Adik-Kakak asal Sumberasih Kreasikan Seni lewat Talenan

Selama ini talenan hanya dimanfaatkan sebagai alat bantu di dapur. Namun, di tangan dua bersaudara Leda Azzadinnas Haque, 26 dan Ledy Fitria Ramadhani, 24, talenan bisa berubah menjadi pajangan cantik dengan lukisan yang menarik dan unik.

RIDHOWATI SAPUTRI, Sumberasih, Radar Bromo

Bakat seni memang mengalir dalam keluarga Leda Azzadinnas Haque, 26, warga Dusun Lori, Desa Sumur Mati, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo. Bersama adiknya, Ledy Fitria Ramadhani, 24, mereka berkolaborasi membuat suvenir dengan produk utamanya talenan lukis.

Biasanya, talenan memang hanya jadi alat bantu di dapur. Talenan, umumnya jadi alas untuk memotong bahan makanan. Namun, keduanya lantas menjadikannya sebagai media lukis.

Sejak kecil, keduanya memang sama-sama memiliki kegemaran menggambar. Beranjak dewasa, keduanya mulai merambah dunia melukis.

Saat kuliah dan jadi santri di Pondok Pesantren Putri Gontor di Ngawi, Leda pun mendapat tugas di divisi kesenian. Dia kebagian melukis media seperti tripleks. Kalau ada kegiatan, bisa ratusan tripleks yang dilukisnya.

Sekitar tahun 2017 saat di Ngawi itu, Leda melihat sebuah talenan kayu di dapur pesantren. Saat itu terbersit ide menjadikan talenan tersebut sebagai media lukis.

“Biasanya kan saya melukis di tripleks. Kemudian lihat talenan yang juga berbahan kayu, terpikir untuk melukis di sana. Akhirnya ada pesanan satu talenan lukis. Setelah itu tidak buat lagi,” ujarnya.

Pada Februari 2020, Leda pulang kampung setelah mengajar di Banten. Saat itulah, terpikir lagi untuk membuat talenan lukis.

Ide itu kemudian muncul lagi karena banyak kegiatan tidak bisa dilakukan selama pandemi korona. Termasuk kegiatan wisuda di ITS di Surabaya, tempat Ledy kuliah.

Padahal, setiap setelah wisuda, ada penjualan suvenir wisuda kepada wisudawan. Misalnya, penjualan buket bunga.

“Kegiatan di kampus saya di ITS seperti itu. Makanya tercetus untuk membuat talenan lukis ini sebagai hadiah wisuda yang bisa dikirimkan. Biasanya kan buket bunga. Tapi kan sulit karena bunga bisa rusak saat proses pengiriman kalau ini kan tidak,” ujar Ledy, sang adik yang saat ini kuliah semester akhir di ITS.

Terhitung sejak Juni 2020, putri pertama dan kedua pasangan Ismam dan Rahayu Listiani ini pun serius mengembangkan usaha suvenir talenan lukis. Mereka menggunakan nama Kukadokau.

“Nama ini berasal dari tujuan kami untuk memberikan kado secara eksklusif dan tidak pasaran. Makanya muncul nama Kukadokau,” terang Ledy.

Kemudian, Ledy mulai membuat desain untuk usahanya, termasuk branding-nya. Pemasaran melalui media sosial seperti Instagram dan marketplace pun dilakukan.

Ternyata usaha suvenir ini mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Terbukti dalam 3 bulan mereka menerima pesanan 50 talenan lukisan dan 10 flower box.

Flower box ini adalah salah satu kreasi yang terbilang baru di Kukadokau. Kotak bunga ini terbuat dari bahan kayu pinus dengan bunga yang terbuat dari bahan kaus kaki.

“Pemesanan paling jauh sampai ke Riau. Banyak juga pemesanan dari Jawa Barat,” ujar Ledy.

Tumbuh besar bersama, kedua gadis ini memiliki selera yang berbeda untuk lukisan yang dibuat. Ledy suka gambar-gambar yang cute atau lucu, sedangkan Leda lebih menyukai lukisan abstrak realistis.

“Kalau ada pesanan untuk kado bayi, saya yang buat. Atau ada pesanan gambar-gambar lucu, saya yang buat. Kalau yang agak serius-serius, kakak saya yang buat,” ujar Ledy.

Proses pembuatannya pun tidak terlalu lama. Satu orang dalam sehari bisa membuat enam lukisan. Karena itu, mereka berdua bisa menyelesaikan 12 lukisan sehari.

Untuk bahan-bahan utamanya, Leda menggunakan bahan kayu pinus yang telah dipotong oleh perajin. Jadi, mereka tidak memotong bahan sendiri.

“Kemudian kayu ini dicat dengan cat dasar untuk melapisi sebelum dilukis sesuai tema yang diinginkan. Untuk cat jenisnya akrilik. Setelah dicat dilakukan proses finishing supaya hasil lukisan ini antiair,” terangnya.

Bahan kayu pinus itu, diambil dari sisa pabrik. Karena itu, stoknya juga tergantung pabrik. “Bahan kayu pinusnya agak sulit sekarang dari perajin karena memang bahannya sisa dari pabrik,” ujar Leda. (hn)