alexametrics
30.5 C
Probolinggo
Wednesday, 17 August 2022

Cerita Nauval Varozdaq, Berkarir Jadi Atlet Berkuda

Karena yang dilihat kali pertama kuda pacu, Nauval pun menyukainya. Bukan kuda tunggang. Bahkan, ia sering menghabiskan waktu luangnya untuk menyaksikan kejuaraan kuda pacu di Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan.

Sampai pada suatu hari, seorang pelatih menawarinya naik kuda. Gayung bersambut. Sejak saat itu, Nauval belajar menunggang kuda. Tak ayal, ketertarikan terhadap kuda semakin terpupuk.

Keinginannya menjadi penunggang kuda semakin lapang ketika kembali diajak ayahnya ke rumah temannya di Kecamatan Pandaan. Di Internasional Cultur Center (ICC) itu, terdapat sejumlah kuda tunggang.

Kuda-kuda itu memang disiapkan khusus untuk berlatih kuda tunggang. “Di situ kemudian ditawari latihan di Trawas. Ya, saya ambil tanpa sepengetahuan ayah,” katanya.

Sejak saat itu, Nauval rutin latihan. Pertama latihan dilakukan dua minggu sekali. Karena, terlihat berbakat, sang pelatih menawarinya mengikuti pertandingan di Kota Surabaya. Ia pun turun lintasan. Ternyata, tidak mampu juara. Tetapi, kekalahan itu tidak membuatnya down. Malah semakin membuatnya tertantang untuk bisa lebih baik.

“Seperti naik kuda, saya jatuh. Itu malah saya semakin tertantang, kenapa bisa jatuh? Dalam pertandingan pertama ini, saya kan ikut dua round yang dilakukan dua hari. Saya hanya ikut sekali saja dan sudah pasti kalah,” jelasnya.

Pada akhir 2018, ia kembali mengikut kompetisi di Parompong, Bandung. Ini merupakan event sekala nasional. Nauval ikut dalam kategori pemula. Ternyata, kemampuannya mulai terlihat. Dalam kesempatan yang juga disaksikan langsung oleh keluarganya itu, Nauval berhasil menyabet 3 juara sekaligus.

Karena yang dilihat kali pertama kuda pacu, Nauval pun menyukainya. Bukan kuda tunggang. Bahkan, ia sering menghabiskan waktu luangnya untuk menyaksikan kejuaraan kuda pacu di Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan.

Sampai pada suatu hari, seorang pelatih menawarinya naik kuda. Gayung bersambut. Sejak saat itu, Nauval belajar menunggang kuda. Tak ayal, ketertarikan terhadap kuda semakin terpupuk.

Keinginannya menjadi penunggang kuda semakin lapang ketika kembali diajak ayahnya ke rumah temannya di Kecamatan Pandaan. Di Internasional Cultur Center (ICC) itu, terdapat sejumlah kuda tunggang.

Kuda-kuda itu memang disiapkan khusus untuk berlatih kuda tunggang. “Di situ kemudian ditawari latihan di Trawas. Ya, saya ambil tanpa sepengetahuan ayah,” katanya.

Sejak saat itu, Nauval rutin latihan. Pertama latihan dilakukan dua minggu sekali. Karena, terlihat berbakat, sang pelatih menawarinya mengikuti pertandingan di Kota Surabaya. Ia pun turun lintasan. Ternyata, tidak mampu juara. Tetapi, kekalahan itu tidak membuatnya down. Malah semakin membuatnya tertantang untuk bisa lebih baik.

“Seperti naik kuda, saya jatuh. Itu malah saya semakin tertantang, kenapa bisa jatuh? Dalam pertandingan pertama ini, saya kan ikut dua round yang dilakukan dua hari. Saya hanya ikut sekali saja dan sudah pasti kalah,” jelasnya.

Pada akhir 2018, ia kembali mengikut kompetisi di Parompong, Bandung. Ini merupakan event sekala nasional. Nauval ikut dalam kategori pemula. Ternyata, kemampuannya mulai terlihat. Dalam kesempatan yang juga disaksikan langsung oleh keluarganya itu, Nauval berhasil menyabet 3 juara sekaligus.

MOST READ

BERITA TERBARU

/