Catur Hayati, Pemilik Rumah Baca Fanelia yang Terinspirasi dari Tukang Becak

Pegiat literasi di Kota Pasuruan semakin bermunculan. Mereka ikut meningkatkan minat baca anak sejak usia dini. Catur Hayati di antaranya. Warga Kelurahan Kebonagung ini menggabungkan kegiatan membaca dengan menggambar dan permainan.

FAHRIZAL FIRMANI, Purworejo

Sejumlah bocah tampak asyik memilah buku di sebuah ruangan berukuran 6×8 meter itu. Mereka begitu antusias melihat gambar di bagian cover buku tersebut. Tak lama kemudian, mereka mengambil salah satu buku cerita bergambar di salah satu tumpukan rak.

SEMANGAT: Sejumlah bocah di Rumah Baca Fanelia. (Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

Sejurus kemudian, mereka mulai membacanya. Ada yang membaca di sudut ruangan. Ada yang memilih untuk membacanya di atas kursi yang disediakan. Mereka begitu tenggelam dalam kisah yang diceritakan buku tersebut.

Pemandangan ini rutin terlihat di Rumah Baca Fanelia di Jalan Panglima Sudirman, Gang Kadipaten IV, Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Purworejo sejak awal Februari lalu. Di kediaman Catur Hayati ini disulap menjadi perpustakaan mini.

Yati -sapaan akrabnya- mengungkapkan, ide pendirian rumah baca ini berawal dari pemberitaan di salah satu koran nasional pada 2017 silam. Di salah satu artikel beritanya tertulis seorang tukang becak yang menyediakan buku di becaknya.

Setiap kali tidak ada penumpang, ia selalu membaca koleksi buku yang dibawanya. Bahkan, penumpangnya pun dipersilakan untuk membaca buku dalam perjalanannya. Hal inilah yang akhirnya membuatnya terlecut untuk mendukung literasi di Kota Pasuruan.

“Jika tukang becak saja bisa melakukan sesuatu untuk mencerdaskan bangsa, kenapa saya tidak bisa? Dari sinilah, pada awal Februari lalu, saya mendirikan Rumah Baca Fanelia dengan memanfaatkan teras rumah,” kata ibu dua anak ini.

Awalnya, koleksi bukunya hanya sebanyak 100 buah. Jenis-jenisnya pun beragam mulai dari koleksi dongeng, fabel, sampai cerita bergambar. Koleksinya ini memang dikhususkan bagi anak usia dini mulai PAUD sampai kelas 6 SD.

Ia pun lantas menyosialisasikannya melalui media sosial. Dari sinilah, keberadaan rumah baca miliknya diketahui oleh komunitas literasi dan pustakawan di Kota Pasuruan. Akhirnya, donasi buku pun berdatangan. Bahkan, ada sejumlah pihak yang menjadi donatur pribadi.

Saat ini jumlah koleksinya mencapai 300 buah. Tidak hanya dongeng dan cerita bergambar saja, namun juga ada kisah nabi dan rasul, biografi pahlawan, dan ensiklopedi. Buku-buku ini disusun secara berurutan di dalam rak mini.

“Untuk memenuhi kebutuhan buku, saya kerap pergi ke Kota Surabaya. Waktunya pun tidak menentu. Kadang sebulan sekali atau tiga bulan sekali. Saya baru menghabiskan dana jutaan rupiah untuk membeli buku,” jelasnya.

Perempuan kelahiran 40 tahun silam ini menyebut, sejauh ini baru anak-anak di sekitar kompleks rumahnya yang rutin mendatangi rumah baca miliknya. Rata-rata dalam sehari, rumah bacanya didatangi sampai 10 orang.

Untuk menghilangkan kejenuhan, ia kerap melakukan sejumlah inovasi. Misalnya, anak tersebut diminta membawa krayon dari rumahnya untuk mewarnai buku bergambar yang sudah disediakan. Setelah itu, ia kembali mengajak mereka untuk kembali membaca.

Selain itu, rumah baca miliknya juga menyediakan sejumlah permainan tradisional. Mulai dari enggrang sampai sandal batok. Tujuannya, untuk menyegarkan pikiran yang suntuk selama membaca sekaligus melestarikan permainan tersebut.

“Untuk merangsang mereka agar kembali ke rumah baca, saya selalu memberikan mereka snack. Walaupun awalnya, mereka datang karena tergiur snack, lama-lama budaya membaca akan tertanam,” ungkap perempuan asal Kota Surabaya ini.

Ia berharap agar Rumah Baca Fanelia miliknya turut berperan serta dalam meningkatkan budaya membaca warga Kota Pasuruan. Rencananya, dalam waktu dekat ia berencana untuk melakukan sosialisasi ke setiap SD.

“Saya sangat percaya dengan falsafah kebodohan itu sangat dekat dengan kemiskinan. Dan, salah satu cara memutus rantai kebodohan adalah dengan membaca. Sebab, membaca membuat kita menjadi pandai,” pungkasnya. (fun)