alexametrics
24.2 C
Probolinggo
Wednesday, 6 July 2022

Nur Faridatus Sholichah, Guru Honorer yang Juga Pelukis di Berbagai Media

Hingga lulus kuliah tahun 2019, Nur Farida yang menikah pada tahun yang sama kemudian memilih fokus mengurus rumah tangganya. Meski tak jarang, ia meluangkan waktunya untuk menyalurkan bakat dan hobinya melukis.

Namun, cukup lama nganggur di rumah membuatnya tak betah. Ia pun mendaftarkan diri menjadi guru seni dan budaya di SMAN 1 Bangil pada Agustus 2021. Kebetulan, ada kekosongan untuk guru seni dan budaya di sekolah setempat waktu itu.

Sejak itu pula, ia mulai menjadi guru honorer di SMAN 1 Bangil. Saat menjadi guru itulah, ia ingin mengajarkan hal yang berbeda. Melukis di sarana yang tak biasa. Bukan media umum, seperti kanvas.

Selain untuk mengasah kemampuan pribadi, juga untuk menyalurkan keterampilan kepada anak didiknya. Awalnya, ia memanfaatkan talenan untuk melukis. Barang yang bisa dipakai alas saat memotong sayur atau daging di dapur.

Ternyata, cat yang dilukiskan ke talenan meluber. Gara-garanya, cat itu dicampur air. “Sempat gagal juga. Tapi hanya sekali. Gara-garanya, cat warna yang saya pakai dicampur air,” aku  ibu dari Arga tersebut.

Ia pun mencoba ulang. Kali ini menggunakan cat warna tanpa ditambahi air. Hasilnya menggembirakan, karena sesuai dengan yang diharapkan.

Dari situlah, dia lantas tertarik menggunakan media lain untuk melukis. Seperti tampah, kaca, kain, baju, tas, bakiak, pot handuk, hingga tembok.

Hingga lulus kuliah tahun 2019, Nur Farida yang menikah pada tahun yang sama kemudian memilih fokus mengurus rumah tangganya. Meski tak jarang, ia meluangkan waktunya untuk menyalurkan bakat dan hobinya melukis.

Namun, cukup lama nganggur di rumah membuatnya tak betah. Ia pun mendaftarkan diri menjadi guru seni dan budaya di SMAN 1 Bangil pada Agustus 2021. Kebetulan, ada kekosongan untuk guru seni dan budaya di sekolah setempat waktu itu.

Sejak itu pula, ia mulai menjadi guru honorer di SMAN 1 Bangil. Saat menjadi guru itulah, ia ingin mengajarkan hal yang berbeda. Melukis di sarana yang tak biasa. Bukan media umum, seperti kanvas.

Selain untuk mengasah kemampuan pribadi, juga untuk menyalurkan keterampilan kepada anak didiknya. Awalnya, ia memanfaatkan talenan untuk melukis. Barang yang bisa dipakai alas saat memotong sayur atau daging di dapur.

Ternyata, cat yang dilukiskan ke talenan meluber. Gara-garanya, cat itu dicampur air. “Sempat gagal juga. Tapi hanya sekali. Gara-garanya, cat warna yang saya pakai dicampur air,” aku  ibu dari Arga tersebut.

Ia pun mencoba ulang. Kali ini menggunakan cat warna tanpa ditambahi air. Hasilnya menggembirakan, karena sesuai dengan yang diharapkan.

Dari situlah, dia lantas tertarik menggunakan media lain untuk melukis. Seperti tampah, kaca, kain, baju, tas, bakiak, pot handuk, hingga tembok.

MOST READ

BERITA TERBARU

/