alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Friday, 19 August 2022

Kampung Kelor di Kelurahan Pekuncen yang Mengolah Minuman hingga Kue

Kelor merupakan salah satu jenis tanaman yang mudah tumbuh dalam iklim apapun. Menariknya, tanaman pagar itu tak hanya bisa diolah menjadi sayuran. Sejumlah warga kini mulai mengembangkan olahan daun kelor. Mulai dari minuman seduh hingga kue.

MUHAMAD BUSTHOMI, Panggungrejo, Radar Bromo

Seragam dinas melekat di tubuhnya. Bripka Setyo Budi baru saja mengikuti apel di Mapolres Pasuruan Kota, kemarin (20/7). Ia bergegas menuju Kelurahan Pekuncen, Kecamatan Panggungrejo.

Sebagai Bhabinkamtibmas, dia memang memiliki tugas memantau situasi di wilayah tersebut. Setelah berkeliling, Budi singgah di rumah Sujito, Ketua RW 01 yang juga Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Pekuncen.

Di rumahnya, Sujito tak sendirian. Ada Hari Meinani yang juga Ketua Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Pekuncen. Menjelang siang, mereka tengah berbincang mengenai pengolahan pangan. Selama ini, KRPL Pekuncen memang menginisiasi olahan daun kelor.

Sejak 2016 silam, Budi mulai mengajak warga yang tinggal di wilayah binaannya untuk menanam kelor. Saat itu, kelor memang tak banyak dijumpai di kampung itu. Sujito memulai menanam kelor di depan rumah hingga tepi area persawahan. Tak jarang, dia mendengar celetukan yang kurang mengenakkan.

“Mungkin warga menganggapnya aneh ya, tabu,” ucapnya.

KRPL: Awalnya Kampung Kelor diPekuncen dibuat untuk program kawasan rumah pangan lestari. (Foto: M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Bagi Sujito, tak mengherankan jika warga beranggapan seperti itu. Sebab selama ini kelor juga kerap dipakai untuk memandikan jenazah. Namun ia tak bergeming. “Saya tanam sampai banyak meskipun tidak ada warga yang mau mengolah jadi sayur,” sebutnya.

Di lain waktu, Sujito berupaya memberi pemahaman kepada warga. Salah satunya melalui kegiatan PKK. Dia ingat betul, saat itu dirinya punya buku yang tak begitu tebal. Isinya, mengenai penelitian-penelitian tentang kelor.

“Mulai sejak itu warga mulai mau mengolah sayur kelor,” katanya.

Sujito semakin bersemangat menanam kelor. Karena itu pula, kampung kelor itu mendapat ganjaran berupa penghargaan dari Pemprov Jawa Timur pada 2016. Dari berbagai kampung yang dinilai mewakili daerah masing-masing, kampung kelor mendapat peringkat ketiga.

Sejak itu, Budi juga sering menyampaikan manfaat daun kelor untuk kesehatan kepada masyarakat di kampung tersebut. Karena itulah, mereka sama-sama ingin mengolah kelor tidak hanya untuk sayuran. “Ternyata bisa juga diolah jadi makanan lain,” jelas Budi.

Belakangan ini, giliran Budi yang mendapatkan apresiasi sebagai polisi teladan dari institusinya. Dia dianggap berhasil membina kampung kelor itu sehingga warganya mampu mengolah kelor menjadi beraneka bentuk makanan dan minuman.

“Penghargaan saya terima bulan Juni kemarin, dari Pak Kapolda dan Pak Kapolri, jadi masuk peringkat ketiga di tingkat Polda,” bebernya.

Ketua KRPL Pekuncen Hari Meinani menjelaskan, ia dan warga yang lain kini mulai mengembangkan pengolahan daun kelor. Misalnya saja untuk dijadikan minuman seduh. Caranya pun cukup mudah. Daun kelor yang telah dipetik hanya perlu didiamkan selama 5 hingga 7 hari.

“Tidak dijemur, hanya diangin-anginkan saja supaya kering,” tuturnya. Nah, daun yang sudah mongering itulah yang kemudian diseduh. Air seduhannya dapat diminum seperti teh. “Sekarang ini karena sudah ada PIRT-nya, bisa dipasarkan. Per bungkus sekitar 20 hingga 30 gram itu dijual Rp 10 ribu,” tambahnya.

Tidak hanya dijadikan minuman, KRPL kemudian juga mengembangkan potensi bisnis lain dari daun kelor. Hasilnya, cukup beragam. Daun kelor yang umumnya hanya diolah menjadi sayuran, juga bisa menjadi bahan tepung, puding, mie, hingga setik.

Aneka makanan olahan berbahan daun kelor itu memang sudah mulai dipasarkan juga. Akan tetapi, daun kering untuk minuman seduh menjadi yang paling banyak diminati. Saat ini, KRPL berencana mengemas daun kering itu agar lebih rapi. Sehingga kemasannya nanti tak hanya untuk bahan teh tubruk, melainkan semacam teh celup.

