alexametrics
31.9 C
Probolinggo
Thursday, 29 July 2021

Cerita Sapi 1,2 Ton Warga Sukapura Dibeli Jadi Kurban Presiden Jokowi

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) berkurban sejumlah sapi dengan ukuran superbesar pada Idul Adha kali ini. Salah satunya, sapi jenis Limosin seberat 1,240 ton yang dibeli dari Alif Dheo Hawirhanda, Warga Desa/ Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

ARIF MASHUDI, Sukapura, Radar Bromo

DHEO tak pernah menduga. Sapi yang ia rawat bisa dibeli untuk kurban orang nomor satu di Indonesia. Kepada Jawa Pos Radar Bromo, ia menceritakan pengalamannya itu.

Dheo lulus kuliah pada 2018. Sejak saat itu, ia memutuskan bekerja di sektor wisata di kampung halamannya. Meskipun, pekerjaan itu tidak sejalan dengan ilmu yang dipilihnya saat kuliah. Yaitu, D-3 Kesehatan Hewan Universitas Airlangga Surabaya.

Namun, toh pekerjaan itu tidak bertahan lama. Sejak pandemi Covid-19 pada awal 2020, Dheo (panggilannya) pun banting setir. Aktivitas di sektor wisata dia tinggalkan, karena kondisi wisata yang sepi.

Anak pertama dari tiga bersaudara itu lantas fokus menjadi peternak sapi. Dengan ilmu yang diperoleh semasa kuliah, dia berharap dapat betenak dengan hasil maksimal.

Dheo pun serius mewujudkan tekadnya itu. Pada September 2020, seorang temannya menawari seekor sapi jenis limusin. Harganya lebih murah daripada harga di pasaran. Sapi itu dijual lebih murah, karena pernah jatuh di kandang. Sehingga, kakinya bengkak.

Dengan ilmu yang didapat di bangku kuliah, Dheo yakin bisa mengobati kaki sapi yang bengkak. Maka, dia pun berani menerima tawaran temannya. Membeli sapi tersebut.

Dibutuhkan waktu sekitar dua minggu bagi Dheo untuk memulihkan kaki sapi yang bengkak. Sementara untuk beradaptasi, butuh waktu lebih lama. Sekitar satu bulan, sapi limusin itu sudah bisa beradaptasi dengan kandang barunya. Dheo pun makin fokus memelihara sapi tersebut dengan manajemen yang dimiliki.

”Waktu awal saya beli, sapi itu beratnya sekitar 700 kg. Tapi, kondisinya sakit, karena habis terjatuh,” katanya.

Menurutnya, ada dua hal yang paling berpengaruh dalam memelihara sapi. Yaitu, manajemen kandang dan manajemen pakan.

Sangat penting untuk menjaga kandang sapi selalu bersih. Tidak boleh ada genangan. Sebab, kebersihan kandang sangat menentukan kondisi kesehatan sapi.

Dheo pun membuat kandang dengan lantai beton (plester). Lalu, dilapisi karet. Lantai dibuat agak miring agar air selalu mengalir ke saluran. Sehingga, tidak ada genangan air dan kondisi lantai selalu kering.

Tidak hanya kandang yang harus bersih. Sapi pun harus selalu bersih. Karena itu, dia memandikan sapi tiap pagi.

Saat kandang bersih dan sapi bersih, lalat pun tak ada yang datang. Sebab, lalat sangat memengaruhi kesehatan hewan ternak. Bahkan, lalat biasa menghisap darah hewan ternak. Sehingga, hewan ternak yang banyak dihinggapi lalat sulit tumbuh besar.

”Manajemen pakan penting, setelah manajemen kandang. Saya memberi pakan sapi dua kali dalam sehari semalam. Yaitu, pukul 7 pagi dan 7 malam,” terangnya.

Jenis pakan sapi pun sedikit berbeda dengan ternak lainnya. Dheo menggunakan kosentrat dan hijau-hijauan. Untuk pakan kosentrat, tiap hari dia harus mengeluarkan uang sekitar Rp 30 ribu. Selain itu, sapi juga rutin diberi suplemen atau vitamin.

Dengan cara seperti itu, sapi miliknya pun berkembang pesat. Berat badannya naik dengan cepat. Dalam waktu 10 bulan saja, bertambah sekitar 500 kilogram.

”Alhamdulillah dengan manajemen kandang dan manajemen pakan yang tepat, pertumbuhan sapi sangat pesat. Tiap hari, berat badan sapi bertambah 1,8 kilogram dalam kondisi sehat dan enak makan,” terangnya.

Dheo menceritakan, setelah hari raya Idul Fitri 2021, berat sapi ternaknya 1 ton lebih. Saat itulah, ada petugas dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Probolinggo yang datang ke rumahnya.

