Ali Idrus, Penderita Polio yang Sulap Barang Bekas Jadi Miniatur Panggung Orkes

Keterbatasan Ali Idrus dalam beraktivitas lantaran penyakit polio, tak membuatnya patah semangat untuk berkreasi. Berbekal cover lagu New Monata, Idrus berkreasi membuat miniatur panggung orkes. Uniknya, bahan yang dipakai dari bekas sedotan plastik dan kardus.

 ERRI KARTIKA, Bangil

Siapa yang tak kenal dengan New Monata. Salah satu grup orkes dangdut yang cukup dikenal di jalur Pantura termasuk di Pasuruan itu. Video panggungnya juga banyak dijual lewat VCD. Bagi Ali Idrus, 24, warga Desa Raci, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, New Monata memang menjadi hiburan tersendiri.

Dari kecil, ia sering mendengarkan lagu-lagi grup tersebut sejak bernama Monata. Saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung ke rumahnya di Dusun Krajan, Desa Raci, situasinya memang cukup ramai. Ada tulisan Warkop Monata dan belasan pemuda tampak berkumpul sekadar minum kopi dan wifi-an.

“Warkop ini saya yang buka sejak pertengahan tahun lalu. Ya, usaha cari penghasilan lain biar gak mengandalkan warung saja,” terang Idrus sambil mempersilakan wartawan harian ini masuk.

Idrus –sapaan akrabnya – memang harus susah payah untuk berjalan ke dalam rumahnya. Penyakit polio yang dideritanya sejak kecil, membuatnya tak bisa berjalan normal. Katanya, dia hanya sanggup berdiri atau berjalan 5 menit saja. Kalau keluar rumah, ada sepeda motor modifikasi roda tiga yang membantunya untuk bisa jalan-jalan seperti teman lainnya.

Secara akademis, Idrus mengaku memang tak sampai lulus SD. Setelah ayahnya meninggal dunia, Idrus yang saat itu kelas 3 SD harus keluar. Selain tak ada biaya, juga tak ada yang mengantar kalau ke sekolah. “Jadi berhenti sejak kelas 3 SD, setelah itu bantu ibu saya, Khodijah untuk berjualan peracangan,” terangnya.

Sehingga, sejak kecil hanya berdua dengan ibunya, mereka berjuang untuk bisa bertahan hidup dari toko peracangan. Makin dewasa, Idrus merasa harus mencari kreasi lain untuk tambahan hidup. Selain akhirnya membuka warkop dan berjualan makanan ringan seperti gorengan.

Setahun terakhir, Idrus juga berkreasi dengan membuat miniatur panggung orkes. Sebagai pecinta dangdut orkes New Monata, Idrus mengaku paham betul komposisi panggung orkes. “Kalau lihat langsung gak pernah, dari lihat VCD-VCD saya coba-coba buat kreasi dari bahan-bahan seadanya,” terangnya.

Dikatakan untuk tiang-tiang, Idrus memakai sedotan plastik bekas gelas air mineral yang lebih kokoh. Bahan lainnya adalah kardus untuk membuat miniatur alat musik, termasuk kaleng-kaleng dari minuman gelas untuk alat musik drum. Hasil kreasinya cukup detail, mulai dari bentuk gitar, keyboard, sampai sound system di kanan kiri panggung.

Yang menarik, Idrus juga menambahkan lampu kerlap-kerlip termasuk menambahkan speaker kecil 2 inch yang dibalut dengan boks dari kardus yang dicat hitam. Sehingga serupa dengan bentuk asli sound panggung.

“Jadi, kalau dinyalakan bisa pakai musik di hape, jadi ketika lampu juga dinyalakan seperti orkes beneran,” terangnya.

Dengan kesibukannya yang mengelola warkop dan toko peracangan ibunya, Idrus juga tetap meluangkan waktunya untuk berkreasi. Untuk membuat satu miniatur panggung orkes, dibutuhkan waktu 1 bulan.

Idrus mengatakan, memang sempat menjual dan memasarkan online termasuk dibantu temannya. Tapi, ternyata peminatnya cukup tinggi sehingga sampai menolak karena tidak sanggup mengerjakan jika banyak pemesan. “Sampai dilarang juga oleh ibu saya, soalnya takut saya kecapekan kalau sibuk membuat miniatur orkes ini,” terangnya.

Namun, dari kreasinya sudah ada beberapa yang membeli dari Bangil, Pasuruan, termasuk orang Sidoarjo sendiri. Ukuran miniatur panggung sendiri 1,5 meter kali tinggi 1 meter. Untuk harganya dijual dengan harga Rp 1 jutaan.

Idrus membuat miniatur panggung orkes ini adalah semacam apresiasinya terhadap kesukaan menonton orkes. Namun, dengan kondisinya diakui memang tak bisa melihat secara live.

“Dulu pernah New Monata tampil di PIER Rembang dan dekat rumah. Tapi, gak mungkin juga nonton orkes karena kondisi saya. Kalau nonton dangdut kan ramai dan saya gak bisa berdiri lebih dari 5 menit,” terangnya.

Namun, harapannya dari kreasinya ini, bisa menjadi luapan kesukaan dan hobi. Dan berharap orang lain yang mempunyai kesukaan yang sama bisa merasakan ramai dan meriahnya panggung orkes kendati dinikmati di rumah sambil melihat miniatur panggung orkes. (rf)