Nova Agnes Damayanti, Pegawai Sat Tahti Polres Pasuruan Kota Yang Sudah Tulis Tiga Novel dan Sejumlah Puisi

Dalam kesehariannya, Nova Agnes Damayanti dikenal sebagai pegawai administrasi di Satuan Perawatan Tahanan dan  Barang Bukti (Sat Tahti) Polres Pasuruan Kota. Namun, di luar kesibukannya, ia adalah pegiat literasi yang rutin menulis.

=============-=======================

WANITA berseragam abu-abu itu serius menatap layar komputer di hadapannya. Dengan penuh kehati-hatian, ia memasukkan data nama tahanan yang baru masuk di Polres Pasuruan Kota. Berulang kali hal ini dilakukan olehnya.

Kegiatan ini menjadi aktivitas rutin yang dilakukan Nova Agnes Damayanti di Polres Pasuruan Kota di Jalan Gajah Mada, Kota Pasuruan. Maklum, gadis berjilbab itu memang bekerja sebagai pegawai administrasi di mapolres setempat sejak pertengahan 2018.

Nova -sapaan akrabnya- mengungkapkan, ia bekerja di Polres Pasuruan Kota sejak Mei 2018. Awalnya ia tidak pernah berpikir akan bekerja di Polres. Sebab, ia sempat takut, apalagi mendengar cerita tentang polisi sebagi sosok yang keras.

“Namun, ternyata anggapan saya itu keliru. Teman-teman dari kalangan polisi memperlakukan saya dengan baik. Sekarang saya sudah nyaman dan betah bekerja di sini,” ungkapnya.

Sebagai pegawai administrasi di Sat Tahti, ia memiliki tugas mencatat tahanan yang masuk dan keluar di Mapolres. Termasuk menghitung hari yang berkaitan dengan perpanjangan masa tahanan. Ini, dilakukan pada Senin sampai Jumat mulai pukul 08.00 sampai pukul 15.00.

“Saya tahu ada pekerjaan ini dari kenalan ayah yang bernama Pulo. Dia anggota Sarpras di Polres Jember dan menginformasikan pekerjaan ini ke saya,” jelasnya.

Wanita kelahiran November 1996 ini mengaku di luar kesibukannya sebagai pegawai di Sat Tahti, dirinya juga aktif dalam bidang literasi. Ia kerap menulis dan membagi tulisannya di sejumlah website dan komunitas online. Tak terhitung karya yang sudah dibuatnya, termasuk di antaranya tiga buah novel.

Kegiatan ini sudah dilakukan olehnya sejak 2016. Awalnya ia menulis karena iseng. Kebetulan ia juga memiliki kegemaran membaca, baik itu novel maupun ensiklopedia. Dari sini, ia lantas memiliki keinginan untuk menjadi pegiat literasi dengan membagi karya-karyanya pada pembaca.

“Usai pulang dari bekerja, saya langsung membaca buku. Begitu ada ide, saya langsung menulis. Ya, awalnya sih memang karena hobi, namun ternyata jadi keterusan,” terangnya.

Alumni SMA Negeri 1 Jenggawah, Kabupaten Jember, ini menerangkan, sejauh ini karya-karyanya belum pernah dibukukan. Ia lebih memilih membagi karyanya melalui aplikasi Wattpad miliknya di @agnessbi. Bahkan, salah satu karyanya yang berjudul La Lluvia: Hujanku Adalah Kamu sempat dibaca hingga 18 ribu kali di aplikasi ini.

Selain itu, ia juga menulis dua novel lainnya yang berjudul Remember: The Strains of Love dan 4 O’clock. Kedua karya novel ini juga bisa dibaca di aplikasi wattpad. Genre yang ditulis olehnya menitikberatkan pada cinta dan detektif. Namun, ia selalu menyelipkan pesan moral di setiap novel yang ditulisnya.

Misalnya La Lluvia, dalam novel ini menceritakan tentang kejadian masa lalu soal peristiwa yang dianggap pembunuhan. Namun, ternyata itu hanya bunuh diri. Dari sini pembaca bisa mengambil pesan untuk tidak langsung percaya dan harus lebih berhati-hati saat mengecek sesuatu yang dianggap janggal.

“Memang belum ada karya komersial yang saya terbitkan secara mandiri. Sejauh ini saya masih ikut antologi menulis atau mempublikasikan di Wattpad,” sebutnya.

SENANG LITERASI: Selain novel, Nova Agnes juga kerap bikin pusi. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

Anak dari pasangan suami istri (pasutri), M. Agus Sholeh dan  Nur Chasanah ini mengaku dirinya juga pernah ikut sebuah event kepenulisan puisi pada 2018. Dan salah satu puisinya waktu itu yang berjudul Sebait Ayat di Sayap Ayah berhasil masuk 20 besar dan diterbitkan dalam buku antologi.

Di luar itu, ia juga sempat menulis empat puisi juga untuk antologi.Yakni, Kenangan dan Perpisahan; Surat Penebus Dosa; Raya Fitri Penyejuk Hati; dan Harapan Tahun Baru. Karyanya ini biasanya ditulis di smartphone miliknya sebelum di-publikasi. Tentunya jika ia merasa jenuh saat menulis, ia biasanya berhenti dan melalukan aktivitas lain untuk menjernihkan pikiran.

Ke depannya, ia berharap karya-karyanya bisa terbit secara komersial dan diterima oleh masyarakat dengan memanfaatkan jaringan media sosial (medsos). Sebab, ia berharap dirinya bisa menularkan budaya membaca di kalangan masyarakat Indonesia.

“Beberapa waktu lalu ada tawaran dari salah satu penerbit untuk menulis di situ. Cuma saya masih meneliti dulu mana yang bagus untuk saya,” pungkasnya.

Kasat Tahti Polres Pasuruan Kota Iptu Soekarsono menambahkan, Nova memiliki peran yang vital di Sat Tahti. Pekerjaan dan tanggung jawab yang dimilikinya menjadi lebih ringan dengan keberadaan Nova. Tentunya, dia sangat mendukung asalkan itu memang positif.

“Kalau saya sangat mendukung. Sebab, saya lihat dia memang punya potensi. Nova rajin dan selalu mengerjakan kewajibannya dengan baik,” tambahnya. (eka/hn/fun)