Petugas melihat sapi miliknya dan menilai sapi itu memenuhi syarat untuk diajukan jadi sapi kurban Presiden Jokowi. Syarat utamanya yaitu, berat sapi 1 ton ke atas. Kemudian, sapi dalam keadaan sehat dan bersih.

Awalnya, Dheo menanggapi biasa informasi itu. Lalu, dua minggu sebelum hari raya Idul Adha, datang lagi petugas ke kandangnya untuk melihat sapi miliknya. Bahkan, kali ini disertai petugas dari Pemprov Jatim.

Saat itu, berat sapi ternaknya sekitar 1,240 ton, tinggi 165 sentimeter, dan panjang 2 meter. Usianya 3,5 tahun.

Namun, petugas yang datang tidak langsung memutuskan apakah sapinya dipilih jadi sapi kurban Presiden Jokowi atau tidak. Saat itu, petugas harus melihat sapi di daerah lain yang juga diajukan jadi sapi kurban presiden. Seperti di Tuban. Sampai akhirnya, sapi milik Dheo yang terpilih. Sapi itu dibeli dengan harga Rp 100 juta.

“Akhirnya Alhamdulillah, sapi saya yang terpilih dan dinilai paling layak untuk jadi hewan kurban Presiden Jokowi,” tuturnya.

Sapi itu dibawa ke masjid Agung Al Akbar Surabaya. Untuk diserahkan ke takmir masjid Al Akbar.

Dheo sendiri tidak pernah berpikir, sapi ternaknya terpilih jadi hewan kurban Presiden Jokowi. Sebab, awalnya Dheo hanya fokus beternak sapi untuk diikutkan kontes ternak sapi.

Sapi yang juara biasanya dibeli presiden atau perorangan dengan harga tinggi. Sapi miliknya pada akhirnya memang dibeli presiden. Namun, bukan melalui kontes.

”Alhamdulillah, sapi ternak saya yang terpilih untuk jadi hewan kurban Pak Presiden,” katanya bangga.

Kini, Dheo pun berniat kembali mengembangkan usaha ternak sapinya. Dirinya bakal ternak sapi berbagai jenis dan akan dikembangkan untuk kontes.

”Uang hasil penjualan sapi itu akan saya gunakan untuk kebutuhan mengembangkan usaha ternak sapi,” ujarnya. (hn/mie)

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) berkurban sejumlah sapi dengan ukuran superbesar pada Idul Adha kali ini. Salah satunya, sapi jenis Limosin seberat 1,240 ton yang dibeli dari Alif Dheo Hawirhanda, Warga Desa/ Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

ARIF MASHUDI, Sukapura, Radar Bromo

DHEO tak pernah menduga. Sapi yang ia rawat bisa dibeli untuk kurban orang nomor satu di Indonesia. Kepada Jawa Pos Radar Bromo, ia menceritakan pengalamannya itu.

Dheo lulus kuliah pada 2018. Sejak saat itu, ia memutuskan bekerja di sektor wisata di kampung halamannya. Meskipun, pekerjaan itu tidak sejalan dengan ilmu yang dipilihnya saat kuliah. Yaitu, D-3 Kesehatan Hewan Universitas Airlangga Surabaya.

Namun, toh pekerjaan itu tidak bertahan lama. Sejak pandemi Covid-19 pada awal 2020, Dheo (panggilannya) pun banting setir. Aktivitas di sektor wisata dia tinggalkan, karena kondisi wisata yang sepi.

Anak pertama dari tiga bersaudara itu lantas fokus menjadi peternak sapi. Dengan ilmu yang diperoleh semasa kuliah, dia berharap dapat betenak dengan hasil maksimal.

Dheo pun serius mewujudkan tekadnya itu. Pada September 2020, seorang temannya menawari seekor sapi jenis limusin. Harganya lebih murah daripada harga di pasaran. Sapi itu dijual lebih murah, karena pernah jatuh di kandang. Sehingga, kakinya bengkak.

Dengan ilmu yang didapat di bangku kuliah, Dheo yakin bisa mengobati kaki sapi yang bengkak. Maka, dia pun berani menerima tawaran temannya. Membeli sapi tersebut.

Dibutuhkan waktu sekitar dua minggu bagi Dheo untuk memulihkan kaki sapi yang bengkak. Sementara untuk beradaptasi, butuh waktu lebih lama. Sekitar satu bulan, sapi limusin itu sudah bisa beradaptasi dengan kandang barunya. Dheo pun makin fokus memelihara sapi tersebut dengan manajemen yang dimiliki.

