alexametrics
25.2 C
Probolinggo
Sunday, 26 June 2022

Jadi Pjs Wali Kota Pasuruan, Ardo Sahak Fokus Tangani Pandemi

Di tengah konstelasi Pilwali Pasuruan, wali kota Pasuruan dijabat sementara oleh Ardo Sahak, Asisten 1 Pemprov Jawa Timur. Dua tugas besar jadi prioritas pemerintahan yang dipimpinnya kini. Yaitu, menangani pandemi Covid-19 dan menyukseskan Pilwali Pasuruan pada 9 Desember mendatang.

—————-

SEJAK Jumat, 25 September 2020, jabatan Wali kota Pasuruan sementara dipegang oleh penjabat sementara (Pjs). Dia adalah Dr. Ardo Sahak, S.E, M.M yang dilantik oleh Gubenur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Pelantikan dilakukan malam hari, yaitu Jumat (24/9) malam di gedung Grahadi Kota Surabaya. Dan esoknya, dia langsung berkantor di Pemkot Pasuruan. Sesuai mandat Gubernur Jawa Timur.

“Jadi Jumatnya dilantik, Sabtu esok harinya saya sudah di Kota Pasuruan, walaupun sebenarnya hari libur. Hari itu juga, saya mengumpulkan tim Gugus Tugas Kota Pasuruan,” terangnya saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo di kantor Wali Kota Pasuruan.

Saat ini, terhitung 3 minggu dia berkantor di Pasuruan. Selama itu pula, dia belum pernah nyambangi ruangannya di Pemprov Jawa Timur.

“Sudah tiga minggu ini saya fokus di Kota Pasuruan dan belum pernah menginjak ke Pemprov. Ini juga sesuai arahan Gubernur Jatim agar fokus di Kota Pasuruan,” lanjutnya.

Selain melaksanakan tugas sebagai Pjs Wali Kota Pasuruan secara umum, ada dua prioritas yang menjadi perhatian dalam kepemimpinannya. Yaitu menekan penyebaran Covid-19. Dan menyukseskan Piwali Pasuruan yang penuh tantangan, lantaran dilaksanakan di tengah pandemi.

Saat awal dilantik, Kota Pasuruan memang masuk kategori zona merah penyebaran Covid-19. Karena itu, langkah menekan penyebaran Covid-19 harus ditangani serius dan sesegera mungkin. Apalagi, Kota Pasuruan akan menggelar Pilwali di tengah pandemi.

“Pilkada Kota Pasuruan dilaksanakan pada 9 Desember, dan saat tanggal tersebut kami belum bisa memastikan apakah Covid-19 ini sudah berhenti apa belum. Sehingga penting untuk menekan penyebaran Covid-19. Sebab, kalau masih tidak bagus, masyarakat juga enggan dan khawatir datang ke TPS,” jelasnya.

Karena itu, sejak H+1 kepemimpinannya di Kota Pasuruan, semua pihak diajak bahu membahu menekan laju penularan Covid-19. Mulai Gugus Tugas, Forkopimda, Sekda, Asisten, Staf Ahli dan kepala OPD. Dan terbukti, sampai Senin (19/10), Kota Pasuruan sudah masuk zona oranye.

Untuk menekan Covid-19, dia pun melihat secara detil penanganannya selama ini. Misalnya, penyemprotan disinfektan. Apakah sudah tetap sasaran dan dilaksanakan rutin dan terjadwal.

“Karena kalau hanya di jalan raya, tapi ada klaster di perumahan, klaster di rumah-rumah juga wajib disemprot menyeluruh. Hal ini yang kami evaluasi,” ujar bapak tiga anak ini.

Bahkan, secara bertahap camat sampai tingkat lurah pun diajak rapat. Tujuannya untuk mendapat laporan dan masukan secara riil tentang kondisi di lapangan sampai tingkat bawah. Dari sini pula, lantas dilakukan evaluasi untuk menekan penularan Covid-19.

