alexametrics
27 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Ismail Pandji, Eks Birokrat yang Aktif di Sosial-Kemanusiaan

Usia Ismail Pandji sudah 71. Dia adalah eks birokrat yang pernah menjabat beberapa posisi penting dan mengakhiri kariernya sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Probolinggo. Usai pensiun, dia aktif di bidang Sosial-Kemanusiaan dan Pendidikan.

—————–

LEPAS dari masa pengabdian, Ismail Panji memiliki banyak waktu luang. Dia sudah terbiasa dengan padatnya kegiataan saat masih aktif berdinas. Alhasil, pria asal Bangkalan, Madura ini merasa tidak nyaman. Oleh karena itu dirinya mencoba mencari kesibukan lain untuk memanfaatkan waktu yang ada.

Dia lalu memutuskan aktif terjun pada dunia sosial-kemanusiaan yang pernah digelutinya saat masih berdinas. “Saya pensiun tahun 2006. Setelah itu banyak waktu luang, sayang sekali jika tidak dimanfaatkan. Mumpung masih diberikan kesehatan dan kemampuan, saya ikut serta dalam kegiatan sosial-kemanusiaan,” ujarnya.

Dirinya lalu tergerak untuk bergabung di Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Probolinggo. Di KPA, dia bertugas untuk merumuskan kebijakan, strategi dan langkah-langkah yang diperlukan dalam rangka penanggulangan penyakit mematikan tersebut.

Sering melakukan interaksi di lapangan, membuat dirinya lebih peka pada kehidupan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Dia tergerak untuk melakukan motivasi sekaligus pendampingan. Sebab bukan hanya fisik yang mengalami penurunan, tetapi juga psikis dan kehidupan sosialnya turut terpengaruh.

AKTIF: Kegiatan Ismail Pandji sekarang di Dunia Sosial-Kemanusiaan dan Pendidikan. (Foto: Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)

“Awal bergabung tahun 2008 bergabung hingga kini masih aktif. Hal terberat saat bergabung dalam KPA adalah memperbaiki stigma masyarakat terhadap ODHA. Sampai saat ini terus kami sosialisasikan agar mereka bisa hidup layaknya warga pada umumnya,” katanya.

Ismail (sapaan akrabnya), juga aktif di Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Probolinggo dan dipercaya sebagai wakil ketua bidang pelayanan. Organisasi ini menjadikan dirinya lebih peka terhadap kehidupan sosial-kemanusiaan. Melalui organisasi ini dirinya pernah ikut berperan serta dalam beberapa kegiatan. Salah satunya adalah kegiatan operasi katarak secara gratis bagi warga tidak mampu.

“Arti pentingnya kehidupan semakin terasah saat bergabung di PMI, berinteraksi dengan orang yang memiliki penyakit namun tak mampu secara ekonomi. Ini kami fasilitasi, seperti operasi katarak yang dilakukan rutin tiap tahun 2017. Tahun ini ditunda karena pandemi,” katanya.

Dirinya berkeinginan untuk tetap aktif dalam kegiatan yang saat ini digelutinya. Dengan turut andil dalam kegiatan, menjadikan dirinya merasa lebih sehat. Tidak hanya itu dirinya juga berupaya menjadi orang yang bermanfaat untuk lainnya.

“Saya sudah sepuh, sudah selesai masa untuk cari materi. Saat ini waktunya berbakti. Selagi diberikan kesehatan, kegiatan ini akan saya geluti,” pungkasnya.

 

Transfer Ilmu-Pengalaman

Bidang Pendidikan turut menjadi perhatian Ismail Pandji. Dengan kemampun yang dimiliki menjadikannya salah satu Dosen Tidak Tetap di salah satu Perguruan Tinggi swasta di Kabupaten Probolinggo. Bahkan profesi ini digelutinya sebelum dirinya pensiun. Dengan mengajar saat dirinya memiliki waktu luang yang tidak mengganggu aktivitas utamanya sebagai ASN.