”Waktu awal saya beli, sapi itu beratnya sekitar 700 kg. Tapi, kondisinya sakit, karena habis terjatuh,” katanya.

Menurutnya, ada dua hal yang paling berpengaruh dalam memelihara sapi. Yaitu, manajemen kandang dan manajemen pakan.

Sangat penting untuk menjaga kandang sapi selalu bersih. Tidak boleh ada genangan. Sebab, kebersihan kandang sangat menentukan kondisi kesehatan sapi.

Dheo pun membuat kandang dengan lantai beton (plester). Lalu, dilapisi karet. Lantai dibuat agak miring agar air selalu mengalir ke saluran. Sehingga, tidak ada genangan air dan kondisi lantai selalu kering.

Tidak hanya kandang yang harus bersih. Sapi pun harus selalu bersih. Karena itu, dia memandikan sapi tiap pagi.

Saat kandang bersih dan sapi bersih, lalat pun tak ada yang datang. Sebab, lalat sangat memengaruhi kesehatan hewan ternak. Bahkan, lalat biasa menghisap darah hewan ternak. Sehingga, hewan ternak yang banyak dihinggapi lalat sulit tumbuh besar.

”Manajemen pakan penting, setelah manajemen kandang. Saya memberi pakan sapi dua kali dalam sehari semalam. Yaitu, pukul 7 pagi dan 7 malam,” terangnya.

Jenis pakan sapi pun sedikit berbeda dengan ternak lainnya. Dheo menggunakan kosentrat dan hijau-hijauan. Untuk pakan kosentrat, tiap hari dia harus mengeluarkan uang sekitar Rp 30 ribu. Selain itu, sapi juga rutin diberi suplemen atau vitamin.

Dengan cara seperti itu, sapi miliknya pun berkembang pesat. Berat badannya naik dengan cepat. Dalam waktu 10 bulan saja, bertambah sekitar 500 kilogram.

”Alhamdulillah dengan manajemen kandang dan manajemen pakan yang tepat, pertumbuhan sapi sangat pesat. Tiap hari, berat badan sapi bertambah 1,8 kilogram dalam kondisi sehat dan enak makan,” terangnya.

Dheo menceritakan, setelah hari raya Idul Fitri 2021, berat sapi ternaknya 1 ton lebih. Saat itulah, ada petugas dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Probolinggo yang datang ke rumahnya.

Petugas melihat sapi miliknya dan menilai sapi itu memenuhi syarat untuk diajukan jadi sapi kurban Presiden Jokowi. Syarat utamanya yaitu, berat sapi 1 ton ke atas. Kemudian, sapi dalam keadaan sehat dan bersih.

Awalnya, Dheo menanggapi biasa informasi itu. Lalu, dua minggu sebelum hari raya Idul Adha, datang lagi petugas ke kandangnya untuk melihat sapi miliknya. Bahkan, kali ini disertai petugas dari Pemprov Jatim.

Saat itu, berat sapi ternaknya sekitar 1,240 ton, tinggi 165 sentimeter, dan panjang 2 meter. Usianya 3,5 tahun.

Namun, petugas yang datang tidak langsung memutuskan apakah sapinya dipilih jadi sapi kurban Presiden Jokowi atau tidak. Saat itu, petugas harus melihat sapi di daerah lain yang juga diajukan jadi sapi kurban presiden. Seperti di Tuban. Sampai akhirnya, sapi milik Dheo yang terpilih. Sapi itu dibeli dengan harga Rp 100 juta.

“Akhirnya Alhamdulillah, sapi saya yang terpilih dan dinilai paling layak untuk jadi hewan kurban Presiden Jokowi,” tuturnya.

Sapi itu dibawa ke masjid Agung Al Akbar Surabaya. Untuk diserahkan ke takmir masjid Al Akbar.

Dheo sendiri tidak pernah berpikir, sapi ternaknya terpilih jadi hewan kurban Presiden Jokowi. Sebab, awalnya Dheo hanya fokus beternak sapi untuk diikutkan kontes ternak sapi.

Sapi yang juara biasanya dibeli presiden atau perorangan dengan harga tinggi. Sapi miliknya pada akhirnya memang dibeli presiden. Namun, bukan melalui kontes.

”Alhamdulillah, sapi ternak saya yang terpilih untuk jadi hewan kurban Pak Presiden,” katanya bangga.

Kini, Dheo pun berniat kembali mengembangkan usaha ternak sapinya. Dirinya bakal ternak sapi berbagai jenis dan akan dikembangkan untuk kontes.

”Uang hasil penjualan sapi itu akan saya gunakan untuk kebutuhan mengembangkan usaha ternak sapi,” ujarnya. (hn/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU