alexametrics
24.9 C
Probolinggo
Tuesday, 17 May 2022

Sosok Kartini di Masa Pandemi; Selamatkan Banyak Pasien, Kehilangan Suami

Pandemi Covid-19 yang menyerang dunia belum musnah. Bahkan, beranak pinak, berevolusi dengan varian-varian baru. Tetapi, dampaknya sedikit demi sedikit bisa teratasi. Karena pandemi Covid pula, memunculkan kartini-kartini baru yang berperan sangat krusial dalam penanganannya.

 

MUKHAMAD ROSYIDI, Pasuruan, Radar Bromo

 

DEDIKASI Munawaroh begitu tinggi selama pandemi Covid-19 berlangsung di Kota Pasuruan. Perempuan 53 tahun itu sepenuh hati menunaikan amanah sebagai petugas Swab RT-PCR untuk mencegah penyebaran Covid-19. Dia tidak mengira suaminya sendiri akhirnya tertular dan meninggal.

Waktu menceritakan kepergian sang suami kepada Jawa Pos Radar Bromo, suara Munawaroh bergetar. Matanya berkaca-kaca. Meski dua tahun lalu musibah itu terjadi, perasaan kehilangan orang terkasih masih kuat membekas.

”Maaf ya, saya memang sering nangis kalau teringat bapak,” ujar ibu dari dua anak itu saat ditemui di kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pasuruan di Jalan Juanda, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, Selasa (19/4).

Munawaroh masih ingat betul apa yang menimpa suaminya, Nurhasan pada Juli 2020. Sangat pahit bagi hidupnya. Nurhasan bekerja sebagai sopir travel. Sebelum pandemi mewabah, mereka tinggal berdua di Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo.

Kadang, cucu kedua dari anaknya yang pertama, Nurrizal Setiawan, 30, datang menginap beberapa hari. Namanya, Muhammad Brian Virendra Setiawan. Umurnya 3 tahun. Biasanya Brian diantar Jumat dan dijemput Senin. Karena itu, dia dekat sekali dengan neneknya.

Pandemi Covid-19 yang menyerang dunia belum musnah. Bahkan, beranak pinak, berevolusi dengan varian-varian baru. Tetapi, dampaknya sedikit demi sedikit bisa teratasi. Karena pandemi Covid pula, memunculkan kartini-kartini baru yang berperan sangat krusial dalam penanganannya.

 

MUKHAMAD ROSYIDI, Pasuruan, Radar Bromo

 

DEDIKASI Munawaroh begitu tinggi selama pandemi Covid-19 berlangsung di Kota Pasuruan. Perempuan 53 tahun itu sepenuh hati menunaikan amanah sebagai petugas Swab RT-PCR untuk mencegah penyebaran Covid-19. Dia tidak mengira suaminya sendiri akhirnya tertular dan meninggal.

Waktu menceritakan kepergian sang suami kepada Jawa Pos Radar Bromo, suara Munawaroh bergetar. Matanya berkaca-kaca. Meski dua tahun lalu musibah itu terjadi, perasaan kehilangan orang terkasih masih kuat membekas.

”Maaf ya, saya memang sering nangis kalau teringat bapak,” ujar ibu dari dua anak itu saat ditemui di kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pasuruan di Jalan Juanda, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, Selasa (19/4).

Munawaroh masih ingat betul apa yang menimpa suaminya, Nurhasan pada Juli 2020. Sangat pahit bagi hidupnya. Nurhasan bekerja sebagai sopir travel. Sebelum pandemi mewabah, mereka tinggal berdua di Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo.

Kadang, cucu kedua dari anaknya yang pertama, Nurrizal Setiawan, 30, datang menginap beberapa hari. Namanya, Muhammad Brian Virendra Setiawan. Umurnya 3 tahun. Biasanya Brian diantar Jumat dan dijemput Senin. Karena itu, dia dekat sekali dengan neneknya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/