Jeritan Usaha Pangkas Rambut Kebonagung di Tengah Pandemi

Jelang lebaran, biasanya jadi momen tukang cukur rambut di kawasan Pasar Kebonagung. Namun, tahun ini kondisinya sangat berbeda.

 

=======================

 

SEORANG pria berkacamata tampak berada di sebuah ruangan berukuran 4×6 meter. Ia memegang pisau cukur di tangan kanan. Di depannya seorang bocah duduk di kursi kecil dan menghadap pada cermin.

Dengan sedikit aba-aba, bocah itu mengarahkan pria di belakangnya untuk mencukur rambut sesuai model yang diinginkan. Usai memahami maksud yang diinginkan, pria tersebut mulai mencukur rambut si bocah dengan penuh hati-hati.

Pemandangan ini rutin terlihat di kios pangkas rambut di Pasar Kebonagung, setiap harinya. Maklum, mendekati Lebaran seperti saat ini, masyarakat yang datang untuk merapikan rambutnya biasanya meningkat.

Namun, tahun ini berbeda. Sejak adanya wabah korona, pendapatan yang diperoleh tukang cukur menurun drastis dibanding periode yang sama tahun lalu. Seperti diungkapkan salah satu tukang cukur di kios bernama Ras, M. Aryanto.

Menurutnya, omzet yang diperolehnya turun hingga 60 persen. Sepekan menjelang Ramadan, tempatnya bisa melayani masyarakat yang ingin cukur hingga pukul 02.00. Dalam satu hari bisa memperoleh Rp 300 ribu. Bahkan, ia harus dibantu rekannya untuk melayani pelanggan karena tidak mampu untuk melakukannya seorang diri.

Namun, kini paling banter hanya dapat Rp 100 ribu. Bahkan, dalam waktu 1,5 jam, hanya memperoleh dua pelanggan. Kondisi ini, kata Aryanto, karena adanya pemberlakuan physical distancing di Kota Pasuruan. Seperti di Jalan Panglima Sudirman, Jalan Sultan Agung, dan Jalan Pahlawan.

Physical distancing itu diberlakukan pada waktu berbeda. Pada Jumat mulai pukul 19.00 hingga 00.00, sedangkan pada Sabtu-Minggu pada pukul 07.00 hingga pukul 12.00 dan pukul 19.00 hingga pukul 00.00. karenanya, banyak masyarakat yang tidak keluar rumah karena adanya penutupan jalan.

“Biasanya kalau akhir pekan itu ramai. Apalagi kalau mendekati Lebaran seperti saat ini. Saya bisa nerima pelanggan sampai empat orang dalam satu waktu. Jadi, harus dilakukan dua orang biar pelanggan tidak menunggu lama. Kalau sekarang 30 menit kadang belum tentu ada pelanggan,” ungkapnya.

Pernyataan serupa disampaikan Imam Rusdian, tukang  pangkas rambut di Salon Imade. Katanya, pada akhir pekan biasanya mendapatkan 10 orang pada pagi selama lima jam. Namun, saat ini hanya tiga orang atau menurun hingga 30 persen.

Kertika Senin-Jumat, malah lebih parah. Ia mengaku hanya memperoleh dua orang. Kondisi ini terjadi merata di seluruh pangkas rambut. “Mau gimana. Kami tetap buka untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. Kami berharap ada perhatian dari Pemkot. Utamanya, dari dinas terkait pada usaha kecil di Kota Pasuruan seperti pangkas rambut,” ujarnya.

Sementara tukang potong rambut Ras, As’ad ikut membenarkan kondisi ini. Ia mengaku mendapatkan giliran jaga pada malam hari. Saat ada pemberlakuan physical distancing seperti saat ini, ia terkadang hanya menerima pelanggan sebanyak dua orang selama tiga jam.

Meski demikian, pihaknya tetap membuka jasa pangkas hingga pukul 21.00. Tarif yang dikenakan bagi orang dewasa naik menjadi Rp 13 ribu dari sebelumnya Rp 10 ribu sementara anak-anak tetap Rp 10 ribu. Tarif ini sudah disepakati seluruh tukang pangkas di Pasar Kebonagung.

Pihaknya sendiri hanya bisa pasrah dengan kondisi ini. Alasannya, wabah korona yang terjadi hampir merata di seluruh Indonesia. Ia berharap agar kondisi ini segera berlalu, sehingga masyarakat bisa beraktivitas dengan normal. “Kalau malam saat akhir pekan karena ada physical distancing, pelanggan yang datang tidak menentu. Dua orang saja sudah untung. Mudah-mudahan cepat berlalu kondisi ini,” harapnya. (fahrizal firmani/rud)