alexametrics
31.9 C
Probolinggo
Thursday, 29 July 2021

Idul Adha saat PPKM Darurat, Rumah Potong Hewan Semakin Sibuk

Hari raya Idul Adha yang jatuh kemarin memang terasa berbeda. Masih serba dibatasi. Tapi tak menyurutkan penyembelihan hewan kurban. Saat PPKM Darurat, ada masjid atau musala yang tak menyembelih sendiri. Tapi menyerahkan ke rumah potong hewan (RPH).

—————

SEJUMLAH pria tampak mengelilingi kandang berbentuk persegi panjang di RPH kota Pasuruan di Jalan Ir Juanda, Kelurahan Blandongan, Kecamatan Bugul Kidul. Mereka mengecek puluhan ekor sapi dan kambing yang hendak dipotong sebagai hewan kurban tahun ini. Satu per satu indera pada hewan itu diperiksa untuk memastikan kondisi kesehatannya.

“Alhamdulillah. Kondisi hewan kurban di sini sehat. Tidak ada yang terjangkit penyakit. Mereka juga lahap makan rumput yang disediakan oleh petugas RPH. Insya Allah besok (hari ini), hewan hewan ini siap untuk dipotong untuk kurban,” ungkap Kepala RPH pada Dinas Pertanian Kota Pasuruan, drh. Nemu Hermawan.

Nemu menjelaskan, hewan kurban yang masuk tahun ini berjumlah 24 ekor sapi dan 35 ekor kambing. Jumlah ini hanya untuk pemotongan di hari pertama saja sehingga masih bisa bertambah. Ini meningkat dibandingkan sebelum pandemi pada 2019. Saat itu RPH hanya memotong 28 ekor sapi dan 35 ekor kambing selama empat hari serta 2020 sebanyak 58 ekor sapi dan 78 ekor kambing.

Hewan kurban harus dalam kondisi sehat dan bebas penyakit sehingga bisa disebut layak untuk disembelih. Ada dua penyakit yang biasanya menyerang hewan. Yakni penyakit diare. Ini biasanya dilihat dengan ada atau tidaknya kotoran di bagian dubur. Jika ada kotoran, maka hewan itu bisa disebut mengalami penyakit diare. Selain itu ada penyakit antraks biasnaya dilihat dari hewan itu gemetar.

“Kalau yang paling sering menyerang hewan itu diare sama antraks. Untuk memastikan sapi atau kambing itu sehat harus dilihat setiap indera yang dimiliki. Mulai dari mata, hidung, mulut, telinga hingga dubur. Kalau kena penyakit diare atau antraks hewan pasti tidak mau makan. Kalau diare ada kotoran di dubur, sementara antraks biasanya tubuh gemetar,” jelasnya.

Nemu mengaku jumlah hewan kurban yang dipotong di RPH tahun ini lebih banyak karena pengaruh pandemi. Banyak masjid yang menyerahkan hewan kurban pada RPH demi keamanan apalagi saat ini ada himbauan untuk menghindari kerumunan.

Pemotongan di RPH memiliki banyak kelebihan. Seperti kebersihan menjadi lebih terkontrol sebab limbah dioalah. Misalnya saja darah langsung dibuang ke saluran yang disediakan. Tentu ini lebih sehat dari segi medis bagi masyarakat.

Setiap kali pemotongan hewan kurban, pihaknya dibantu satu orang modin. Selain itu ada 14 tukang boleng untuk sapi serta 10 tukang boleng untuk kambing. Khusus modin merupakan staf RPH sementara tukang boleng berasal dari bukan staf RPH. Nah, RPH harus menyewa mereka. RPH sendiri memiliki tiga lokasi untuk pemotongan.

Sekali pemotongan, RPH bisa memotong 18 ekor sapi atau kambing atau 50 ekor dalam empat jam. Namun mekanisme pemotongan selama pandemi ini berbeda. Sebelumnya, RPH memperbolehkan satu keluarga yang memiliki hewan kurban untuk menyaksikan langsung. Namun khusus tahun ini hanya dibatasi satu orang.

Kalau memang pemotongan sudah selesai, maka seluruh keluarga yang berkurban baru dihubungi untuk datang ke RPH. Pihak RPH sendiri bisa memotong hewan kurban sesuai permintaan. Selain memotong, pihaknya juga menguliti, memotong per bagian hingga kecil kecil dan membersihkan jeroan. Dan ini tergantung permintaan. Sebab terkadang ada pihak yang meminta pemotongan per bagian saja tanpa dipotong kecil kecil.

