alexametrics
25C
Probolinggo
Saturday, 16 January 2021

Posyandu Berketahanan Iklim Desa Binor Tangani Gizi, hingga UMKM

Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, memiliki wanita-wanita kreatif yang dikenal dengan sebutan Srikandi. Mereka tergabung dalam Posyandu Berketahanan Iklim (Postaklim). Postaklim Desa Binor memiliki sejumlah kegiatan. Di antaranya menanggulangi masalah gizi dan kesehatan lingkungan, juga membentuk UKM.

ARIF MASHUDI, JAMALUDIN, Paiton, Radar Bromo

SEBUAH gapura bertuliskan Kampung Baru berdiri kokoh di sisi utara jalur pantura Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Pemandangan sejuk nan indah itu langsung nenyambut begitu memasuki gapura tersebut. Beragam tanaman di sisi kanan dan kiri jalan melambai-lambai seolah menyapa setiap orang yang melintas.

Tanaman yang didominasi sayuran itu berjajar rapi memanjang di halaman rumah warga, dari gapura hingga ujung utara. Di antaranya ada bayam, sawi, kubis, seledri, tomat, bunga lavender dan berbagai macam tanaman lainnya. Dengan menggunakan media polybag, tanaman itu ada yang diletakkan di tanah, ada pula yang diletakkan di rak khusus.

Semua pemandangan di Desa Binor itu, mampu mengubah image desa pesisir yang gersang dan panas. Desa Binor sendiri merupakan salah satu desa pesisir di Kabupaten Probolinggo. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, Desa Binor berubah menjadi desa yang sejuk dan hijau.

Selain untuk dikonsumsi, tanaman itu dibudidayakan untuk mendukung program kampung berketahanan iklim (Proklim). Hasilnya, pada 2019 Desa Binor berhasil menyabet penghargaan Proklim kategori utama dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI.

Hostiningsih Ketua Postaklim Desa Binor mengatakan, tanaman yang dibudidayakan warga Desa Binor itu tidak hanya bisa ditemui di Kampung Baru, Dusun Krajan. Namun, juga telah dibudidayakan warga di dua dusun lainnya.

“Di sini ada tiga dusun. Yakni Dusun Krajan, Pesisir dan Klompangan. Semua dusun sudah membudidayakan beragam tanaman seperti di Kampung Baru itu. Ada yang ditanam di halaman rumah, ada juga yang memanfaatkan lahan pekarangan,” ujarnya.

KREATIF: Anggota Postaklim Desa Binor melakukan proses pembuatan stik sayur. Di antaranya stik sawi, seledri dan stik bayam. (Jamaludin/Radar Bromo)

Perempuan kelahiran 3 Maret 1977 itu mengungkapkan, tanaman yang dibudidayakan warga itu juga dimanfaatkan oleh Srikandi Desa Binor yang tergabung dalam Postaklim untuk dijadikan sejumlah makanan ringan. Di antaranya stik bayam, stik sawi dan stik seledri.

“Di Postaklim kami ada kegiatan memproduksi stik. Selain bahannya dari KRPL (kawasan rumah pangan lestari) Desa Binor, ada juga yang kami beli dari sayuran yang ditanam warga itu,” katanya.

Stik bayam menurutnya, diberikan pada balita yang tidak mau makan sayur-sayuran. Biasanya diberikan saat kegiatan Posyandu, selain menu PMT lainnya.

Pemenuhan asupan gizi memang menjadi perhatian Pemdes Binor. Apalagi sejak 2017, hingga pertengahan 2019, Desa Binor menjadi salah satu desa locus stunting. Namun, berkat peran Postaklim dalam kegiatan Posyandu, angka stunting terus menurun.

“Pada 2018 angka stunting mencapai 48 persen dan Alhamdulillah terus menurun. Saat ini, jumlah kasus stunting berkisar 14 persen. Karena terus menurun, sejak akhir 2019 desa kami bukan lagi locus stunting,” imbuh perempuan yang juga ketua LPP Posyandu Desa Binor itu.

