Muhammad Medik, Guru Madrasah yang Juga Pelukis, Dulunya Tak Suka Menggambar

Sempat tak menyukai pelajaran menggambar, M. Medik malah menjadi seorang pelukis kawakan. Hasil lukisan guru honorer MAN 1 Pasuruan dalam aliran drawing ini, bahkan kerap tampil dalam pameran nasional.

—————–

Modalnya hanyalah sebuah pensil. Selanjutnya, ia mengarsirkan pensil itu pada sebuah kanvas gambar. Hasilnya, menakjubkan.

Gambar yang dibuatnya, membuat sedap dipandang. Lukisan drawing penuh makna pun tercipta.

Namun, butuh waktu tidak sebentar untuk membuat sebuah karya. Paling tidak bisa butuh waktu sepekan. Bahkan, bisa juga sampai sebulan.

“Saya memang menyukai lukisan drawing. Karena lebih murah. Modalnya hanya pensil dan kanvas,” tutur Muhammad Medik, 35, asal Lumbangrejo, Kecamatan Prigen.

GURU: Medik juga pengajar seni di MAN 1 Pasuruan. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Selain sebagai pelukis drawing, dia merupakan seorang pengajar seni di MAN 1 Pasuruan. Sebagai seorang seniman, karya Medik sudah banyak mengisi kegiatan pameran-pameran lokal. Seperti pameran di Jakarta, Jogjakarta, dan sejumlah kota-kota lain di Indonesia.

Kiprahnya dalam dunia lukis, sebenarnya tak instan. Guru honorer tersebut mengaku saat duduk di bangku sekolah dasar, ia malah tak menyukai pelajaran menggambar. Bahkan, hasil dari kreasi gambarnya tak banyak yang memandang.

“Saat masih sekolah, saya hanya dapat nilai 60 atau 65 saat menggambar. Dan memang saya tidak suka menggambar waktu itu,” ujar lelaki kelahiran 17 Maret 1983 tersebut.

Situasi berubah, ketika ada teman ayahnya yang datang ke rumahnya. Teman ayahnya itu adalah seorang seniman yang mahir menggambar.

Ia pernah melihat hasil karyanya. Bahkan, ia pun sempat meminta teman ayahnya untuk membuat gambar pemandangan sebagai tugas sekolah. “Waktu itu saya kelas 4 SD. Setelah dibuatkan tugas gambar, saya kumpulkan. Hasilnya saya dapat nilai 90,” sampainya.

Hasil itu membuat teman-temannya curiga. Takut ketahuan kalau itu bukanlah karyanya, ia pun meyakinkan bahwa dirinya bisa menggambar.

Ia pun menduplikat hasil gambar teman ayahnya. Ia kembali mengumpulkan karya tersebut. Lagi-lagi ia dapat nilai bagus.

Temannya lagi-lagi mencurigainya. Mereka tidak percaya kalau dirinya yang menggambar. Ia pun mencoba meyakinkan kembali. Yakni dengan menduplikat setiap benda pada gambar-gambar teman ayahnya.

“Baru setelah itu, teman-teman mengira kalau saya memang bisa gambar,” kisahnya.

Hal itu kemudian menjadi titik awal bencana sekaligus kecintaannya terhadap seni lukis. Ketika itu, ada lomba Porseni tingkat kecamatan. Ia ditunjuk menjadi wakil sekolahnya.

Ia pun kebingungan. Maklum, ia merasa memang belum bisa menggambar. “Sejak itu saya belajar tekun menggambar,” sambung suami dari Siska Vitrianti tersebut.

Siapa sangka, ketekunannya dalam berlatih menggambar, berbuah prestasi. Ia berhasil menjadi juara. Sejak saat itulah dunia seni mulai dicintainya.

Kecintaannya dengan dunia gambar semakin menjadi-jadi. Bahkan, ketika ia masuk MTs dan juga SMA. “Karya kami berhasil masuk 10 besar mading Deteksi Jawa Pos,” ujar lulusan SMA Sejahtera Prigen tersebut.

Lulus sekolah, ia berniat masuk perguruan tinggi. Cita-citanya adalah masuk jurusan arsitektur.

“Karena saya tahunya arsitek yang sering gambar-gambar bangunan. Saya tidak tahu tentang sekolah seni,” ucap bapak dua anak ini.

Tapi, keinginannya untuk kuliah kandas karena orang tuanya tak menyetujui. Mereka minta dirinya bekerja dan segera menikah.

Ia memang sempat mau dijodohkan dengan anak juragan tanah. Namun, ia menolak. “Saya inginnya kuliah,” kenang dia.

Medik kemudian memilih menekuni dunia seni dengan ikut saudaranya di usaha sablon. Dari situ pula ia bertemu dengan salah satu guru seninya dan mendapatkan banyak masukan.

Untuk bisa kuliah, ia bisa mencari beasiswa. Karena dengan beasiswa, ia tak perlu banyak mengeluarkan uang untuk biaya.

“Saya mendaftar ke Unesa. Di sana saya mengambil jurusan pendidikan seni,” timpal dia yang dimodali orang tuanya Rp 5 juta untuk kuliah.

Sempat tertatih-tatih, ia berhasil menuntaskan pendidikannya. Bahkan, ia bisa menyelesaikan sarjana pendidikan seni itu dalam jangka waktu 3,5 tahun.

Ia pun kemudian mendaftar sebagai guru seni di Surabaya pada 2008. “Saat masih kuliah, saya sering menggambar. Tapi, saat menjadi guru di Surabaya, saya vakum,” sambungnya.

Karena menikah pada 2011, ia akhirnya resign dari pekerjaannya di Surabaya. Ia memilih mendaftar sebagai guru di MAN 1 Pasuruan yang dulunya bernama MAN 1 Bangil. Sejak tahun 2011 hingga sekarang itulah ia menjadi guru honorer di MAN 1 Pasuruan.

Selama di MAN 1 Pasuruan, ia memang sempat vakum melukis. Namun, jiwa seninya kembali bangkit ketika diajak mengikuti pameran Gandeng Renteng di Kota Pasuruan 2015.

“Ternyata respons akan lukisan saya baik. Sejak itu, saya menjadi kumat melukis,” candanya.

Sejak saat itu pula, ia rutin melukis. Ia pun kerap mengikuti pameran nasional. Seperti di Jakarta beberapa waktu lalu. Ia berhasil lolos dari ratusan pelukis untuk bisa tampil di pameran tersebut.

Kreasinya tak boleh disepelekan. Karena ia pernah menjual karyanya hingga Rp 10 juta. Banyak suka duka yang dirasakan dari seni lukis.

“Lebih banyak sukanya. Kalau duka, paling saat ada orang yang tertarik dengan karya saya, tapi nggak jadi mengambil,” pungkasnya. (one/hn/fun)