alexametrics
25 C
Probolinggo
Thursday, 4 March 2021
Desktop_AP_Top Banner

Warga Kanigaran Ini Olah Sisa Makanan Jadi Pakan Ikan

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Banyak cara bisa dilakukan untuk berkontribusi menjaga kelestarian lingkungan. Seperti cara Sukardi, 60, warga Curah Grinting, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo. Dimotivasi menjaga lingkungan, dia pun mengolah sampah sisa makanan menjadi pelet pakan ikan.

RIDHOWATI SAPUTRI, Kanigaran, Radar Bromo

MASALAH sampah masih menjadi pekerjaan rumah bagi banyak daerah. Tak terkecuali di Kota Probolinggo. Meskipun telah memiliki TPA Bestari di Jalan Anggrek, namun kapasitasnya terus berkurang.

Kontribusi masyarakat untuk membantu menyelesaikan masalah sampah pun sangat dibutuhkan. Dan salah satu warga yang peduli mengolah sampah adalah Sukardi, 60, warga Kelurahan Curahgrinting, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.

Minggu (21/2) memperingati Hari Peduli Sampah, Sukardi mendapat hadiah berupa sepatu bot. Hadiah itu diberikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo Rachmadeta Antariksa dengan didampingi Sekretaris DLH Retno Wandansari dan Kabid Pengendalian, Pencemaran, dan Kemitraan LH Suciatiningsih.

Sukardi sendiri aktif terlibat dalam pengolahan sampah sejak tahun 2003. Dia mengolah sampah makanan menjadi pelet pakan ikan. Saat itu, proses yang dilakukan masih manual dan sederhana.

“Saya mengumpulkan sampah sisa makanan dari katering dan dari kantin karyawan. Sampah itu dihancurkan secara manual. Ada campuran sisa limbah gandum dari Grati untuk tambahannya dan limbah minyak kopra,” ujarnya.

Saat proses manual, Sukardi sendiri yang membentuk pelet pakan ikan dalam bentuk bulatan-bulatan. Baru sejak Agustus 2020, dia membuat pelet pakan ikan menggunakan mesin.

Untuk pencampur sisa makanan, dia membuat sendiri mesinnya dari bahan bekas. Sementara untuk membentuk bulatan pelet, dia dibantu perusahaan.

“Saya membuat sendiri mesin pencampur sampah sisa makanan dari bahan bekas. Terus alat untuk membentuk bulatan-bulatan pelet dibantu perusahaan. Jadi tidak manual lagi,” ujarnya.

Kapasitas produksi pelet pakan ikan ini pun cukup besar. Dalam 1 jam proses yang dilakukan bisa menghasilkan 1 kuintal pelet. Hasilnya lantas dijual.

“Pakan ikan ini sudah bisa dijual karena sudah diuji oleh Sucofindo kandungannya. Kalau sudah dites ini sudah bisa dipasarkan. Alhamdulillah pemasarannya dilakukan di dalam Kota dan Kabupaten Probolinggo,” terangnya.

Harga jualnya pun cukup murah. Hanya Rp 6 ribu per kilogram. Banyak konsumen yang membeli dalam jumlah kiloan saja. Namun ada juga yang membeli dalam jumlah besar.

“Ada dari Desa Banjarsari membeli dalam jumlah 1 kuintal,” ujarnya.

Semua aktivitas produksi itu dilakukan Sukardi di tanah miliknya di Jalan Kapuas, Kelurahan Curah Grinting, dengan luas 2.000 meter persegi. Di sana ada papan bertuliskan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Al Huda.

Di tempat itu ada bangunan semipermanen berlantai dua. Lantai pertama digunakan untuk tempat pengolahan pelet pakan ikan berbahan sampah makanan. Sedangkan lantai 2 jadi tempat Sukardi untuk istirahat.

Di lantai satu juga terdapat sebuah ruangan yang digunakan untuk produksi. Di situ ada mesin untuk mencampur dan menghaluskan sampah sisa makanan.

Tepat di sebelah barat bangunan ada kolam ikan nila. Lalu, ada juga beberapa kolam ikan lain yang pakannya menggunakan pelet buatan sendiri.

