alexametrics
30.5 C
Probolinggo
Wednesday, 17 August 2022

Cerita Nauval Varozdaq, Berkarir Jadi Atlet Berkuda

Saat itu, ia sudah mulai latihan di Trawas, Mojokerto. Meski sempat semaput, pelatihnya tetap tenang. Ketika bangun, Nauval diberi minum dan diberitahu kesalahannnya. “Kata pelatih, ada kesalahan dari saya yang membuat Nobel membawa saya berputar-putar,” ungkapnya.

Meski memiliki kesan yang kurang mengenakkan pada masa berkenalan dengan kuda jenis generasi 5 itu, kini sudah luluh. Tak ditarik pun, kuda keturunan Torobet asli itu akan mengikutinya.

“Sekarang sudah bersahabat. Seakan saling mengerti. Yang pasti, ketika berkuda yang mengendalikan orangnya. Jangan sampai dikendalikan kudanya,” jelasnya, tersenyum.

Meski sudah ada chemistry, Nauval sempat merasa kecewa terhadap Nobel. Perkaranya, saat itu Nobel sedang berahi. Saat pertandingan, ia tidak mau melompati rintangan. “Saat hendak melewati rintangan Nobel berhenti. Karena berhenti ini saya terjatuh,” katanya.

Karena sikap Nobel itulah, pemuda yang masih duduk di bangku kuliah semester tujuh itupun gagal menyabet juara. “Kuda itu langsung diatasi pelatih,” ujarnya.

Nauval menekuni hobi berkuda sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kali pertama kepincut terhadap kuda, ia pun meminta dibelikan kuda kepada ayahnya, Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf.

Gus Irsyad tidak menolak permintaan anaknya. Tanpa sepengetahuan Nauval, pada hari berikutnya berangkat ke Lawang, Malang. Membeli kuda di bawah Rp 10 juta. Kuda itu pun dibawa ke Pendapa Kabupaten Pasuruan. Kebetulan, di sana ada kandang bekas. “Ternyata itu kuda untuk dokar (delman). Iya gak papa, itung-itung buat belajar anak,” ujarnya.

Saat itu, ia sudah mulai latihan di Trawas, Mojokerto. Meski sempat semaput, pelatihnya tetap tenang. Ketika bangun, Nauval diberi minum dan diberitahu kesalahannnya. “Kata pelatih, ada kesalahan dari saya yang membuat Nobel membawa saya berputar-putar,” ungkapnya.

Meski memiliki kesan yang kurang mengenakkan pada masa berkenalan dengan kuda jenis generasi 5 itu, kini sudah luluh. Tak ditarik pun, kuda keturunan Torobet asli itu akan mengikutinya.

“Sekarang sudah bersahabat. Seakan saling mengerti. Yang pasti, ketika berkuda yang mengendalikan orangnya. Jangan sampai dikendalikan kudanya,” jelasnya, tersenyum.

Meski sudah ada chemistry, Nauval sempat merasa kecewa terhadap Nobel. Perkaranya, saat itu Nobel sedang berahi. Saat pertandingan, ia tidak mau melompati rintangan. “Saat hendak melewati rintangan Nobel berhenti. Karena berhenti ini saya terjatuh,” katanya.

Karena sikap Nobel itulah, pemuda yang masih duduk di bangku kuliah semester tujuh itupun gagal menyabet juara. “Kuda itu langsung diatasi pelatih,” ujarnya.

Nauval menekuni hobi berkuda sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kali pertama kepincut terhadap kuda, ia pun meminta dibelikan kuda kepada ayahnya, Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf.

Gus Irsyad tidak menolak permintaan anaknya. Tanpa sepengetahuan Nauval, pada hari berikutnya berangkat ke Lawang, Malang. Membeli kuda di bawah Rp 10 juta. Kuda itu pun dibawa ke Pendapa Kabupaten Pasuruan. Kebetulan, di sana ada kandang bekas. “Ternyata itu kuda untuk dokar (delman). Iya gak papa, itung-itung buat belajar anak,” ujarnya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/