“Tiga tahun sebelum pensiun, dapat tawaran untuk jadi dosen. Ini menjadi tantangan bagi saya untuk lebih mengasah kemampuan sekaligus berbagi pengalaman, akhirnya saya bersedia,” katanya.

Terjunnya dalam dunia pendidikan membuatnya lebih rajin membaca buku. Utamanya buku yang berkaitan dengan mata kuliah yang ia pegang. Tak tanggung-tanggung dirinya pernah mengajar lebih dari 5 mata kuliah di Fakultas Ilmu Sosial Politik.

“Secara pengalaman saya sudah punya dasarnya. Hanya perlu mengasah teorinya saja. Saat mengajar pun. Selain mengajarkan teori saya juga menjelaskan penerapannya di lapangan seperti apa,” ucapnya.

Setelah masuk masa pensiun kemudian dirinya pun menjadi lebih fokus untuk mengajar. Waktu senggangnya kemudian dimanfaatkan untuk membaca buku untuk menimba ilmu yang belum diketahuinya. Tidak hanya membaca buku, dirinya pun sering berdiskusi dengan dosen yang sudah lama mengajar. Hal ini dilakukan untuk mengetahui teknik mengajar dan mematangkan pengetahuan mata kuliah yang diajarkannya.

Menjadi tenaga pengajar memberikan pengetahuan baru baginya. Karakter mahasiswa dan perlakuan yang harus berikan menjadi fokus saat mengajar. Adanya mahasiswa yang kritis pun membuatnya terpacu untuk belajar dan menggali pengetahuan lebih dalam. Sebab karakter mahasiswa seperti ini tidak mudah puas.

Namun sayangnya kegiatan mengajar yang digelutinya kini sudah ditinggalkan. Pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya telah diberikan kepada mahasiswa yang pernah diajarkannya. Dan saat ini hanya fokus pada organisasi sosial-kemanusiaan.

“Sudah saatnya regenerasi, sejak Februari lalu sudah tidak mengajar lagi. Meskipun saya tidak mengajar, bukan berarti kepedulian menjadi berkurang. Tetap akan saya lakukan namun pada jalur yang berbeda,” ujar Ismail. (ar/fun)

Usia Ismail Pandji sudah 71. Dia adalah eks birokrat yang pernah menjabat beberapa posisi penting dan mengakhiri kariernya sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Probolinggo. Usai pensiun, dia aktif di bidang Sosial-Kemanusiaan dan Pendidikan.

—————–

LEPAS dari masa pengabdian, Ismail Panji memiliki banyak waktu luang. Dia sudah terbiasa dengan padatnya kegiataan saat masih aktif berdinas. Alhasil, pria asal Bangkalan, Madura ini merasa tidak nyaman. Oleh karena itu dirinya mencoba mencari kesibukan lain untuk memanfaatkan waktu yang ada.

Dia lalu memutuskan aktif terjun pada dunia sosial-kemanusiaan yang pernah digelutinya saat masih berdinas. “Saya pensiun tahun 2006. Setelah itu banyak waktu luang, sayang sekali jika tidak dimanfaatkan. Mumpung masih diberikan kesehatan dan kemampuan, saya ikut serta dalam kegiatan sosial-kemanusiaan,” ujarnya.

Dirinya lalu tergerak untuk bergabung di Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Probolinggo. Di KPA, dia bertugas untuk merumuskan kebijakan, strategi dan langkah-langkah yang diperlukan dalam rangka penanggulangan penyakit mematikan tersebut.

Sering melakukan interaksi di lapangan, membuat dirinya lebih peka pada kehidupan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Dia tergerak untuk melakukan motivasi sekaligus pendampingan. Sebab bukan hanya fisik yang mengalami penurunan, tetapi juga psikis dan kehidupan sosialnya turut terpengaruh.

AKTIF: Kegiatan Ismail Pandji sekarang di Dunia Sosial-Kemanusiaan dan Pendidikan. (Foto: Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)

“Awal bergabung tahun 2008 bergabung hingga kini masih aktif. Hal terberat saat bergabung dalam KPA adalah memperbaiki stigma masyarakat terhadap ODHA. Sampai saat ini terus kami sosialisasikan agar mereka bisa hidup layaknya warga pada umumnya,” katanya.