“Juga ada yang ditanam sengon tanahnya,” ujarnya saat memperlihatkan lahan yang digunakan untuk Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Al Huda.

Sebelum mengolah sampah sisa makanan, Sukardi sendiri lama aktif dalam pengolahan sampah. Dia juga terus berupaya menularkan peduli lingkungan itu pada warga di sekitarnya. Salah satu caranya dengan mengubah lahan milik pribadi menjadi tempat pengolahan sampah terpadu.

Meski demikian, Sukardi masih menemukan ada warga yang membuang sampah di sungai. Tidak jauh dari tempat pengolahan sampah terpadu miliknya. Pelakunya ada ibu rumah tangga, ada juga aparat keamanan bersama istrinya.

“Waktu saya ingatkan agar tidak membuat sampah ke sungai, malah nggak terima. Malah menyebut dirinya petugas keamanan. Saya jawab bahwa saya juga petugas di sini,” ujarnya.

Atas semua yang sudah dilakukannya itu, Sukardi mengaku masih butuh pembinaan dari dinas terkait. Terutama untuk memasarkan pelet pakan ikan produksinya.

“Saya merasa masih membutuhkan pembinaan dari dinas. Seperti cara pemasarannya supaya lebih baik lagi,” ujar bapak dua anak ini.

Kabid Pengendalian, Pencemaran, dan Kemitraan LH Suciatiningsih menyebut, usaha yang dilakukan Sukardi memberikan peran dalam penanganan sampah. Terutama sampah makanan.

“Sampah makanan diambil dari kantin-kantin perusahaan, dari kantin KTI misalnya. Masuk ke sini untuk diolah menjadi pelet pakan ikan. Namun memang perlu manajemen serta pengelolaan produk yang baik. Seperti pengemasan yang bagus supaya layak jual,” ujarnya.

Karena itu, pihaknya menurut Suci –panggilannya-, akan berkoordinasi dengan dinas dalam hal ini DKUPP. Tujuannya, untuk membantu pembinaan usaha bagi Sukardi. (hn)

Mobile_AP_Rectangle 1

Banyak cara bisa dilakukan untuk berkontribusi menjaga kelestarian lingkungan. Seperti cara Sukardi, 60, warga Curah Grinting, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo. Dimotivasi menjaga lingkungan, dia pun mengolah sampah sisa makanan menjadi pelet pakan ikan.

RIDHOWATI SAPUTRI, Kanigaran, Radar Bromo

MASALAH sampah masih menjadi pekerjaan rumah bagi banyak daerah. Tak terkecuali di Kota Probolinggo. Meskipun telah memiliki TPA Bestari di Jalan Anggrek, namun kapasitasnya terus berkurang.

Mobile_AP_Half Page

Kontribusi masyarakat untuk membantu menyelesaikan masalah sampah pun sangat dibutuhkan. Dan salah satu warga yang peduli mengolah sampah adalah Sukardi, 60, warga Kelurahan Curahgrinting, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.

Minggu (21/2) memperingati Hari Peduli Sampah, Sukardi mendapat hadiah berupa sepatu bot. Hadiah itu diberikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo Rachmadeta Antariksa dengan didampingi Sekretaris DLH Retno Wandansari dan Kabid Pengendalian, Pencemaran, dan Kemitraan LH Suciatiningsih.

Sukardi sendiri aktif terlibat dalam pengolahan sampah sejak tahun 2003. Dia mengolah sampah makanan menjadi pelet pakan ikan. Saat itu, proses yang dilakukan masih manual dan sederhana.

“Saya mengumpulkan sampah sisa makanan dari katering dan dari kantin karyawan. Sampah itu dihancurkan secara manual. Ada campuran sisa limbah gandum dari Grati untuk tambahannya dan limbah minyak kopra,” ujarnya.

Saat proses manual, Sukardi sendiri yang membentuk pelet pakan ikan dalam bentuk bulatan-bulatan. Baru sejak Agustus 2020, dia membuat pelet pakan ikan menggunakan mesin.