Seperti Polres Pasuruan Kota yang rutin memotongkan hewan kurban mereka di RPH. Mereka hanya meminta dipotong per bagian saja, untuk ukurannya dilakukan sendiri oleh mereka.

“Retribusi di sini murah, cuma Rp 25 ribu untuk satu ekor sapi sementara kambing tidak ditarik biaya. Ini sesuai Perda Nomor 14 Tahun 2011. Cuma penarikannya kami lakukan pada tukang boleng. Pihak yang berkurban memberikan uang jasa pada tukang boleng, nanti uang retribusi kami minta ke mereka,” terangnya.

Di sisi lain, sejumlah masjid di Kota Pasuruan memilih tidak menyelenggarakan pemotongan hewan. Di antaranya masjid Jami Al Al Anwar Kota Pasuruan dan Masjid An Nur di Pesona Candi 3, Kelurahan Sekargadung, Kecamatan Purworejo.

Opik, warga Pesona Candi 3 mengaku tidak adanya penyelenggaraan pemotongan hewan kurban di Masjid An Nur. Ini atas kesepakatan bersama warga. Apalagi ada imbauan dari pemkot.

“Tidak ada pemotongan hewan kurban di masjid tempat saya. Warga sepakat seperti itu. Kan ada imbauan dari Pemkot untuk lebih aman karena saat ini masih PPKM darurat, pemotongan dialihkan ke RPH di Bugul Kidul saja,” sebutnya.

Tapi ada juga masjid yang tetap menyembelih hewan kurban. Tentunya pemotongan dilakukan dengan meneapkan protokoler kesehatan. Sebut saja masjid Muhajirin di Purutrejo, Kecamatan Purworejo. Selama memotong hewan kurban, jalan menuju masjid ditutup.

Panitia juga sudah menyiapkan alur distribusi dengan door to door. Sehingga tak ada antrean penerima di masjid.

Walau begitu, selama penyembelihan hewan kurban, warga sekitar terutama anak-anak, da yang datang. Mereka begitu ceria menyaksikan penyembelihan. Mereka pun nampak kompak mengenakan masker, dan sudah paham situasi saat ini adalah pandemi. (riz/fun)

Hari raya Idul Adha yang jatuh kemarin memang terasa berbeda. Masih serba dibatasi. Tapi tak menyurutkan penyembelihan hewan kurban. Saat PPKM Darurat, ada masjid atau musala yang tak menyembelih sendiri. Tapi menyerahkan ke rumah potong hewan (RPH).

—————

SEJUMLAH pria tampak mengelilingi kandang berbentuk persegi panjang di RPH kota Pasuruan di Jalan Ir Juanda, Kelurahan Blandongan, Kecamatan Bugul Kidul. Mereka mengecek puluhan ekor sapi dan kambing yang hendak dipotong sebagai hewan kurban tahun ini. Satu per satu indera pada hewan itu diperiksa untuk memastikan kondisi kesehatannya.

“Alhamdulillah. Kondisi hewan kurban di sini sehat. Tidak ada yang terjangkit penyakit. Mereka juga lahap makan rumput yang disediakan oleh petugas RPH. Insya Allah besok (hari ini), hewan hewan ini siap untuk dipotong untuk kurban,” ungkap Kepala RPH pada Dinas Pertanian Kota Pasuruan, drh. Nemu Hermawan.

Nemu menjelaskan, hewan kurban yang masuk tahun ini berjumlah 24 ekor sapi dan 35 ekor kambing. Jumlah ini hanya untuk pemotongan di hari pertama saja sehingga masih bisa bertambah. Ini meningkat dibandingkan sebelum pandemi pada 2019. Saat itu RPH hanya memotong 28 ekor sapi dan 35 ekor kambing selama empat hari serta 2020 sebanyak 58 ekor sapi dan 78 ekor kambing.

Hewan kurban harus dalam kondisi sehat dan bebas penyakit sehingga bisa disebut layak untuk disembelih. Ada dua penyakit yang biasanya menyerang hewan. Yakni penyakit diare. Ini biasanya dilihat dengan ada atau tidaknya kotoran di bagian dubur. Jika ada kotoran, maka hewan itu bisa disebut mengalami penyakit diare. Selain itu ada penyakit antraks biasnaya dilihat dari hewan itu gemetar.

