alexametrics
26 C
Probolinggo
Friday, 27 November 2020

Kripik Jamur Milik Pelaku UKM Ini Tembus Inggris dan Rusia

Jamur tidak hanya bisa diolah menjadi sayur. Di tangan Wahyu Dwi Cahyani, 31, jamur tiram hasil budi dayanya bisa diolah menjadi berbagai makanan. Bahkan, pasar produknya kini tidak hanya di Pasuruan. Tetapi juga merambah Eropa, seperti Inggris dan Rusia.

————–

JAMUR krispi itu tersusun rapi di rak keranjang sudut ruangan. Rasanya beraneka ragam. Ada balado, barbeque, original dan aneka rasa lainnya. Gambar kemasan yang lucu menambah kesan menarik bagi yang memandang.

Brand kripik jamur Oyeye itulah, yang menjadi salah satu produk unggulan Wahyu Dwi Cahyani. Selain jamur krispi, ada beberapa produk olahan jamur lain buatan Yani-sapaan perempuan kelahiran Pasuruan, 13 Juli 1989 tersebut.

Seperti nugget jamur, botok jamur, hingga sate dan produk terbarunya, es jamur. “Ada lebih lima produk dari jamur yang saya buat,” kata Yani saat ditemui di rumahnya warga di Desa Gajahbendo, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan.

Yani mengaku tertarik dengan olahan jamur sejak akhir 2018. Ketika itu, ia kesulitan menjual jamur segar hasil budi dayanya di depan rumah. Maklum, hampir setiap hari jamur yang dibudidayakannya harus dipanen.

“Saya jual ke pasar-pasar dan tetangga sekitar. Tapi, karena panen setiap hari, hampir setiap hari pula masih ada sisa-sisa jamur yang tidak laku terjual,” kenangnya.

Ia sendiri mulai membudidayakan jamur sejak awal 2018. Usaha budi daya jamur itu digelutinya setelah melakukan survei usaha yang cocok untuknya. Semula dirinya hendak budi daya lele.

Namun, lulusan ilmu Biologi di Voronezh State University Rusia ini akhirnya kepincut dengan jamur setelah berbagai pertimbangan. “Kalau lele, saya merasa ribet untuk membudidayakannya. Apalagi sumber daya alamnya, seperti air tidak mumpuni di sini. Setelah melakukan pendalaman akhirnya saya memilih budi daya jamur,” kenang dia.

Modal yang digunakannya tidaklah banyak. Hanya sekitar Rp 1 juta untuk membuat ruang penyimpanan baglog beserta baglognya. Ia memanfaatkan bambu di pekarangan rumahnya untuk membuat ruangan khusus budi daya jamur tersebut.

Kala itu, ia membeli 500 baglog. Namun, lambat laun ia menambah baglog yang ada, hingga mencapai 3 ribu baglog. Dari ribuan baglog tersebut, produksi jamurnya bisa mencapai 10 kg per hari.

Setiap hari, ia memasarkan jamur-jamur tersebut ke tetangga dan pasar tradisional di Bangil. Namun, tidak semua bisa laku. Akibatnya, jamur yang semula segar menjadi layu. Karena tak laku, jamur-jamur itupun tak jarang berakhir di tong sampah.

Akhirnya, ia pun berpikir untuk mengolah jamur-jamur tersebut supaya bisa bertahan lama. Mulanya, ia mengubah jamur tersebut menjadi nugget. Supaya bisa dikonsumsi setiap saat atau sebagai lauk nasi.

Rupanya, banyak yang meminati. Namun, masih ada kendala untuk pemasaran. Terutama untuk pemasaran jarak jauh. Karena harus ditaruh dalam freezer agar tetap segar.

Ia kemudian melirik olahan lain. Supaya jamur bisa bertahan lama. Pengirimannya pun bisa lebih mudah. “Saya pun terpikir untuk menjadikan olahan jamur sebagai keripik,” ceritanya.

Uji coba pun dilakukan. Beberapa kali Yani gagal. Jamur yang digorengnya tidak serenyah yang diharapkan. Ia pun mempelajari apa yang menjadi kekurangan secara ototidak. Mulai dari takaran minyak, hingga pengapian.

Sampai akhirnya, kripik yang digoreng sesuai dengan keinginan. “Agar lebih menarik minat konsumen saya kasih perasa. Ternyata banyak juga yang mesan,” timpal dia.

Awalnya, kripik jamur itu dibungkusnya dengan plastik sederhana. Kripik-kripik itu hanya mampu menembus kantin-kantin sekolah. Hingga Oktober 2019, ia mulai mengubah kemasan agar lebih menarik minat.

