alexametrics
31.9 C
Probolinggo
Thursday, 29 July 2021

Suami Meninggal saat Tunggu Keberangkatan Haji, Bakal Ditemani Anak

Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Namun, takdir Allah selalu yang terbaik. Keyakinan itu membuat Rosidah, 54, legawa walau akhirnya tak bisa menjadi tamu Allah bersama suaminya. Suaminya meninggal pada 2020 saat seharusnya mereka berangkat berhaji.

———–

PADA 2011, Muhammad Sugeng dan Rosidah memutuskan mendaftar haji. Sembilan tahun kemudian atau pada 2020, warga RT 4/RW I, Dusun Lumbang, Desa Sukokerto, Pajarakan, itu seharusnya berangkat ke tanah suci.

Bahagia tentu saja. Sebab, mereka bisa berhaji di usia yang tidak terlalu lanjut. Saat itu, Rosidah berusia 53 tahun. Sementara suaminya yang purnawirawan Polri, berusia 61 tahun.

Namun, manusia hanya bisa berdoa dan berencana. Allah lah pemilik semua ketetapan. Pandemi Covid-19 membuat pemerintah membatalkan pemberangkatan ibadah haji pada 2020. Keduanya pun gagal berangkat. Tahun 2021 kondisinya sama.

Rosidah dan suami legawa sebenarnya, sembari berharap mereka bisa berangkat tahun depan. Sebab, bukan hanya mereka calon jamaah haji (CJH) yang gagal berangkat saat itu. Melainkan seluruh CJH di Indonesia.

Lagipula, suaminya dalam kondisi sakit saat itu. Rosidah pun berniat memaksimalkan pengobatan suaminya agar bisa berangkat bersama pada 2021.

Namun, kesabaran Rosidah kembali diuji di tahun itu. Pada Oktober 2020, suaminya meninggal karena sakit yang dideritanya. Almarhum yang terakhir bertugas di Polsek Krejengan, kemudian pensiun pada 2017 itu memang punya riwayat sakit sejak 2017.

“Sekali lagi, kita hanya bisa merencanakan. Takdirnya seperti apa? kembalikan kepada Allah,” ujarnya saat ditemui di rumahnya.

Sebelum meninggal, Sugeng berpesan pada istrinya untuk mewariskan porsi haji atas nama dirinya pada anak bungsu mereka. Yaitu, Toni Abiyu Daffa, 15.

“Aku memang sudah tidak bisa, Bu. Aku sudah capek. Sudah berikan kepada Toni saja (hajinya, Red). Begitu pesan bapak waktu itu,” ujarnya terbata-bata menirukan ucapan suaminya kala itu.

Memang dari ketiga anaknya, hanya anak bungsunya yang belum berhaji. Anak yang pertama sudah pernah berhaji. Dan anak kedua sudah mendaftar haji.

“Saya sempat berduka. Tapi kemudian saya berpikir, masa harus berduka terus. Saat itulah saya langsung jalankan pesan terakhir almarhum. Saya ajukan pelimpahan haji almarhum pada anak saya. Alhamdulillah tidak lama prosesnya,” ujar ibu tiga anak itu.

Rosidah sendiri sempat berharap, dia dan suami berangkat berhaji dengan dilepas ketiga anak mereka tahun ini. Sebab, tahun lalu anaknya masih tinggal di Jepang dan berencana pulang tahun 2021.

“Semua rahasia Allah. Alhamdulillah, anak pertama saya tahun ini sudah pulang dari Jepang. Sekarang ada di Jakarta. Namun, suami meninggal,” ujarnya.

Bagi Rosida kini, duka hanyalah salah satu perjalanan hidup. Saat keberangkatan tiba, ia telah menyiapkan badal haji untuk beberapa keluarganya.

“Termasuk orang tua, mertua, dan suami. Semua biaya sudah saya urus,” ujarnya tersenyum. (agus faiz musleh/hn)

Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Namun, takdir Allah selalu yang terbaik. Keyakinan itu membuat Rosidah, 54, legawa walau akhirnya tak bisa menjadi tamu Allah bersama suaminya. Suaminya meninggal pada 2020 saat seharusnya mereka berangkat berhaji.

———–

PADA 2011, Muhammad Sugeng dan Rosidah memutuskan mendaftar haji. Sembilan tahun kemudian atau pada 2020, warga RT 4/RW I, Dusun Lumbang, Desa Sukokerto, Pajarakan, itu seharusnya berangkat ke tanah suci.

Bahagia tentu saja. Sebab, mereka bisa berhaji di usia yang tidak terlalu lanjut. Saat itu, Rosidah berusia 53 tahun. Sementara suaminya yang purnawirawan Polri, berusia 61 tahun.

Namun, manusia hanya bisa berdoa dan berencana. Allah lah pemilik semua ketetapan. Pandemi Covid-19 membuat pemerintah membatalkan pemberangkatan ibadah haji pada 2020. Keduanya pun gagal berangkat. Tahun 2021 kondisinya sama.

Rosidah dan suami legawa sebenarnya, sembari berharap mereka bisa berangkat tahun depan. Sebab, bukan hanya mereka calon jamaah haji (CJH) yang gagal berangkat saat itu. Melainkan seluruh CJH di Indonesia.

Lagipula, suaminya dalam kondisi sakit saat itu. Rosidah pun berniat memaksimalkan pengobatan suaminya agar bisa berangkat bersama pada 2021.

Namun, kesabaran Rosidah kembali diuji di tahun itu. Pada Oktober 2020, suaminya meninggal karena sakit yang dideritanya. Almarhum yang terakhir bertugas di Polsek Krejengan, kemudian pensiun pada 2017 itu memang punya riwayat sakit sejak 2017.

“Sekali lagi, kita hanya bisa merencanakan. Takdirnya seperti apa? kembalikan kepada Allah,” ujarnya saat ditemui di rumahnya.

Sebelum meninggal, Sugeng berpesan pada istrinya untuk mewariskan porsi haji atas nama dirinya pada anak bungsu mereka. Yaitu, Toni Abiyu Daffa, 15.

“Aku memang sudah tidak bisa, Bu. Aku sudah capek. Sudah berikan kepada Toni saja (hajinya, Red). Begitu pesan bapak waktu itu,” ujarnya terbata-bata menirukan ucapan suaminya kala itu.

Memang dari ketiga anaknya, hanya anak bungsunya yang belum berhaji. Anak yang pertama sudah pernah berhaji. Dan anak kedua sudah mendaftar haji.

“Saya sempat berduka. Tapi kemudian saya berpikir, masa harus berduka terus. Saat itulah saya langsung jalankan pesan terakhir almarhum. Saya ajukan pelimpahan haji almarhum pada anak saya. Alhamdulillah tidak lama prosesnya,” ujar ibu tiga anak itu.

Rosidah sendiri sempat berharap, dia dan suami berangkat berhaji dengan dilepas ketiga anak mereka tahun ini. Sebab, tahun lalu anaknya masih tinggal di Jepang dan berencana pulang tahun 2021.

“Semua rahasia Allah. Alhamdulillah, anak pertama saya tahun ini sudah pulang dari Jepang. Sekarang ada di Jakarta. Namun, suami meninggal,” ujarnya.

Bagi Rosida kini, duka hanyalah salah satu perjalanan hidup. Saat keberangkatan tiba, ia telah menyiapkan badal haji untuk beberapa keluarganya.

“Termasuk orang tua, mertua, dan suami. Semua biaya sudah saya urus,” ujarnya tersenyum. (agus faiz musleh/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU