kalau ada pers rilis atau kegiatan lain yang membutuhkan pendampingan, maka sekolah kami dihubungi,” terangnya.

SLB sendiri tidak menunjuk guru yang sama saat pendampingan bahasa isyarat. Siapa yang tidak berhalangan, dialah yang ditunjuk. Biasanya menurut Rafika, rekan seniornya yang ditunjuk. Namun, akhirnya dia ditunjuk untuk kali pertama pada 17 Mei lalu.

Lulusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Negeri Malang itupun sempat takut salah. Apalagi, dia tidak punya kesempatan menyiapkan diri.

MOST READ

BERITA TERBARU

/