alexametrics
25C
Probolinggo
Saturday, 16 January 2021

Narapidana di Lapas IIB Pasuruan usai “Lulus”, Kapok Jadi Kriminal hingga Ingin Mengajar Ngaji

Ada pemandangan berbeda di ruangan aula Lapas Klas IIB Pasuruan, Selasa (18/12). Sejumlah warga binaan setempat mengikuti seremonial wisuda Ponpes At Taubah. Ponpes yang digagas lapas setempat. Warga binaan ini dinyatakan lulus usai mengikuti program pembinaan santri selama empat bulan.

FAHRIZAL FIRMANI, Purworejo

Sejumlah pria berbaju koko warna putih dan berpeci hitam tampak duduk berjejer rapi di sebuah ruangan berukuran 6×8 meter itu. Mereka memperhatikan isi ceramah yang disampaikan oleh Habib Hadi Alaydrus dari Yayasan Ponpes Al Wafa Biahdillah dengan serius.

TERMOTIVASI: Suasana wisuda yang digelar di Lapas IIB Pasuruan. (Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Di genggaman tangannya terlihat sebuah map berwarna hitam. Dalam map berbentuk persegi panjang itu terselip sebuah lembaran kertas putih. Di atasnya tertulis “Sertifikat Kelulusan Santri Ponpes At Taubah”. Maklum, mereka baru saja dinyatakan lulus usai mengikuti program santri di lapas setempat.

Kepala Lapas Klas IIB Pasuruan Fikri Jaya Soebing mengungkapkan, program santri ini sudah dilaksanakan sejak 2015 silam. Program ini dilakukan selama empat bulan dan diikuti oleh seluruh warga binaan bekerja sama dengan Yayasan Ponpes Al Wafa Biahdillah.

Program ini dilaksanakan setiap hari sejak pukul 15.30 sampai 16.30. Materi yang diberikan pun tidak berbeda dengan ponpes pada umumnya. Seperti, Alquran, Hadis, Tauhid, Fiqih, Nahwu, dan Akhlak. Seluruh materi ini diberikan selama tiga bulan. Sementara satu bulan sisanya digunakan untuk tes.

Usai dinyatakan lulus, mereka akan memperoleh ijazah atau sertifikat yang diberikan oleh Yayasan Ponpes Al Wafa Biahdillah. Ijazah ini sebagai bentuk apresiasi jika warga binaan sudah merampungkan program santri kilat di lapas setempat.

“Wisuda hari ini (Selasa, Red) merupakan wisuda gelombang ke tujuh. Adapun santri yang lulus di gelombang ini sebanyak 35 warga binaan. Harapannya, mereka menjadi pribadi yang lebih baik dengan fondasi agama yang cukup,” ungkapnya.

Salah satu warga binaan yang dinyatakan lulus, M. Setyawan mengaku, ia sangat senang mengikuti program pembinaan santri oleh lapas. Pasalnya, ia menjadi sosok yang lebih tenang dan mulai memahami agama Islam.

Ia pun berencana ingin memanfaatkan ilmu yang didapatkan selama program santri kilat ini usai keluar dari lapas setempat. Salah satu keinginan yang paling ingin direalisasikannya adalah menjadi guru ngaji di kampungnya di lingkungan Ngegot, Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan.

“Saya sudah kapok dan tidak ingin mengulangi kesalahan saya dengan sabu-sabu. Saya ingin menjadi orang yang berguna. Kalau bisa, saya ingin segera berumah tangga. Insya Allah, saya dapat berubah,” jelasnya saat ditemui di sela-sela wisuda. Setyawan ditahan 9 tahun atas kepemilikan sabu. Ia menghuni lapas baru 11 bulan.

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenkum HAM RI wilayah Jatim Susy Susilawati menyebut Kemenkum HAM sangat mengapresiasi program pembinaan santri yang dimiliki oleh Lapas IIB Pasuruan. Sebab, pendidikan agama sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya harap program ini terus berlanjut, sebab program ini memiliki banyak manfaat. Di antaranya untuk mencentak pribadi yang berakhlak baik. Bagaimanapun, tidak pernah ada kata terlambat untuk pendidikan agama,” terang Susy. (fun)

MOST READ

BERITA TERBARU