“Jadi saya lebih suka mengetahui kondisi yang sebenarnya. Tidak hanya laporan yang baik-baik, perlu juga kroscek di lapangan. Kalau tidak bagus, lebih baik dilaporkan sesuai realita,” ujarnya.

Di tingkat kelurahan misalnya, ditanyakan kegiatan gugus tugas apa saja. “Ada operasi masker sampai rutin penyemprotan disinfektan, hal ini saya tanya detil. Apakah rutin dan teratur sesuai jadwal. Saya minta menjawab jujur agar yang dilaporkan sesuai dengan yang dilakukan,” lanjutnya.

Ardo Sahak sendiri bukan orang baru dalam pemerintahan. Dia sudah 30 tahun mengabdi sebagai PNS. Saat ini dia menjabat sebagai Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Pemprov Jatim. Sebelumnya, dia menjabat kepala Kominfo, kepala Balitbang, Asisten 3, kepala Badan Ketahanan Pangan juga staf ahli Pemprov Jatim.

Lulusan Doktor Unair Jurusan Pengembangan Sumber Daya Manusia ini mengatakan, Covid-19 memang menjadi konsennya. Apalagi, putri pertamanya seorang dokter dan sekarang bertugas sebagai garda depan melawan Covid-19 di Malang.

Selama bertugas di Pemkot Pasuruan, Ardo memilih pulang pergi dari rumahnya di Rungkut, Surabaya ke Kota Pasuruan. “Jam 6 saya sudah berangkat setiap pagi, dan untungnya dekat tol. Pilihan saya memang pulang, karena rumah dinas wali kota bersebelahan dengan ruang isolasi,” terangnya.

Namun, hal itu tak mengganggu kinerjanya. Sebab, saat ini pikiran dan tenaganya fokus menangani Kota Pasuruan.

Termasuk untuk persiapan Pilwali Pasuruan, Ardo rutin berkomunikasi dengan Forkompimda untuk kesuksesan pelaksanaannya. Dia juga melarang tegas ASN memihak.

“Kami fair tidak memihak siapapun, tapi kami melancarkan tugas kedinasan untuk berpartisipasi dalam melancarkan kesuksesan Pilwali Pasuruan,” ujarnya. (eka/fun)

Di tengah konstelasi Pilwali Pasuruan, wali kota Pasuruan dijabat sementara oleh Ardo Sahak, Asisten 1 Pemprov Jawa Timur. Dua tugas besar jadi prioritas pemerintahan yang dipimpinnya kini. Yaitu, menangani pandemi Covid-19 dan menyukseskan Pilwali Pasuruan pada 9 Desember mendatang.

—————-

SEJAK Jumat, 25 September 2020, jabatan Wali kota Pasuruan sementara dipegang oleh penjabat sementara (Pjs). Dia adalah Dr. Ardo Sahak, S.E, M.M yang dilantik oleh Gubenur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Pelantikan dilakukan malam hari, yaitu Jumat (24/9) malam di gedung Grahadi Kota Surabaya. Dan esoknya, dia langsung berkantor di Pemkot Pasuruan. Sesuai mandat Gubernur Jawa Timur.

“Jadi Jumatnya dilantik, Sabtu esok harinya saya sudah di Kota Pasuruan, walaupun sebenarnya hari libur. Hari itu juga, saya mengumpulkan tim Gugus Tugas Kota Pasuruan,” terangnya saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo di kantor Wali Kota Pasuruan.

Saat ini, terhitung 3 minggu dia berkantor di Pasuruan. Selama itu pula, dia belum pernah nyambangi ruangannya di Pemprov Jawa Timur.

“Sudah tiga minggu ini saya fokus di Kota Pasuruan dan belum pernah menginjak ke Pemprov. Ini juga sesuai arahan Gubernur Jatim agar fokus di Kota Pasuruan,” lanjutnya.

Selain melaksanakan tugas sebagai Pjs Wali Kota Pasuruan secara umum, ada dua prioritas yang menjadi perhatian dalam kepemimpinannya. Yaitu menekan penyebaran Covid-19. Dan menyukseskan Piwali Pasuruan yang penuh tantangan, lantaran dilaksanakan di tengah pandemi.

