alexametrics
25C
Probolinggo
Tuesday, 20 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Melihat Road Show Hijrah Hapus Tato di Kota Probolinggo

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Bagi sebagian orang, tato yang dimiliki menggambarkan kisah tersendiri. Sehingga, tidak sedikit yang ingin menghapus tato sebagai salah satu cara untuk hidup lebih baik. Salah satunya melalui Hijrah Hapus Tato.

RIDHOWATI SAPUTRI, Probolinggo, Radar Bromo

Suasana di ruang aula rumah dinas Wali Kota Probolinggo yang biasanya digunakan untuk Posko Gugus Tugas covid-19 berubah fungsi. Ruang tersebut, Sabtu (20/2) digunakan untuk kegiatan sosial yang dilakukan kelompok Masyarakat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Yaitu, hijrah hapus tato.

Ruangan itupun diatur sedemikian rupa agar tetap menerapkan protokol kesehatan. Ada beberapa kursi untuk peserta hapus tato yang diatur berjarak 1 meter.

Kemarin (20/2), merupakan hari pertama kegiatan hijrah hapus tato dilakukan. Tidak hanya untuk laki-laki, namun juga untuk perempuan.

Berbeda dengan fasilitas hapus tato di klinik swasta, kegiatan ini menyaratkan ketentuan hijrah bagi peserta hapus tato. Salah satunya, peserta hafal beberapa surat Alquran.

“Hapus tato dilakukan hari ini dan besok bagi warga yang ingin hijrah. Ada syarat yang harus dipenuhi untuk peserta. Yaitu, hafal surat Al-Quraisy, Al-Maun dan Al-Fil. Serta tulus istiqomah untuk berhijrah,” terang Suhadak, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Kota Probolinggo, kemarin (20/2).

Tentu saja, persyaratan kesehatan harus dipenuhi. Seperti sehat jasmani dan rohani, bebas varises, hepatitis, AIDS, diabetes dan keloid. Serta berpakaian rapi, sopan dan menutup aurat.

Untuk memudahkan kegiatan itu, pendaftaran dilakukan online dan offline. “Ternyata antusiasme masyarakat tinggi. Yang mendaftar online saja 120 orang lebih. Belum lagi yang mendaftar offline. Makanya untuk offline dilakukan besok sore,” ujarnya.

Harian Jawa Pos Radar Bromo melihat langsung proses penghapusan tato. Seorang petugas dengan menggunakan sarung tangan latex menggerakkan alat untuk menembakkan laser ke kulit peserta.

Terdengar suara ketika alat laser diarahkan pada kulit yang bertato. Abdurahman Wahid, 34, warga Balung, Kabupaten Jember merupakan salah satu peserta yang menjalani program hapus tato.

Salah satu lengan bajunya diangkat untuk menghapus tato di bagian lengan atas. Tidak hanya di lengan, tato di bagian betis juga dihapus.

Setelah tato di lengan dan betis dihapus dengan laser, seorang petugas mengarahkan Abdurahman ke meja lain untuk mendapat perawatan pasca laser. Petugas tersebut mengoleskan bioplacenton dan dilanjutkan dengan membebat dengan perban bagian yang dilaser.

Tono Widiatmoko, ketua tim treatment hapus tato menjelaskan bahwa proses hapus tato dengan laser ini tidak bisa terlihat hasilnya dalam satu kali proses. Harus perlu beberapa kali laser sampai tato terhapus.

“Laser ini sebenarnya memiliki fungsi sama seperti pada alat kecantikan. Kalau dikenakan pada kulit yang tidak bertato, maka alatnya tidak berbunyi dan tidak terasa apapun. Namun saat mengenai kulit yang bertato pasti bunyi dan terasa seperti ditembak. Namanya tembak laser,” terangnya.

Wartawan Jawa Pos Radar Bromo pun sempat mencoba tembak laser di tangan yang ada bekas luka. Terdengar suara tembakan kecil. Namun tidak terasa sakit.

“Setelah dilaser, maka bagian yang telah dilaser ini diberi bioplacenton dan ditutup perban. Tidak boleh terkena air selama tiga jam,” terangnya.

Alasan tidak boleh terkena air adalah untuk menghindari infeksi, karena bakteri atau kuman di air. Sehingga selama 3 jam tidak boleh terkena air.

“Tato berwarna hitam lebih mudah dihilangkan daripada tato yang memiliki warna,” tambahnya.

Abdurahman sendiri sebagai salah satu peserta, mengaku telah lama ingin menghapus tato dari tubuhnya. Tato itu dibuatnya saat masih muda.

“Dapat informasi kalau di Kota Probolinggo ada road show hapus tato ini, makanya saya ke sini. Kalau ditanya sakitnya, lebih sakit saat buat tato,” ujarnya.

Sayangnya Abdurahman enggan bercerita banyak alasannya dulu membuat tato. Menurutnya membuat tato adalah bagian dari masa lalu.