Adapun makanan olahan lain seperti puding dan mie, biasanya disajikan di posyandu balita maupun lansia. “Kadang-kadang kami juga sampai bingung mencari inspirasi, mau diolah jadi apalagi kelor ini. Karena selain murah, kelor ini kan juga baik untuk kesehatan, banyak manfaatnya,” kelakar Mamik –sapaan Hari Meinani. (fun)

Kelor merupakan salah satu jenis tanaman yang mudah tumbuh dalam iklim apapun. Menariknya, tanaman pagar itu tak hanya bisa diolah menjadi sayuran. Sejumlah warga kini mulai mengembangkan olahan daun kelor. Mulai dari minuman seduh hingga kue.

MUHAMAD BUSTHOMI, Panggungrejo, Radar Bromo

Seragam dinas melekat di tubuhnya. Bripka Setyo Budi baru saja mengikuti apel di Mapolres Pasuruan Kota, kemarin (20/7). Ia bergegas menuju Kelurahan Pekuncen, Kecamatan Panggungrejo.

Sebagai Bhabinkamtibmas, dia memang memiliki tugas memantau situasi di wilayah tersebut. Setelah berkeliling, Budi singgah di rumah Sujito, Ketua RW 01 yang juga Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Pekuncen.

Di rumahnya, Sujito tak sendirian. Ada Hari Meinani yang juga Ketua Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Pekuncen. Menjelang siang, mereka tengah berbincang mengenai pengolahan pangan. Selama ini, KRPL Pekuncen memang menginisiasi olahan daun kelor.

Sejak 2016 silam, Budi mulai mengajak warga yang tinggal di wilayah binaannya untuk menanam kelor. Saat itu, kelor memang tak banyak dijumpai di kampung itu. Sujito memulai menanam kelor di depan rumah hingga tepi area persawahan. Tak jarang, dia mendengar celetukan yang kurang mengenakkan.

“Mungkin warga menganggapnya aneh ya, tabu,” ucapnya.

KRPL: Awalnya Kampung Kelor diPekuncen dibuat untuk program kawasan rumah pangan lestari. (Foto: M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Bagi Sujito, tak mengherankan jika warga beranggapan seperti itu. Sebab selama ini kelor juga kerap dipakai untuk memandikan jenazah. Namun ia tak bergeming. “Saya tanam sampai banyak meskipun tidak ada warga yang mau mengolah jadi sayur,” sebutnya.

Di lain waktu, Sujito berupaya memberi pemahaman kepada warga. Salah satunya melalui kegiatan PKK. Dia ingat betul, saat itu dirinya punya buku yang tak begitu tebal. Isinya, mengenai penelitian-penelitian tentang kelor.

“Mulai sejak itu warga mulai mau mengolah sayur kelor,” katanya.

Sujito semakin bersemangat menanam kelor. Karena itu pula, kampung kelor itu mendapat ganjaran berupa penghargaan dari Pemprov Jawa Timur pada 2016. Dari berbagai kampung yang dinilai mewakili daerah masing-masing, kampung kelor mendapat peringkat ketiga.

Sejak itu, Budi juga sering menyampaikan manfaat daun kelor untuk kesehatan kepada masyarakat di kampung tersebut. Karena itulah, mereka sama-sama ingin mengolah kelor tidak hanya untuk sayuran. “Ternyata bisa juga diolah jadi makanan lain,” jelas Budi.

Belakangan ini, giliran Budi yang mendapatkan apresiasi sebagai polisi teladan dari institusinya. Dia dianggap berhasil membina kampung kelor itu sehingga warganya mampu mengolah kelor menjadi beraneka bentuk makanan dan minuman.

“Penghargaan saya terima bulan Juni kemarin, dari Pak Kapolda dan Pak Kapolri, jadi masuk peringkat ketiga di tingkat Polda,” bebernya.

Ketua KRPL Pekuncen Hari Meinani menjelaskan, ia dan warga yang lain kini mulai mengembangkan pengolahan daun kelor. Misalnya saja untuk dijadikan minuman seduh. Caranya pun cukup mudah. Daun kelor yang telah dipetik hanya perlu didiamkan selama 5 hingga 7 hari.

“Tidak dijemur, hanya diangin-anginkan saja supaya kering,” tuturnya. Nah, daun yang sudah mongering itulah yang kemudian diseduh. Air seduhannya dapat diminum seperti teh. “Sekarang ini karena sudah ada PIRT-nya, bisa dipasarkan. Per bungkus sekitar 20 hingga 30 gram itu dijual Rp 10 ribu,” tambahnya.

Tidak hanya dijadikan minuman, KRPL kemudian juga mengembangkan potensi bisnis lain dari daun kelor. Hasilnya, cukup beragam. Daun kelor yang umumnya hanya diolah menjadi sayuran, juga bisa menjadi bahan tepung, puding, mie, hingga setik.

Aneka makanan olahan berbahan daun kelor itu memang sudah mulai dipasarkan juga. Akan tetapi, daun kering untuk minuman seduh menjadi yang paling banyak diminati. Saat ini, KRPL berencana mengemas daun kering itu agar lebih rapi. Sehingga kemasannya nanti tak hanya untuk bahan teh tubruk, melainkan semacam teh celup.

Adapun makanan olahan lain seperti puding dan mie, biasanya disajikan di posyandu balita maupun lansia. “Kadang-kadang kami juga sampai bingung mencari inspirasi, mau diolah jadi apalagi kelor ini. Karena selain murah, kelor ini kan juga baik untuk kesehatan, banyak manfaatnya,” kelakar Mamik –sapaan Hari Meinani. (fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/