Perajin Sandal-Sepatu Kulit di Pasuruan Juga Harus Rumahkan Karyawan

Menjelang Idul Fitri biasanya menjadi momentum bagi perajin sandal dan sepatu kulit di Kota Pasuruan untuk meraup rezeki. Namun, saat wabah korona permintaan anjlok 50-70 persen dibandingkan Lebaran tahun lalu.

—————

Jalanan di Kota Pasuruan tampak sepi setelah Adzan Maghrib berkumandang. Namun, tak lama seliweran sepeda motor berlalu lalang setelah warga menghapus dahaga. Satu per satu aktivitas mulai ramai. Termasuk di daerah Jalan Kartini, Kota Pasuruan.

Tak lama, satu keluarga yang membawa sepeda motor berhenti di kios perajin sandal dan sepatu kulit. Setelah mencari model dan ukuran yang cocok untuk anaknya, mereka pun membayar dan kemudian pulang. Aktivitas pembelian sandal baru ini baru tampak ramai beberapa hari menjelang Lebaran ini.

“Dulu pertengahan Ramadan sudah ramai pembeli. Tapi, sekarang baru H-10 mulai ada yang beli sandal kulit baru di sini,” ujar Anang, 42, perajin sandal dan sepatu kulit di Jalan Kartini, Kota Pasuruan.

Sepinya pembeli alas kaki kulit ini sudah sejak Maret. Setelah wabah korona. Permintaan alas kaki memang terjun bebas. Maklum masyarakat ekonominya juga lesu. Sehingga, dibandingkan membeli sandal atau sepatu, mereka lebih mengutamakan membeli kebutuhan sehari-hari dulu.

Hal ini juga terasa saat Ramadan menjelang Lebaran. Biasanya, agenda membeli sandal kulit baru rutin dilakukan menjelang Lebaran, namun saat ini sepi. Bahkan, anjlok hingga 70 pesen dibandingkan Ramadan tahun lalu.

“Memang cenderung ada peningkatan dibandingan awal Ramadan. Tapi, jika dibandingkan Lebaran tahun lalu, jauh, bahkan turun 70 persen,” terangnya.

Dulu rata-rata per hari bisa menjual 25-30 pasang sepatu. Saat ini terjual 5 pasang sandal-sepatu saja sudah bagus. Bahkan, dari satu keluarga, kadang hanya anak saja yang dibelikan.

“Mungkin untuk penghematan, sehingga hanya anak yang diutamakan,” ujarnya.

Akibat sepinya pembali ini, dari 6 karyawan, 2 sudah dirumahkan. Dan hanya 4 yang masih bekerja.

Muhammad Zamroni, 51, pemilik Oni Sepatu yang juga ketua Asosiasi Perajin Alas Kaki Kota Pasuruan membenarkan anjloknya pasar sepatu. Setelah wabah korona, permintaan alas kaki dari kulit memang anjlok.

“Rata-rata turun hingga 50 persen, termasuk menjelang Lebaran ini. Kendati ada kenaikan, tetapi masih tergolong sepi,” terangnya.

Dulu saat Lebaran, penjualan sandal dan sepatu bisa 40 pasang sehari. Sekarang paling hanya 20-an pasang. Itu pun baru terasa ramai sejak seminggu akhir Ramadan ini.

Sepinya pembali sandal dan sepatu Lebaran, dikatakan karena ekonomi yang lesu. Sehingga, pilihan membeli alas kaki baru menjadi pilihan terakhir. Sehingga, perajin alas kaki di Kota Pasuruan pun tak menyetok banyak sepatu.

“Ditambah dengan adanya PSBB, saat ini pasokan sol sepatu juga sulit. Sementara kami membuat sandal sepatu sementara dari stok sol yang ada. Kami sudah beli, tapi belum juga dikirim karena pabrik pembuat sol ada yang tutup atau tidak beroperasi,” ujarnya.

Sedangkan untuk harga tidak ada perubahan. Sandal anak seharga rata-rata Rp 80 ribu, sepatu anak rata-rata Rp 150 ribuan. Untuk dewasa sandal mencapai Rp 110 ribu dan sepatu dewasa mencapai Rp 200 ribuan.

Perajin pun berharap ada peningkatan pembeli saat tahun ajaran baru sekolah. “Kami berharap bisa ramai saat tahun ajaran baru. Namun, juga melihat situasi. Kalau masih belajar di rumah karena korona, bisa-bisa tetap sepi seperti sekarang ini,” keluhnya.

Dengan kondisi saat ini, Oni memang belum merumahkan karyawan. Namun, dari 4 karyawannya sementara hanya dikurangi jam kerja. Dari biasanya 10 jam menjadi hanya 6 jam kerja.

Dia pun berharap ada kepedulian dari Pemkot Pasuruan untuk menggandeng kembali perajin alas kaki di Kota Pasuruan. Dulu menurutnya, Pemkot rutin dan mewajibkan ASN membeli alas kaki di perajin lokal.

“Tapi, sempat terhenti dan harapan kami kebijakan tersebut dilakukan kembali. Ini agar 18 perajin alas kaki di Kota Pasuruan ada permintaan dan untuk menyambung penghasilan,” ujarnya. (eka/hn/fun)