Hostin -panggilannya mengatakan, saat ini Posyandu Desa Binor menangani 232 balita sasaran yang terbagi dalam tiga pos. Dari jumlah tersebut ada 15 bayi di bawah dua tahun (baduta) yang menjadi fokus pemulihan gizi. Sebab, mereka terindikasi mengalami gizi buruk.

“Untuk memenuhi asupan gizi, kami memiliki program pemulihan gizi,” katanya

Program pemulihan gizi dilaksanakan sejak Juli 2020. Dalam program yang didukung PT PJB UP Paiton itu, 15 baduta diberikan menu PMT beragam selama 10 hari dalam setiap bulannya. Istimewanya lagi, PMT tersebut diantarkan ke rumah sasaran oleh masing-masing kader pendamping.

“Kami berikan gizi seimbang. Di antaranya susu, buah, sayur, telur, daging dan olahan ikan. Program ini sudah berjalan sejak Juli hingga saat ini. Khusus untuk bulan depan, kami akan memberikan PMT full selama 30 hari dan diantar ke rumah sasaran,” katanya.

Program tersebut mendapat respons positif dari warga. Salah satunya Nurul Komariah, ibu dari salah satu baduta yang mendapat program pemulihan gizi. Menurutnya, program tersebut sangat bagus dan mendukung tumbuh kembang anak.

Alhamdulillah, setiap bulan ketika ditimbang di Posyandu, berat badan anak saya selalu naik,” katanya.

Selain masalah pemenuhan asupan gizi bagi Balita, Postaklim Desa Binor juga memiliki kegiatan lainnya di bidang kesehatan. Yakni, kesehatan lingkungan (kesling). Dalam kegiatan ini, Postaklim Desa Binor fokus pada masalah DBD (Demam Berdarah Dengue).

“Tahun 2018, kami membentuk program satu rumah satu kader juru pemantau jentik (Jumantik). Di sini ada 15 RT, sehingga kami juga membentuk satu RT satu kader Jumantik, sebagai koordinator Jumantik di rumah-rumah warga itu,” ujar Hostiningsih.

Menurutnya, pembentukan kader Jumantik itu tidak lepas dari adanya kasus luar biasa (KLB) Demam Berdarah di Desa Binor pada 2013. Dengan dibentuknya kader Jumantik itu, kasus yang terjadi di tahun 2013 itu tidak terulang lagi.

Alhamdulillah hingga sekarang Desa Binor tidak ada kasus DBD. Bahkan, saat ini angka bebas jentik (ABJ) Desa Binor sudah mencapai 98 persen. Selain itu, untuk mengusir nyamuk warga juga banyak yang membudidayakan tanaman lavender di rumahnya,” katanya.

SIAP ANTAR: Kader Pendamping Posyandu Desa Binor mengantarkan menu PMT ke rumah Baduta dalam program pemulihan gizi. (Jamaludin/Radar Bromo)

Tak hanya peduli kesehatan dan lingkungan, kader Postaklim juga diberdayakan dan dilatih untuk memiliki jiwa wirausaha. Sebagai wadah, Postaklim kemudian membentuk UKM, namanya UKM Citra Lestari.

UKM ini memproduksi berbagai macam makanan ringan jenis stik dengan harga Rp 15 ribu per bungkus. Di antaranya stik sawi, stik seledri, hingga stik bayam yang juga diberikan pada balita pada kegiatan Posyandu.

“Saat ini, selain kami pasarkan di wisata Pantai Bohay, stik ini juga menjadi oleh-oleh bagi para tamu yang berkunjung ke PT PJB UP Paiton. Melalui UKM ini, kami juga belajar untuk mandiri melalui wirausaha,” katanya.

Hostin mengungkapkan, Postaklim Desa Binor berdiri pada 2017. Hingga saat ini Postaklim yang merupakan kolaborasi antara kader Posyandu dan TP-PKK Desa Binor itu, memiliki 16 anggota. Belasan anggota itu direkrut dari kader kesehatan (Posyandu), kader PKK, dasawisma dan dari pengurus bank sampah.

“Kami pilih wanita-wanita yang kreatif dan inovatif. Sehingga, mereka bisa melahirkan ide-ide cemerlang untuk mengembangkan kegiatan Postaklim. Bu Kades menyebut mereka itu dengan sebutan srikandi-srikandi desa,” katanya.

