Lapas IIB Pasuruan Juga Stop Kunjungan untuk Antisipasi Korona, Tapi Sediakan Fasilitas Ini

DIAWASI: Petugas di Lapas Pasuruan memantau warga binaan yang tengah melakukan video call terhadap keluarganya. Fasilitas ini disediakan supaya warga binaan bisa tetap berhubungan dengan keluarganya. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Jam kunjungan narapidana dan tahanan di Lapas IIB Pasuruan dihentikan total. Warga binaan pemasyarakatan (WBP) hanya bisa melepas rindu dengan keluarganya di depan layar kaca.

—————–

Lengang. Begitulah suasana yang terlihat di halaman depan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB Pasuruan. Tidak ada lagi orang datang berkunjung untuk menemui anggota keluarganya yang tengah menjalani hukuman.

Beberapa helai dedaunan yang bergerak terbang tersapu angin kian menambahkan suasana sepi. Namun, tidak demikian suasana yang terjadi di balik pintu berlapis di dalamnya. Puluhan warga binaan pemasyarakatan (WBP) berjejal di aula.

Mereka berjajar saling membelakangi satu sama lain. Membentuk antrean. Memang, tidak ada lagi jam kunjungan. Sejak Kamis (19/3), Lapas memberlakukan ketentuan itu. Suatu kebijakan yang diambil sebagai ikhtiar antisipasi penyebaran virus korona yang kian merebak.

LEPAS RINDU: Dengan video call ini, warga binaan di Lapas Pasuruan tetap bisa berhubungan dan mengabarkan kondisinya. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Praktis, seluruh narapidana maupun tahanan tak bisa lagi bertatap muka dengan keluarga yang biasa mengunjunginya. Sebagai gantinya, WBP tetap bisa melepas rindunya dengan keluarga dari jarak jauh.

“Kami menyediakan fasilitas kunjungan online. WBP bisa menghubungi keluarganya dengan cara video call,” kata Kepala Seksi Pembinaan Narapidana/Anak Didik dan Kegiatan Kerja Lapas IIB Pasuruan Waskito Budi Darmo.

Sehari sebelumnya, pihak Lapas telah mengundang keluarga WBP terkait ketentuan yang bersifat sementara itu. Jam kunjungan ditiadakan mulai Kamis hingga 30 Maret 2020 mendatang.

Sejumlah WBP yang mendapat giliran menghubungi keluarganya tak henti-hentinya tersenyum. Rona semringah terlihat jelas di wajah mereka yang langsung bergegas menuju komputer di dalam aula.

“Ada empat komputer yang tersedia untuk layanan kunjungan online. Semuanya bisa dipakai untuk menghubungi keluarga WBP,” tambah Waskito.

Masing-masing komputer yang terkoneksi dengan aplikasi WhatsApp itu dijaga petugas. WBP yang akan menghubungi keluarganya lebih dulu menyerahkan nomor telepon kepada petugas.

Senyum merekah tak bisa disembunyikan HK, salah seorang WPB. Satu-satunya orang ia hubungi pagi itu ialah ibunya yang tengah bekerja sebagai tenaga kerja wanita di Arab Saudi.

Senang bukan kepalang bagi HK berkesempatan menghubungi ibunya. Betapa tidak, selama menjalani hukuman ia memang tak lagi leluasa bertatap muka dengan sang ibu. Sebab, layanan warung telepon (wartel) di Lapas hanya sebatas telepon konvensional.

“Senang sekali bisa video call sama Umik. Kangen sudah lama tidak ketemu,” ujarnya.

Pria berkepala plontos itu sempat menjelaskan secara singkat kepada sang ibu yang tampaknya keheranan mendapat video call dari anaknya yang tengah ditahan. “Fasilitas dari Lapas, Mik,” jawabnya.

Di sudut yang lain, RP tampak bersenda gurau dengan istrinya melalui layar kaca komputer usai bertegur sapa menanyakan kabar. Sesekali RP tak kuasa menahan tawa mendengar berbagai cerita sang istri. Mereka hanyut dalam kerinduan yang terbentang jarak.

Di hari pertama kunjungan online, sedikitnya ada 24 WBP yang menghubungi keluarganya. Petugas membatasi layanan video call selama dua menit. Lebih sebentar ketimbang kunjungan normal. Di mana WBP bisa bertatap muka dengan keluarganya selama 15 menit.

Pembatasan itu dilakukan supaya semua WBP mendapat kesempatan menghubungi keluarganya. Sebab, WBP harus mengantre untuk bisa mendapat giliran menghubungi keluarganya. “Kunjungan online ini berlaku setiap hari mulai pukul 08.30 sampai 11.00. Kecuali hari Jumat, Minggu, dan hari libur nasional ditiadakan,” pungkas Waskito. (tom/hn/fun)