Jasa Transportasi di Stasiun Bangil saat Pandemi harus Berutang, Becak Sepi dan Sering Pulang Tak Bawa Uang

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, biasanya membuat para tukang becak motor (betor) yang beroperasi di Stasiun Bangil, Kabupaten Pasuruan, bisa tersenyum bahagia. Karena penumpang betornya selalu melimpah seiring dengan masa mudik. Namun, kini berbeda. Orderannya turun tajam hingga kesulitan mendapatkan penumpang.

—————-

Ketika wabah Covid-19 melanda, membuat pemerintah banyak mengeluarkan kebijakan dalam upaya memberangus virus asal Wuhan, Tiongkok itu. Beragam kebijakan itu pun memengaruhi perputaran perekonomian. Termasuk terhadap layanan jasa transportasi, seperti kereta api.

Kebijakan tidak mengoperasionalkan sejumlah kereta api, membuat penumpang sepi. Sepinya penumpang kereta api terjadi di banyak stasiun. Termasuk di Stasiun Bangil, Kabupaten Pasuruan. Imbasnya, banyak orang yang mengais rezeki di sekitaran Stasiun Bangil terkena dampaknya.

Seperti tukang becak ataupun jasa sewa kendaraan lainnya. Dampak besar itu dirasakan betul oleh Akhmad Safaudin. Lelaki 44 tahun asal Kelurahan Pogar, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, itu merasakan anjloknya jumlah penumpang betornya.

Biasanya, ia bisa narik betornya enam kali hingga tujuh kali setiap hari. Apalagi, ketika memasuki Ramadan dan menjelang Lebaran seperti saat ini. Setiap menjelang Idul Fitri, biasanya semakin banyak warga yang mudik atau pulang kampung. Sehingga, membuat para pemilik jasa betor di sekitar Stasiun Bangil bisa mengantarkan penumpang lebih dari tujuh kali dalam sehari.

Namun, kali ini mereka tak bisa merasakan “manisnya” mengais rezeki menjelang Lebaran. Pandemi Covid-19 membuat penumpang betor sepi. Akhmad mengaku, terkadang dalam sehari hanya ada satu penumpang yang menggunakan jasanya. “Ini saja saya hanya mendapat uang Rp 10 ribu seharian,” ujarnya, Kamis (21/5).

SUSAH: Selain tukang becak, pengusaha transportasi juga dalam kondisi sulit saat pandemi. (Foto: Iwan Andrik/Radar Bromo)

 

Padahal biasanya, kata pria yang akrab disapa Udin itu, dalam sehari bisa membawa pulang Rp 70 ribu hingga Rp 100 ribu. Namun, adanya Covid-19 ditambah larangan mudik, membuat pendapatannya semakin seret. Bahkan, pernah pulang tidak membawa uang lantaran tidak ada penumpang. “Lesu sekali. Karena penumpang kereta juga sepi. Imbasnya juga pada kami,” jelasnya.

Lesunya bisnis jasa transportasi membuat Akhmad harus lebih kreatif. Ia terus memeras otak agar bisa membuat periuknya tetap terisi. Tidak lagi hanya mengandalkan betornya, namun juga menerima pekerjaan serabutan. “Kalau ada yang nyuruh ngecat, bersih-bersih, ya saya lakukan. Ketimbang tidak ada uang untuk makan,” keluhnya.

Senada diungkapkan Khosim, 69, warga Banjar Kejen, Kecamatan Pandaan, yang juga beroperasi di kawasan Stasiun Bangil. Ia mengatakan, korona benar-benar memukul perekonomian keluarganya. Momen Ramadan menjelang Lebaran, biasanya bisa membawa banyak uang dari narik betor.

Tapi, sekarang tidak lagi. Bahkan, Khosim mengaku, pernah dalam seminggu tidak mendapatkan penumpang. “Akhirnya rugi bensin. Padahal, modalnya dari utang. Tapi, saat pulang tidak membawa uang,” ujarnya sedih.

Ia mengaku terus bertahan dengan alasan masih bisa percaya usahanya akan menghasilkan. Katanya, meski hanya membawa pulang duit Rp 10 ribu, sudah untung, ketimbang pulang tidak membawa apa-apa.

Sejauh ini banyak teman-temannya yang sudah “menyerah” untuk narik betor. Karena saking sepinya penumpang, mereka memilih tinggal di rumah atau mencari pekerjaan lain. “Sebelumnya ada sebelas tukang betor di sini. Sekarang hanya empat yang bertahan. Kalau tidak narik betor, lalu saya mau kerja apa lagi,” ujarnya.

Bukan hanya betor yang terdampak. Pelaku usaha sewa mobil ataupun antar penumpang (carter) di kawasan Stasiun Bangil juga sepi. Menjelang Lebaran yang biasa menjadi masa panennya pemilik jasa sewa mobil, kini terserang wabah.

“Menjelang Lebaran seperti sekarang ini biasanya saya sampai nolak-nolak. Karena kendaraannya full pakai. Tapi, sekarang tidak ada sama sekali,” ujar pelaku usaha carter dan sewa mobil, Henry. (iwan andrik/rud)