alexametrics
25.3 C
Probolinggo
Thursday, 19 May 2022

Gus Fuad Tanamkan Rasa Gotong Royong dan Jaga Akhlak

Gus Muhammad Mubarridul Fuadi, terlahir sebagai putra seorang guru di Pesantren Al Falah Lebak, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, Kiai Mahin Manaf. Tetapi, kini ia membantu membesarkan pesantren milik mertuanya, Gus Halim.

 

AWAKMU oleh anak e kiai duduk dadi gus. Tapi, ngeladeni Kiai Halim (K.H Abdul Halim Jasim). Tapi, ngabdi lan ngeladeni pondok. (Kamu jadi menantunya kiai bukan untuk jadi gus. Tapi, mengabdi dan meladeni pondok).”

Kalimat itu masih diingat betul oleh Gus Muhammad Mubarridul Fuadi. Itu merupakan pesan ayahnya, Kiai Mahin Manaf.

Pesan itu disampaikan ayahnya sebelum, Gus Fuad menikah dengan putri Gus Halim. Karena pesan itu, meski kini menjadi menantu kiai, ia tetap memposisikan diri sebagai santri. Selalu tawadu  kepada mertuanya. “Saya di sini untuk mengabdi dan melayani kiai. Ini pesan abah saya,” ujar anak ketiga dari lima bersaudara tersebut.

Sapaan “gus” sebenarnya melekat pada dirinya sejak kecil. Tetapi, Gus Fuad tidak lantas besar kepala. Tetap menjadi pria rendah hati dan berpenampilan sesuai dengan zamannya. “Inilah saya. Saya penampilan apa adanya,” ujar pria yang pernah nyantri di Pesantren Al Yasini, Pasuruan ini.

Semasa kecil, Gus Fuad dibebaskan memilih sekolah dan jurusan yang hendak dijalaninya. Ia pernah mengenyam pendidikan formal hingga jenjang Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Tapi, juga dibarengi dengan pendidikan nonformal.

Gus Muhammad Mubarridul Fuadi, terlahir sebagai putra seorang guru di Pesantren Al Falah Lebak, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, Kiai Mahin Manaf. Tetapi, kini ia membantu membesarkan pesantren milik mertuanya, Gus Halim.

 

AWAKMU oleh anak e kiai duduk dadi gus. Tapi, ngeladeni Kiai Halim (K.H Abdul Halim Jasim). Tapi, ngabdi lan ngeladeni pondok. (Kamu jadi menantunya kiai bukan untuk jadi gus. Tapi, mengabdi dan meladeni pondok).”

Kalimat itu masih diingat betul oleh Gus Muhammad Mubarridul Fuadi. Itu merupakan pesan ayahnya, Kiai Mahin Manaf.

Pesan itu disampaikan ayahnya sebelum, Gus Fuad menikah dengan putri Gus Halim. Karena pesan itu, meski kini menjadi menantu kiai, ia tetap memposisikan diri sebagai santri. Selalu tawadu  kepada mertuanya. “Saya di sini untuk mengabdi dan melayani kiai. Ini pesan abah saya,” ujar anak ketiga dari lima bersaudara tersebut.

Sapaan “gus” sebenarnya melekat pada dirinya sejak kecil. Tetapi, Gus Fuad tidak lantas besar kepala. Tetap menjadi pria rendah hati dan berpenampilan sesuai dengan zamannya. “Inilah saya. Saya penampilan apa adanya,” ujar pria yang pernah nyantri di Pesantren Al Yasini, Pasuruan ini.

Semasa kecil, Gus Fuad dibebaskan memilih sekolah dan jurusan yang hendak dijalaninya. Ia pernah mengenyam pendidikan formal hingga jenjang Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Tapi, juga dibarengi dengan pendidikan nonformal.

MOST READ

BERITA TERBARU

/