alexametrics
30.5 C
Probolinggo
Wednesday, 17 August 2022

Cerita Nauval Varozdaq, Berkarir Jadi Atlet Berkuda

Event-nya bernama Equestrian. Saya menyabet juara tiga di tiga kelas. Dressage, Show Jumping 40-60 (3rd), dan Show Jumping 50-70 (3rd),” jelasnya.

Sejak saat itu, semakin banyak kejuaraan berkuda yang diikuti. Termasuk dalam pembukaan Lapangan Berkuda Taman Safari, setahun berikutnya. Hasilnya, juga dalam pertandingan Equestrian, ia kembali berhasil menyabet tiga juara sekaligus. Bukan lagi jura III, melainkan juara I. Masing-masing di kelas Show Jumping 40-60 (1st), kelas Show Jumping 50-70 (1st), dan Show Jumping 70-90 (1st).

“Saya juga masuk seleksi Kejurnas pada 2019. Tetapi, karena pandemi kemudian ditunda. Dua bulan lalu saya masuk lagi dan kembali lolos. Sekarang latihan terus untuk persiapan Kejurnas. Liburnya hanya Senin,” terangnya.

Nauval mengaku tidak ada target khusus turun dalam atlet berkuda. Katanya, yang terpenting adalah bisa menang kejuaraan. Namun, jika ada kesempatan melaju ke tingkat Internasional, Nauval mengaku tidak akan menyia-nyiakannya.

Jatuh bangun dalam mendalami sesuatu, pasti terjadi. Termasuk dalam belajar berkuda. Kondisi serupa juga pernah dialami Nauval Varozdaq. Nauval mengaku sudah sering terjatuh dari atas kuda. Jumlahnya tak terhitung. Namun, ia mengaku tidak trauma. Jatuh-bangun itu malah membuatnya semakin tertantang untuk menjinakkan hewan tunggangannya.

Kini Nauval memiliki dua kuda. Satu jantan bernama Caramel dan satu lagi betina bernama Nobel. Nobel merupakann kuda pertama yang dijadikan tunggangan latihan dan menghadapi kejuaraan. Ia mengaku banyak memiliki kenangan dengan Nobel.

Pada awal menunggangi Nobel, Nauval sempat pingsan setelah turun dari punggungnya. Kudanya lepas kendali. Ia dibawa berkeliling tiga puturan. “Saya kemudian pusing. Turun dari Nobel langsung penglihatan gelap dan saya tidak sadarkan diri,” ujarnya.

Event-nya bernama Equestrian. Saya menyabet juara tiga di tiga kelas. Dressage, Show Jumping 40-60 (3rd), dan Show Jumping 50-70 (3rd),” jelasnya.

Sejak saat itu, semakin banyak kejuaraan berkuda yang diikuti. Termasuk dalam pembukaan Lapangan Berkuda Taman Safari, setahun berikutnya. Hasilnya, juga dalam pertandingan Equestrian, ia kembali berhasil menyabet tiga juara sekaligus. Bukan lagi jura III, melainkan juara I. Masing-masing di kelas Show Jumping 40-60 (1st), kelas Show Jumping 50-70 (1st), dan Show Jumping 70-90 (1st).

“Saya juga masuk seleksi Kejurnas pada 2019. Tetapi, karena pandemi kemudian ditunda. Dua bulan lalu saya masuk lagi dan kembali lolos. Sekarang latihan terus untuk persiapan Kejurnas. Liburnya hanya Senin,” terangnya.

Nauval mengaku tidak ada target khusus turun dalam atlet berkuda. Katanya, yang terpenting adalah bisa menang kejuaraan. Namun, jika ada kesempatan melaju ke tingkat Internasional, Nauval mengaku tidak akan menyia-nyiakannya.

Jatuh bangun dalam mendalami sesuatu, pasti terjadi. Termasuk dalam belajar berkuda. Kondisi serupa juga pernah dialami Nauval Varozdaq. Nauval mengaku sudah sering terjatuh dari atas kuda. Jumlahnya tak terhitung. Namun, ia mengaku tidak trauma. Jatuh-bangun itu malah membuatnya semakin tertantang untuk menjinakkan hewan tunggangannya.

Kini Nauval memiliki dua kuda. Satu jantan bernama Caramel dan satu lagi betina bernama Nobel. Nobel merupakann kuda pertama yang dijadikan tunggangan latihan dan menghadapi kejuaraan. Ia mengaku banyak memiliki kenangan dengan Nobel.

Pada awal menunggangi Nobel, Nauval sempat pingsan setelah turun dari punggungnya. Kudanya lepas kendali. Ia dibawa berkeliling tiga puturan. “Saya kemudian pusing. Turun dari Nobel langsung penglihatan gelap dan saya tidak sadarkan diri,” ujarnya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/