Ia mengatakan, embrio Postaklim berawal dari lomba cipta menu berbahan daun kelor dan daun katu pada 2016. Lomba yang digelar PT PJB UP Paiton tersebut diikuti Posyandu se-Kecamatan Paiton. Dalam kegiatan itu, juga dilakukan penyuluhan tentang program kampung berketahanan iklim atau Proklim.

“Ada lima desa yang masuk lima besar. Yakni, Desa Binor, Taman, Pondok Kelor, Randutatah dan Desa Sumberanyar. Lima desa ini, kemudian diberi pelatihan oleh PT PJB UP Paiton. Di antaranya pelatihan pembuatan sirup mengkudu, sinom dan lainnya. Ada juga pelatihan pembuatan kripik bonggol pisang,” kenang Hostin.

Setelah pelatihan itu, pada 2017, Postaklim atau Posyandu Berketahanan Iklim terbentuk. Postaklim ini menjadi bagian dari Proklim atau Kampung Berketahanan Iklim. Desa Binor berkomitmen mengembangkan Postaklim, hingga akhirnya di tahun 2018 di desa setempat berdiri KRPL.

“Kami juga mendapat green house dari PT PJB UP Paiton. Dari situ kemudian kita membagikan bibit sayuran kepada semua warga, termasuk polybag. Satu rumah 10 bibit. Hingga kini warga banyak yang suka menanam sayuran di halaman rumah dan memanfaatkan lahan kosong,” katanya.

Menurutnya, selain memiliki hobi memanfaatkan lahan kosong di rumahnya, kini warga banyak yang mengembangkan jenis tanaman lainnya. Hasilnya, tanaman yang dibudidayakan kian beragam.

“Dari tanaman yang mereka tanam ada yang kita beli. Misalnya seledri, bayam dan sawi yang kami gunakan untuk bahan pembuatan stik itu,” jelasnya.

Hostin mengatakan, kegiatan Postaklim Desa Binor juga sering dijadikan studi banding oleh TP-PKK lainnya. Selain TP-PKK lokal Kabupaten dan Kota Probolinggo, Postaklim Desa Binor juga pernah dikunjungi oleh TP-PKK dari Malang.

“Pada 2018 saya juga pernah menjadi narasumber dalam pelatihan pembuatan stik bayam dan seledri. Pesertanya fatayat dan muslimat NU se-Kabupaten Probolinggo,” ungkapnya.

Untuk menularkan ilmunya, Postaklim Desa Binor tahun 2021 akan membentuk desa binaan. Rencananya ada salah satu desa di Kecamatan Paiton yang akan dibina untuk bidang kesehatan lingkungan. Yakni, terkait pembentukan kader Jumantik. “Arahnya kami ke sana, membentuk desa binaan untuk progran tahun depan,” katanya.

Kepala Puskesmas Paiton dr. Nina Kartika mengatakan, pihaknya sangat mendukung keberadaan Postaklim itu. Sebab, selain ikut andil dalam bidang kesehatan, Postaklim Desa Binor juga memiliki peran dalam mewujudkan lingkungan yang mampu beradaptasi dengan perubahan iklim.

“Mereka itu kegiatannya banyak. Di antaranya, bersih-bersih lingkungan, menanam sayur dengan memanfaatkan lahan kosong dan memelihara ikan. Hasilnya juga dijadikan bahan untuk menu PMT di Posyandu. Jadi sangat bagus sekali,” katanya.

Menurutnya, kegiatan yang dilakukan Postaklim itu menjadi ajang percontohan bagi warga Desa Binor. Salah satu contohnya, melalui Postaklim, kini warga Desa Binor banyak membudidayakan sayur di rumahnya.

“Dalam pembentukan Postaklim ini, ada peran besar dari CSR PT PJB UP Paiton. Sebab, awalnya dari mereka yang melakukan pembinaan ke kader. Seperti pemanfaatan lahan kosong, hingga membentuk kader Jumantik. Dalam hal ini, kami juga ikut memberikan pembinaan,” ujarnya. (hn)

MOST READ

BERITA TERBARU