Petani Bunga Sedap Malam yang Merugi, Dijual Rp 100 Per Batang pun Susah Laku

Momen Ramadan menjelang Lebaran, biasanya menjadi berkah tersendiri bagi petani sedap malam di wilayah Rembang. Pesanan bunga beraroma wangi itu menanjak. Harga yang ditawarkan pun menjulang. Namun, pandemi Covid-19 mengubah segalanya.

————-

Ratusan tangkai bunga sedap malam itu dibeber di tikar. Bunga-bunga itu kemudian disortir untuk menentukan kualitasnya. Hanya bunga yang berkualitas bagus yang diambil. Selanjutnya, bunga-bunga itu pun diikat. Satu ikat, bisa terisi 100 biji.

Bunga-bunga itu pun dikemas agar rapi dan tidak rusak. Usai pengemasan, bunga sedap malam itu pun tinggal dikirim ke pembeli.

“Ini masih nyoba. Saya belum tahu juga, apa bisa dikirim ke Bali,” kata M. Syaifudin Zuhri, 37, warga Desa/Kecamatan Rembang yang merupakan petani dan pelaku usaha bunga sedap malam.

MURAH: Bunga milik petani sedap malam bahkan dijual murah pun tak laku. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Syaifudin mengaku, sejak wabah korona menyerang Indonesia, permintaan bunga sedap malam merosot tajam. Banyak hotel yang tutup, sehingga ia kesulitan untuk menjual barang. Khususnya di wilayah Bali, Jakarta, ataupun Semarang.

Kondisi itu dirasakannya sejak Maret 2020. Keadaan makin parah di bulan-bulan berikutnya. Terlebih di bulan Ramadan seperti sekarang ini.

Padahal, menjelang Lebaran, permintaan bunga sedap malam biasanya menanjak tajam. Sehingga, berpengaruh terhadap harganya yang kemudian menjulang. Namun, kondisi itu tak lagi dirasakan.

Menurut Syaifudin, permintaan bunga sedap malam ketika Ramadan, bisa ribuan batang per harinya. Jumlah itu, hanya untuk pesanan di wilayah Bali. Belum untuk pesanan di kota-kota lain.

Tingginya pesanan itu pula membuat harga bunga sedap malam melambung. Bisa sampai Rp 1 ribu per batangnya. Tentu, hal itu membuat para petani semringah ketika mendekati Lebaran. Mereka bisa memegang uang lebih untuk kebutuhan Lebaran.

Sayangnya, hal itu tak lagi dirasakan. Order bunga sedap malam, anjlok sejak Maret 2020. Ketika April pun, hanya ada pesanan 400 batang, sebanyak tiga kali dalam seminggu. Bahkan, memasuki Ramadan tidak ada pengiriman sama sekali.

“Banyak hotel ditutup. Akhirnya, pesanan berkurang. Bahkan, tidak bisa kirim lantaran tidak ada pesanan. Seperti di bulan Ramadan ini,” sambung pemilik 2 hektare lahan sedap malam itu.

Turunnya order sedap malam, mempengaruhi harga jualnya. Saat ini harga bunga berwarna putih itu hanya dibanderol Rp 100 per batangnya. Bahkan, meski berbandrol murah, pembelinya pun tetap sepi.

Ia pun tidak bisa menjual ke lokalan Pasuruan dengan jumlah besar. Sebab, untuk pasar lokal, tidak mampu menyerap banyak permintaan. Tak jarang, bunga-bunga yang sudah dipotonginya dari lahan, dibagikan kepada rekan-rekannya secara gratis.

“Kadang, karena sudah waktunya dipotong namun tidak bisa dijual, saya bagi-bagikan saja ke teman-teman. Saya antar ke rumahnya, tanpa biaya apapun. Alias saya berikan secara gratis,” bebernya.

Dampak sepi order itu pula, membuatnya terpaksa harus “memangkas” jumlah karyawannya. Semula, ada 20 pekerja yang dimiliknya. Mulai dari pengolah lahan, budi daya, hingga pascapanen. Namun, sekarang hanya ada enam orang pekerja harian yang dimilikinya.

“Kalau dibilang rugi, jelas. Karena biaya produksi selama tujuh bulan dari masa tanam hingga panen, bisa menghabiskan Rp 10 juta. Sementara pendapatannya sekarang, sangat minim,” keluhnya.

Ketua Gapoktan Sedap Malam Rembang H. Abdul Khodir mengutarakan, pandemi korona benar-benar membuat permintaan sedap malam lesu. Pihaknya tak mampu menjual tangkai-tangkai bunga itu lantaran tak adanya permintaan.

Padahal, momen Ramadan khususnya menjelang Lebaran, menjadi masa “panen” petani untuk mendulang pendapatan. Permintaan bunga sedap malam menanjak dari berbagai daerah. Baik Jakarta, Semarang, terlebih lagi di Bali.

Setiap harinya, bisa sampai 40 ribu batang dikirim. Bahkan, ketika menjelang Lebaran, bisa sampai 60 ribu batang. Itu pun hanya untuk pesanan Bali.

“Kalau keseluruhan, pesanan yang datang dari Jakarta hingga Semarang dan Bali, bisa tembus 300 ribu. Selama dua hari hingga tiga hari sekali,” bebernya yang menyebut jumlah itu berasal dari ribuan petani sedap malam di Rembang.

Namun, Ramadan tahun ini benar-benar hancur. Permintaan turun hingga 90 persen. Bahkan, nyaris tidak laku. Harga sedap malam pun melorot. Kalau biasanya bisa sampai Rp 500 hingga Rp 1.000 per batang, sekarang hanya Rp 100 per batang.

Sebenarnya, banyak petani bunga sedap malam yang ingin ganti profesi. Namun, lesunya sektor ekonomi bukan hanya terjadi pada pertanian bunga sedap malam. Tapi, hampir semua sektor usaha.

Lha, kalau mau usaha lain, usaha apa? Apalagi, banyak dari petani yang usianya sudah tidak lagi muda,” ujar dia yang menyebut ada sekitar 5 ribu petani bunga sedap malam di Rembang. (one/fun)