alexametrics
27.5 C
Probolinggo
Saturday, 28 May 2022

Gus Nawawi Libatkan Santri Berdakwah Melalui Media Sosial

KECANGGIHAN teknologi tak bisa diabaikan. Begitu juga dengan makin membuminya media sosial. Mendapati itu, Gus Muhammad Nawawi, berusaha membentengi santrinya. Namun, juga melibatkan mereka berdakwa melalui media social.

Gus Nawawi lahir dan besar di lingkungan pesantren. Ia merupakan putra ketiga dari Pengasuh Pesantren Miftahul Ulum An Nur, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo, Kiai Nur Khotim Bahar.

Ketika beranjak remaja, Gus Nawawi dikirim ke Pesantren Salafiyah Sladi, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, untuk memperkaya pengetahuannya. Di sana, ia nyantri selama sembilan tahun. Pulang langsung menikah dengan Ning Fasihatul Lisan.

Sejak 2010, Kiai Nur Khotim Bahar memberinya amanat. Pria 39 tahun ini didapuk menjadi kepala Madrasah Aliyah (MA) Miftahul Ulum. Sejumlah gebrakan dilakukan untuk mengembangkan pesantrennya. Termasuk berdakwa menyiarkan Islam dan pesantren.

Ia tetap menekankan santri belajar dan mengkaji kitab-kitab klasik sebagai ruh pesantren salaf. Pengetahuan dari kitab-kitab tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena pesantren juga memiliki pendidikan formal, santri juga diberikan pemahaman tentang teknologi. Termasuk dunia internet. Namun, tetap difilter. Diberikan sesuai kebutuhan. Santri diajarkan dan diberikan kesempatan berselancar di dunia maya. Tetapi, tetap dalam pengawasan para pengurus pesantren.

“Pesantren saat ini berbeda dengan pesantren zaman dulu. Saat ini santri harus visioner. Mereka memiliki pandangan pendidikan yang maju ke depan,” ujarnya.

KECANGGIHAN teknologi tak bisa diabaikan. Begitu juga dengan makin membuminya media sosial. Mendapati itu, Gus Muhammad Nawawi, berusaha membentengi santrinya. Namun, juga melibatkan mereka berdakwa melalui media social.

Gus Nawawi lahir dan besar di lingkungan pesantren. Ia merupakan putra ketiga dari Pengasuh Pesantren Miftahul Ulum An Nur, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo, Kiai Nur Khotim Bahar.

Ketika beranjak remaja, Gus Nawawi dikirim ke Pesantren Salafiyah Sladi, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, untuk memperkaya pengetahuannya. Di sana, ia nyantri selama sembilan tahun. Pulang langsung menikah dengan Ning Fasihatul Lisan.

Sejak 2010, Kiai Nur Khotim Bahar memberinya amanat. Pria 39 tahun ini didapuk menjadi kepala Madrasah Aliyah (MA) Miftahul Ulum. Sejumlah gebrakan dilakukan untuk mengembangkan pesantrennya. Termasuk berdakwa menyiarkan Islam dan pesantren.

Ia tetap menekankan santri belajar dan mengkaji kitab-kitab klasik sebagai ruh pesantren salaf. Pengetahuan dari kitab-kitab tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena pesantren juga memiliki pendidikan formal, santri juga diberikan pemahaman tentang teknologi. Termasuk dunia internet. Namun, tetap difilter. Diberikan sesuai kebutuhan. Santri diajarkan dan diberikan kesempatan berselancar di dunia maya. Tetapi, tetap dalam pengawasan para pengurus pesantren.

“Pesantren saat ini berbeda dengan pesantren zaman dulu. Saat ini santri harus visioner. Mereka memiliki pandangan pendidikan yang maju ke depan,” ujarnya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/