Untuk pencampur sisa makanan, dia membuat sendiri mesinnya dari bahan bekas. Sementara untuk membentuk bulatan pelet, dia dibantu perusahaan.

“Saya membuat sendiri mesin pencampur sampah sisa makanan dari bahan bekas. Terus alat untuk membentuk bulatan-bulatan pelet dibantu perusahaan. Jadi tidak manual lagi,” ujarnya.

Kapasitas produksi pelet pakan ikan ini pun cukup besar. Dalam 1 jam proses yang dilakukan bisa menghasilkan 1 kuintal pelet. Hasilnya lantas dijual.

“Pakan ikan ini sudah bisa dijual karena sudah diuji oleh Sucofindo kandungannya. Kalau sudah dites ini sudah bisa dipasarkan. Alhamdulillah pemasarannya dilakukan di dalam Kota dan Kabupaten Probolinggo,” terangnya.

Harga jualnya pun cukup murah. Hanya Rp 6 ribu per kilogram. Banyak konsumen yang membeli dalam jumlah kiloan saja. Namun ada juga yang membeli dalam jumlah besar.

“Ada dari Desa Banjarsari membeli dalam jumlah 1 kuintal,” ujarnya.

Semua aktivitas produksi itu dilakukan Sukardi di tanah miliknya di Jalan Kapuas, Kelurahan Curah Grinting, dengan luas 2.000 meter persegi. Di sana ada papan bertuliskan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Al Huda.

Di tempat itu ada bangunan semipermanen berlantai dua. Lantai pertama digunakan untuk tempat pengolahan pelet pakan ikan berbahan sampah makanan. Sedangkan lantai 2 jadi tempat Sukardi untuk istirahat.

Di lantai satu juga terdapat sebuah ruangan yang digunakan untuk produksi. Di situ ada mesin untuk mencampur dan menghaluskan sampah sisa makanan.

Tepat di sebelah barat bangunan ada kolam ikan nila. Lalu, ada juga beberapa kolam ikan lain yang pakannya menggunakan pelet buatan sendiri.

“Juga ada yang ditanam sengon tanahnya,” ujarnya saat memperlihatkan lahan yang digunakan untuk Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Al Huda.

Sebelum mengolah sampah sisa makanan, Sukardi sendiri lama aktif dalam pengolahan sampah. Dia juga terus berupaya menularkan peduli lingkungan itu pada warga di sekitarnya. Salah satu caranya dengan mengubah lahan milik pribadi menjadi tempat pengolahan sampah terpadu.

Meski demikian, Sukardi masih menemukan ada warga yang membuang sampah di sungai. Tidak jauh dari tempat pengolahan sampah terpadu miliknya. Pelakunya ada ibu rumah tangga, ada juga aparat keamanan bersama istrinya.

“Waktu saya ingatkan agar tidak membuat sampah ke sungai, malah nggak terima. Malah menyebut dirinya petugas keamanan. Saya jawab bahwa saya juga petugas di sini,” ujarnya.

Atas semua yang sudah dilakukannya itu, Sukardi mengaku masih butuh pembinaan dari dinas terkait. Terutama untuk memasarkan pelet pakan ikan produksinya.

“Saya merasa masih membutuhkan pembinaan dari dinas. Seperti cara pemasarannya supaya lebih baik lagi,” ujar bapak dua anak ini.

Kabid Pengendalian, Pencemaran, dan Kemitraan LH Suciatiningsih menyebut, usaha yang dilakukan Sukardi memberikan peran dalam penanganan sampah. Terutama sampah makanan.

“Sampah makanan diambil dari kantin-kantin perusahaan, dari kantin KTI misalnya. Masuk ke sini untuk diolah menjadi pelet pakan ikan. Namun memang perlu manajemen serta pengelolaan produk yang baik. Seperti pengemasan yang bagus supaya layak jual,” ujarnya.

Karena itu, pihaknya menurut Suci –panggilannya-, akan berkoordinasi dengan dinas dalam hal ini DKUPP. Tujuannya, untuk membantu pembinaan usaha bagi Sukardi. (hn)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2