Dulu Penjual Kembang Nyekar Bisa Jual 7 Kresek, Saat Pandemi Hanya Bisa Segini

Setiap menjelang Ramadan dan Idul Fitri, banyak warga Kota Pasuruan yang biasa nyekar atau ziarah ke kubur para leluhurnya. Momentum ini menjadi sebuah peluang bagi sebagian warga yang lain untuk menyediakan bunga. Namun, pandemi Covid-19 membuat penjualan bunga pernak-pernik nyekar semakin sepi.

—————–

Hujan baru saja mengguyur sebagian wilayah Kota Pasuruan. Aroma petrikor masih begitu sarat merasuki indera penciuman, meski sebagian permukaan jalan aspal sudah mengering.

Musrifah beranjak dari tempat duduknya. ia merapikan kembali barang dagangannya yang digelar di atas meja kayu berukuran 1,5 meter dari terpaan rintik-rintik hujan yang tersisa.

Sejumlah kantong plastik transparan berisi kembang aneka rupa berjajar di atas meja. Ada yang berukuran sedang dihargai Rp 5.000. Sedangkan, kembang dengan kantong plastik kecil seharga Rp 2.500.

Hampir setengah jam berlalu setelah hujan mereda, belum ada seorang pun pembeli yang datang. Musrifah tetap duduk di kursi kayu itu. Pandangannya seringkali tertuju ke selatan. Tepat ke arah pintu masuk Tempat Pemakaman Umum (TPU) Purut II, Kota Pasuruan.

Sudah dua hari terakhir ia berjualan kembang untuk kebutuhan orang yang akan nyekar di makam. Selama beberapa tahun berjualan kembang, baru kali ini dagangannya sepi pembeli. Tradisi nyekar sebelum Hari Raya Idul Fitri pada tahun-tahun lalu selalu membuat dagangannya laku keras. “Sekarang sangat sepi, beda jauh dengan tahun kemarin,” ujarnya, kemarin.

Sepinya pembeli kembang yang dijajakan Musrifah tidak hanya sekali ini saja. Melainkan sejak sebelum memasuki Ramadan lalu. Padahal, kala itu suami Musrifah sudah kadung belanja beraneka ragam kembang dengan jumlah banyak.“Kulakannya di Pasar Bangil, saya ndak tahu kalau bakal sepi kayak gini. Jadi, suami saya kulak 5 kresek besar,” ujarnya dengan mimik wajah yang dilanda kantuk.

Tak ayal, dari 5 kantong plastik besar yang ia belanjakan di pasar, hanya terjual separonya. Padahal, jika tahun-tahun sebelumnya, 5 kantong plastik besar sudah habis terjual dalam sehari. Jika menjelang Ramadan atau Lebaran, Musrifah memang berdagang seharian. Sejak pagi hingga petang. “Setelah hari pertama dagangannya ndak habis, besoknya saya kurangi kulakan kembangnya. Supaya ndak sia-sia,” ujar perempuan 48 tahun itu.

Menurutnya, sepinya pembeli kembang yang dijualnya dikarenakan sedikitnya warga yang nyekar ke makam. Karena apalagi kalau bukan dampak dari wabah virus korona. Musrifah juga menyadari kesulitan ekonomi di tengah pandemi. Tetapi, ia juga harus tetap berjualan untuk bisa menyambung hidup.

Yang terpenting bagi Musrifah hanya meyakini bahwa Sang Kuasa akan adil kepada hamba-Nya. Tidak terkecuali dalam urusan rezeki. Sehingga, meski dagangannya sepi pembeli, Musrifah tak berhenti berdagang. Hanya ia mulai mengurangi kembang yang ia kulak di pasar.

“Kalau dulu sebelum hari raya saya kulak 7 kresek bisa habis sehari, sekarang cukup kulak 5 kresek saja. Alhamdulillah kemarin sudah habis semua. Mudah-mudahan hari ini dan besok juga laris,” ujar ibu lima anak itu.

Warga Kelurahan Krapyakrejo, Kecamatan Gadingrejo, itu juga berusaha untuk tak mengeluhkan kondisi yang dialami saat ini. Apalagi, bukan hanya dirinya yang merasakan dampak ekonomi dari wabah yang berasal dari Wuhan, Tiongkok. Melainkan hampir semua orang.

“Saya selalu berusaha bersyukur apapun kondisinya. Meski penghasilan berkurang, tapi saya masih diberi kesehatan oleh Allah. Masih bisa beribadah dan bekerja, daripada orang-orang yang sekarang sedang diuji dengan penyakit korona ini,” ujarnya. (muhamad busthomi/rud)