“Saya ingin hijrah, makanya saya hapus tato ini,” pungkasnya. (hn)

Mobile_AP_Rectangle 1

Bagi sebagian orang, tato yang dimiliki menggambarkan kisah tersendiri. Sehingga, tidak sedikit yang ingin menghapus tato sebagai salah satu cara untuk hidup lebih baik. Salah satunya melalui Hijrah Hapus Tato.

RIDHOWATI SAPUTRI, Probolinggo, Radar Bromo

Suasana di ruang aula rumah dinas Wali Kota Probolinggo yang biasanya digunakan untuk Posko Gugus Tugas covid-19 berubah fungsi. Ruang tersebut, Sabtu (20/2) digunakan untuk kegiatan sosial yang dilakukan kelompok Masyarakat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Yaitu, hijrah hapus tato.

Mobile_AP_Half Page

Ruangan itupun diatur sedemikian rupa agar tetap menerapkan protokol kesehatan. Ada beberapa kursi untuk peserta hapus tato yang diatur berjarak 1 meter.

Kemarin (20/2), merupakan hari pertama kegiatan hijrah hapus tato dilakukan. Tidak hanya untuk laki-laki, namun juga untuk perempuan.

Berbeda dengan fasilitas hapus tato di klinik swasta, kegiatan ini menyaratkan ketentuan hijrah bagi peserta hapus tato. Salah satunya, peserta hafal beberapa surat Alquran.

“Hapus tato dilakukan hari ini dan besok bagi warga yang ingin hijrah. Ada syarat yang harus dipenuhi untuk peserta. Yaitu, hafal surat Al-Quraisy, Al-Maun dan Al-Fil. Serta tulus istiqomah untuk berhijrah,” terang Suhadak, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Kota Probolinggo, kemarin (20/2).

Tentu saja, persyaratan kesehatan harus dipenuhi. Seperti sehat jasmani dan rohani, bebas varises, hepatitis, AIDS, diabetes dan keloid. Serta berpakaian rapi, sopan dan menutup aurat.

Untuk memudahkan kegiatan itu, pendaftaran dilakukan online dan offline. “Ternyata antusiasme masyarakat tinggi. Yang mendaftar online saja 120 orang lebih. Belum lagi yang mendaftar offline. Makanya untuk offline dilakukan besok sore,” ujarnya.

Harian Jawa Pos Radar Bromo melihat langsung proses penghapusan tato. Seorang petugas dengan menggunakan sarung tangan latex menggerakkan alat untuk menembakkan laser ke kulit peserta.

Terdengar suara ketika alat laser diarahkan pada kulit yang bertato. Abdurahman Wahid, 34, warga Balung, Kabupaten Jember merupakan salah satu peserta yang menjalani program hapus tato.

Salah satu lengan bajunya diangkat untuk menghapus tato di bagian lengan atas. Tidak hanya di lengan, tato di bagian betis juga dihapus.

Setelah tato di lengan dan betis dihapus dengan laser, seorang petugas mengarahkan Abdurahman ke meja lain untuk mendapat perawatan pasca laser. Petugas tersebut mengoleskan bioplacenton dan dilanjutkan dengan membebat dengan perban bagian yang dilaser.

Tono Widiatmoko, ketua tim treatment hapus tato menjelaskan bahwa proses hapus tato dengan laser ini tidak bisa terlihat hasilnya dalam satu kali proses. Harus perlu beberapa kali laser sampai tato terhapus.

“Laser ini sebenarnya memiliki fungsi sama seperti pada alat kecantikan. Kalau dikenakan pada kulit yang tidak bertato, maka alatnya tidak berbunyi dan tidak terasa apapun. Namun saat mengenai kulit yang bertato pasti bunyi dan terasa seperti ditembak. Namanya tembak laser,” terangnya.

Wartawan Jawa Pos Radar Bromo pun sempat mencoba tembak laser di tangan yang ada bekas luka. Terdengar suara tembakan kecil. Namun tidak terasa sakit.

“Setelah dilaser, maka bagian yang telah dilaser ini diberi bioplacenton dan ditutup perban. Tidak boleh terkena air selama tiga jam,” terangnya.

Alasan tidak boleh terkena air adalah untuk menghindari infeksi, karena bakteri atau kuman di air. Sehingga selama 3 jam tidak boleh terkena air.

“Tato berwarna hitam lebih mudah dihilangkan daripada tato yang memiliki warna,” tambahnya.

Abdurahman sendiri sebagai salah satu peserta, mengaku telah lama ingin menghapus tato dari tubuhnya. Tato itu dibuatnya saat masih muda.

“Dapat informasi kalau di Kota Probolinggo ada road show hapus tato ini, makanya saya ke sini. Kalau ditanya sakitnya, lebih sakit saat buat tato,” ujarnya.

Sayangnya Abdurahman enggan bercerita banyak alasannya dulu membuat tato. Menurutnya membuat tato adalah bagian dari masa lalu.

“Saya ingin hijrah, makanya saya hapus tato ini,” pungkasnya. (hn)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2