“Saya juga ngurus perizinannya. Baik ke Dinkes ataupun ke instansi lain. Saya juga ikut pelatihan-pelatihan yang digelar Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Pasuruan dan instansi lain untuk membantu pengembangan usaha,” beber alumni SMAN 1 Bangil ini.

Hasilnya pun kian terasa. Karena produk jamur krispi buatannya dilirik toko oleh-oleh di Kota Pasuruan. Bahkan, toko-toko modern di wilayah Pasuruan raya juga mengambil barangnya. Setiap bulan, ratusan bungkus kripik jamur dipasoknya untuk toko-toko modern tersebut.

Menurut Yani, produk olahan kripik jamurnya tidak saja merambah lokal Pasuruan. Tetapi juga menembus pasar Jakarta. Bahkan, produk yang memiliki varian delapan rasa itu menembus Eropa. Yakni, Inggris dan Rusia.

“Bisa tembus ke Rusia dan Inggris, karena ada teman alumni di sana,” tutur anak kedua dari tiga bersaudara, pasangan Kukuh Santoso dan Anik Wahyuni ini.

Harga produknya bervariasi. Untuk jamur krispi berkisar antara Rp 12 ribu hingga Rp 15 ribu. Setiap bulannya ia bisa memproduksi kurang lebih seribu bungkus kripik jamur.

Dari kreasinya itu pula, ia mampu meraup omzet sekitar Rp 10 juta per bulan. Tentu, bukan hanya dari produk jamur krispi. Tetapi juga aneka olahan jamur lainnya.

Berangkat dari bisnisnya itu pula, ia mampu mempekerjakan setidaknya tiga karyawan hingga empat karyawan. “Kalau dulu ditangani sendiri. Sekarang melibatkan orang lain untuk membantu,” sambung dia.

Sukses yang diraihnya itu tentu tidak mudah. Karena, sebelum seperti sekarang ia kerap dibulli. Maklum, ia merupakan perempuan yang lulus sarjana luar negeri. Pandangan orang, seharusnya ia bekerja di kantoran dengan bayaran yang tinggi. Kenyataannya, saat awal merintis usaha ia hanya berdagang jamur.

“Tapi, sekarang saya bisa membuktikan kalau bisa sukses meski tidak bekerja kantoran,” ungkap perempuan yang juga berprofesi sebagai guru privat ini. (one/hn/fun)

- Advertisement -
- Advertisement -

MOST READ

Siswi SDN di Kraksaan Lolos dari Penculikan, Ini Ciri-Ciri Pelaku

KRAKSAAN, Radar Bromo - Niat Cld, 13, berangkat sekolah, Rabu (12/2) pagi berubah menjadi kisah menegangkan. Siswi SDN Kandangjati Kulon 1, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo,...

Mau Ke Tretes, Muda-mudi Asal Gempol Tertabrak Truk Tangki di Candiwates, Penumpangnya Tewas

PRIGEN – Nasib sial dialami pasangan muda-mudi ini. Minggu siang (20/1) keduanya terlibat kecelakaan saat hendak menuju Tretes, Akibatnya, satu orang tewas dan satu...

Siswa MI di Pandaan Tewas Gantung Diri, Diduga usai Smartphonenya Disembunyikan Orang Tua

PANDAAN, Radar Bromo – Tragis nian cara AA, 11, mengakhiri hidupnya. Pelajar di Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan ini, ditemukan tewas, Minggu (17/11) pagi. Dia...

Geger Mayat Wanita di Pantai Pasir Panjang-Lekok, Kondisinya Terikat Tali dan Dikaitkan Batu

LEKOK, Radar Bromo - Temuan mayat dengan kondisi terikat, kembali menggegerkan warga. Rabu (18/9) pagi, mayat perempuan tanpa identitas ditemukan mengapung di Pantai Pasir...

BERITA TERBARU

Awal Mengeluh Greges, Nakes RSUD dr Saleh Positif Covid-19 Meninggal

Sumarsono meninggal setelah sempat dirawat selama 7 hari di RSUD dr Moh Saleh.

Hendak Parkir, Truk Tertabrak Motor di Nguling

Saat berbelok ke arah utara, sopir truk tak mengetahui ada motor melaju dari arah barat ke arah timur.

Guru Dituntut Kreatif Mengajar di Tengah Pandemi  

Di saat pandemi, tugas guru tidak hanya sebagai pengajar tapi juga pembelajar, karena harus menemukan ide kreatif agar pembelajaran tetap menyenangkan.

Kali Wrati Masih Tercemar, Dewan Soroti Pengalihan Limbah

Polemik limbah yang mencemari sungai Wrati di Kecamatan Beji belum berakhir.

Perbaikan Jalan di Kab Probolinggo Dilanjut Hingga Akhir Tahun

Adanya perbaikan tersebut tidak terlepas dari adanya perubahan anggaran (P-APBD) yang dilakukan pihak PUPR