Ismail (sapaan akrabnya), juga aktif di Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Probolinggo dan dipercaya sebagai wakil ketua bidang pelayanan. Organisasi ini menjadikan dirinya lebih peka terhadap kehidupan sosial-kemanusiaan. Melalui organisasi ini dirinya pernah ikut berperan serta dalam beberapa kegiatan. Salah satunya adalah kegiatan operasi katarak secara gratis bagi warga tidak mampu.

“Arti pentingnya kehidupan semakin terasah saat bergabung di PMI, berinteraksi dengan orang yang memiliki penyakit namun tak mampu secara ekonomi. Ini kami fasilitasi, seperti operasi katarak yang dilakukan rutin tiap tahun 2017. Tahun ini ditunda karena pandemi,” katanya.

Dirinya berkeinginan untuk tetap aktif dalam kegiatan yang saat ini digelutinya. Dengan turut andil dalam kegiatan, menjadikan dirinya merasa lebih sehat. Tidak hanya itu dirinya juga berupaya menjadi orang yang bermanfaat untuk lainnya.

“Saya sudah sepuh, sudah selesai masa untuk cari materi. Saat ini waktunya berbakti. Selagi diberikan kesehatan, kegiatan ini akan saya geluti,” pungkasnya.

 

Transfer Ilmu-Pengalaman

Bidang Pendidikan turut menjadi perhatian Ismail Pandji. Dengan kemampun yang dimiliki menjadikannya salah satu Dosen Tidak Tetap di salah satu Perguruan Tinggi swasta di Kabupaten Probolinggo. Bahkan profesi ini digelutinya sebelum dirinya pensiun. Dengan mengajar saat dirinya memiliki waktu luang yang tidak mengganggu aktivitas utamanya sebagai ASN.

“Tiga tahun sebelum pensiun, dapat tawaran untuk jadi dosen. Ini menjadi tantangan bagi saya untuk lebih mengasah kemampuan sekaligus berbagi pengalaman, akhirnya saya bersedia,” katanya.

Terjunnya dalam dunia pendidikan membuatnya lebih rajin membaca buku. Utamanya buku yang berkaitan dengan mata kuliah yang ia pegang. Tak tanggung-tanggung dirinya pernah mengajar lebih dari 5 mata kuliah di Fakultas Ilmu Sosial Politik.

“Secara pengalaman saya sudah punya dasarnya. Hanya perlu mengasah teorinya saja. Saat mengajar pun. Selain mengajarkan teori saya juga menjelaskan penerapannya di lapangan seperti apa,” ucapnya.

Setelah masuk masa pensiun kemudian dirinya pun menjadi lebih fokus untuk mengajar. Waktu senggangnya kemudian dimanfaatkan untuk membaca buku untuk menimba ilmu yang belum diketahuinya. Tidak hanya membaca buku, dirinya pun sering berdiskusi dengan dosen yang sudah lama mengajar. Hal ini dilakukan untuk mengetahui teknik mengajar dan mematangkan pengetahuan mata kuliah yang diajarkannya.

Menjadi tenaga pengajar memberikan pengetahuan baru baginya. Karakter mahasiswa dan perlakuan yang harus berikan menjadi fokus saat mengajar. Adanya mahasiswa yang kritis pun membuatnya terpacu untuk belajar dan menggali pengetahuan lebih dalam. Sebab karakter mahasiswa seperti ini tidak mudah puas.

Namun sayangnya kegiatan mengajar yang digelutinya kini sudah ditinggalkan. Pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya telah diberikan kepada mahasiswa yang pernah diajarkannya. Dan saat ini hanya fokus pada organisasi sosial-kemanusiaan.

“Sudah saatnya regenerasi, sejak Februari lalu sudah tidak mengajar lagi. Meskipun saya tidak mengajar, bukan berarti kepedulian menjadi berkurang. Tetap akan saya lakukan namun pada jalur yang berbeda,” ujar Ismail. (ar/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/