Saat awal dilantik, Kota Pasuruan memang masuk kategori zona merah penyebaran Covid-19. Karena itu, langkah menekan penyebaran Covid-19 harus ditangani serius dan sesegera mungkin. Apalagi, Kota Pasuruan akan menggelar Pilwali di tengah pandemi.

“Pilkada Kota Pasuruan dilaksanakan pada 9 Desember, dan saat tanggal tersebut kami belum bisa memastikan apakah Covid-19 ini sudah berhenti apa belum. Sehingga penting untuk menekan penyebaran Covid-19. Sebab, kalau masih tidak bagus, masyarakat juga enggan dan khawatir datang ke TPS,” jelasnya.

Karena itu, sejak H+1 kepemimpinannya di Kota Pasuruan, semua pihak diajak bahu membahu menekan laju penularan Covid-19. Mulai Gugus Tugas, Forkopimda, Sekda, Asisten, Staf Ahli dan kepala OPD. Dan terbukti, sampai Senin (19/10), Kota Pasuruan sudah masuk zona oranye.

Untuk menekan Covid-19, dia pun melihat secara detil penanganannya selama ini. Misalnya, penyemprotan disinfektan. Apakah sudah tetap sasaran dan dilaksanakan rutin dan terjadwal.

“Karena kalau hanya di jalan raya, tapi ada klaster di perumahan, klaster di rumah-rumah juga wajib disemprot menyeluruh. Hal ini yang kami evaluasi,” ujar bapak tiga anak ini.

Bahkan, secara bertahap camat sampai tingkat lurah pun diajak rapat. Tujuannya untuk mendapat laporan dan masukan secara riil tentang kondisi di lapangan sampai tingkat bawah. Dari sini pula, lantas dilakukan evaluasi untuk menekan penularan Covid-19.

“Jadi saya lebih suka mengetahui kondisi yang sebenarnya. Tidak hanya laporan yang baik-baik, perlu juga kroscek di lapangan. Kalau tidak bagus, lebih baik dilaporkan sesuai realita,” ujarnya.

Di tingkat kelurahan misalnya, ditanyakan kegiatan gugus tugas apa saja. “Ada operasi masker sampai rutin penyemprotan disinfektan, hal ini saya tanya detil. Apakah rutin dan teratur sesuai jadwal. Saya minta menjawab jujur agar yang dilaporkan sesuai dengan yang dilakukan,” lanjutnya.

Ardo Sahak sendiri bukan orang baru dalam pemerintahan. Dia sudah 30 tahun mengabdi sebagai PNS. Saat ini dia menjabat sebagai Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Pemprov Jatim. Sebelumnya, dia menjabat kepala Kominfo, kepala Balitbang, Asisten 3, kepala Badan Ketahanan Pangan juga staf ahli Pemprov Jatim.

Lulusan Doktor Unair Jurusan Pengembangan Sumber Daya Manusia ini mengatakan, Covid-19 memang menjadi konsennya. Apalagi, putri pertamanya seorang dokter dan sekarang bertugas sebagai garda depan melawan Covid-19 di Malang.

Selama bertugas di Pemkot Pasuruan, Ardo memilih pulang pergi dari rumahnya di Rungkut, Surabaya ke Kota Pasuruan. “Jam 6 saya sudah berangkat setiap pagi, dan untungnya dekat tol. Pilihan saya memang pulang, karena rumah dinas wali kota bersebelahan dengan ruang isolasi,” terangnya.

Namun, hal itu tak mengganggu kinerjanya. Sebab, saat ini pikiran dan tenaganya fokus menangani Kota Pasuruan.

Termasuk untuk persiapan Pilwali Pasuruan, Ardo rutin berkomunikasi dengan Forkompimda untuk kesuksesan pelaksanaannya. Dia juga melarang tegas ASN memihak.

“Kami fair tidak memihak siapapun, tapi kami melancarkan tugas kedinasan untuk berpartisipasi dalam melancarkan kesuksesan Pilwali Pasuruan,” ujarnya. (eka/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/