“Kalau yang paling sering menyerang hewan itu diare sama antraks. Untuk memastikan sapi atau kambing itu sehat harus dilihat setiap indera yang dimiliki. Mulai dari mata, hidung, mulut, telinga hingga dubur. Kalau kena penyakit diare atau antraks hewan pasti tidak mau makan. Kalau diare ada kotoran di dubur, sementara antraks biasanya tubuh gemetar,” jelasnya.

Nemu mengaku jumlah hewan kurban yang dipotong di RPH tahun ini lebih banyak karena pengaruh pandemi. Banyak masjid yang menyerahkan hewan kurban pada RPH demi keamanan apalagi saat ini ada himbauan untuk menghindari kerumunan.

Pemotongan di RPH memiliki banyak kelebihan. Seperti kebersihan menjadi lebih terkontrol sebab limbah dioalah. Misalnya saja darah langsung dibuang ke saluran yang disediakan. Tentu ini lebih sehat dari segi medis bagi masyarakat.

Setiap kali pemotongan hewan kurban, pihaknya dibantu satu orang modin. Selain itu ada 14 tukang boleng untuk sapi serta 10 tukang boleng untuk kambing. Khusus modin merupakan staf RPH sementara tukang boleng berasal dari bukan staf RPH. Nah, RPH harus menyewa mereka. RPH sendiri memiliki tiga lokasi untuk pemotongan.

Sekali pemotongan, RPH bisa memotong 18 ekor sapi atau kambing atau 50 ekor dalam empat jam. Namun mekanisme pemotongan selama pandemi ini berbeda. Sebelumnya, RPH memperbolehkan satu keluarga yang memiliki hewan kurban untuk menyaksikan langsung. Namun khusus tahun ini hanya dibatasi satu orang.

Kalau memang pemotongan sudah selesai, maka seluruh keluarga yang berkurban baru dihubungi untuk datang ke RPH. Pihak RPH sendiri bisa memotong hewan kurban sesuai permintaan. Selain memotong, pihaknya juga menguliti, memotong per bagian hingga kecil kecil dan membersihkan jeroan. Dan ini tergantung permintaan. Sebab terkadang ada pihak yang meminta pemotongan per bagian saja tanpa dipotong kecil kecil.

Seperti Polres Pasuruan Kota yang rutin memotongkan hewan kurban mereka di RPH. Mereka hanya meminta dipotong per bagian saja, untuk ukurannya dilakukan sendiri oleh mereka.

“Retribusi di sini murah, cuma Rp 25 ribu untuk satu ekor sapi sementara kambing tidak ditarik biaya. Ini sesuai Perda Nomor 14 Tahun 2011. Cuma penarikannya kami lakukan pada tukang boleng. Pihak yang berkurban memberikan uang jasa pada tukang boleng, nanti uang retribusi kami minta ke mereka,” terangnya.

Di sisi lain, sejumlah masjid di Kota Pasuruan memilih tidak menyelenggarakan pemotongan hewan. Di antaranya masjid Jami Al Al Anwar Kota Pasuruan dan Masjid An Nur di Pesona Candi 3, Kelurahan Sekargadung, Kecamatan Purworejo.

Opik, warga Pesona Candi 3 mengaku tidak adanya penyelenggaraan pemotongan hewan kurban di Masjid An Nur. Ini atas kesepakatan bersama warga. Apalagi ada imbauan dari pemkot.

“Tidak ada pemotongan hewan kurban di masjid tempat saya. Warga sepakat seperti itu. Kan ada imbauan dari Pemkot untuk lebih aman karena saat ini masih PPKM darurat, pemotongan dialihkan ke RPH di Bugul Kidul saja,” sebutnya.

Tapi ada juga masjid yang tetap menyembelih hewan kurban. Tentunya pemotongan dilakukan dengan meneapkan protokoler kesehatan. Sebut saja masjid Muhajirin di Purutrejo, Kecamatan Purworejo. Selama memotong hewan kurban, jalan menuju masjid ditutup.

Panitia juga sudah menyiapkan alur distribusi dengan door to door. Sehingga tak ada antrean penerima di masjid.

Walau begitu, selama penyembelihan hewan kurban, warga sekitar terutama anak-anak, da yang datang. Mereka begitu ceria menyaksikan penyembelihan. Mereka pun nampak kompak mengenakan masker, dan sudah paham situasi saat ini adalah pandemi. (riz/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU