alexametrics
26.2 C
Probolinggo
Wednesday, 25 November 2020

Mengenal Agus Purwanto, Kepala BPN Kota Probolinggo yang Baru

Pernah menjadi Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) di luar Jawa memberikan pengalaman tersendiri bagi Agus Purwanto, 53. Tantangan yang paling utama adalah menghadapi kondisi medan yang berat serta masalah pertanahan yang cukup banyak terjadi.

RIDHOWATI SAPUTRI, Mayangan, Radar Bromo

Setelah tiga bulan mengalami kekosongan, posisi Kepala BPN Kota Probolinggo, akhirnya terisi. Sejak awal November 2020, posisi ini dijabat Agus Purwanto, 53. Menggantikan Bambang Hariyono yang pensiun sejak Agustus 2020. Agus yang asli Jombang, Jawa Timur ini dimutasi dari tempatnya bekerja sebelumnya di Kabupaten Lampung Utara.

Saat ditemui di kantornya, Kamis (19/11) Agus nampak santai di balik meja kerjanya. Namun, aktivitasnya sebagai kepala BPN baru di Kota Probolinggo ini tidak bisa dibilang sepi. “Jam 10 ini ada pertemuan di kantor pemkot,” ujarnya.

Jawa Pos Radar Bromo sendiri, meminta waktu bertemu sejak sepekan lalu. Namun, karena ada berbagai hal, termasuk rapat-rapat yang harus dilakukan, sehingga baru kemarin (19/11) ada kesempatan untuk berbincang-bincang.

Agus menceritakan, dirinya bekerja di BPN sejak lulus SMA. Saat itu, dia bekerja sebagai pengukur tanah.

“Pekerjaan mengukur tanah ini bukan hal yang mudah. Harus melihat daerah yang tanahnya diukur. Kalau seperti di Kota Probolinggo ini kan daerahnya datar. Tapi daerah lain kondisinya berbeda,” ujarnya.

Mengukur tanah juga bukanlah pekerjaan yang asal bisa dilakukan. Harus cermat dan teliti dalam berbagai kondisi dan situasi.

“Misalnya daerah pantai, maka daerah tepi pantai juga harus diukur. Tidak jarang petugas ukur juga harus mengukur sampai pinggir sungai atau masuk ke daerah rawa-rawa,” ujarnya.

Selama 10 tahun pekerjaan sebagai petugas pengukur tanah dijalani Agus. Sebelum akhirnya dia mendapat kesempatan menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (SPTN) sampai mendapat gelar S1.

Pendidikan di SPTN ini dilakukan tanpa biaya sama sekali. Melalui proses pendaftaran dan tes, akhirnya pendidikan di Jogyakarta ini diselesaikannya dalam 4 tahun.

“Di SPTN ini belajar dua aspek dalam pekerjaan di BPN. Yaitu, aspek pengukuran tanah, seperti masalah geodesi dan manajemen pertanahan. Termasuk hukum pertanahan,” ujarnya.

Masalah pertanahan tidak hanya soal pengukuran tanah. Bidang ini sangat erat berkaitan dengan kepastian hukum atas tanah dan bangunan.

“Seperti proses penyusunan sertifikat tanah, sertifikat waris, wakaf maupun sengketa pertanahan. Ini kan berkaitan dengan hukum,” ujarnya.

Setelah 4 tahun sekolah, Agus kembali bertugas di BPN Jombang. Awalnya kembali bertugas sebagai pengukur tanah. Sampai, kemudian ditingkatkan posisinya sebagai petugas pengawas pengukur tanah.

Selama bekerja di BPN, sebagian besar penempatan tugasnya di wilayah Jawa Timur. Baru pada tahun 2018, Agus ditempatkan di Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung selama 2 tahun.

Kali pertama bekerja di luar Pulau Jawa membuat Agus harus cepat beradaptasi dengan kondisi lingkungan, sosial dan budaya setempat. Namun, yang menjadi tantangan di tempat kerjanya saat itu adalah kondisi lingkungan yang bergunung-gunung dan perkebunan.

“Di sana satu perkebunan itu luasnya tiga ribu hektare. Mulai dari kebun sawit, pisang, kopi, nanas dengan kualitas ekspor. Kontur tanah bergunung-gunung serta akses jalan masih berupa tanah,” ujarnya.

Di Lampung Utara dia menjabat sebagai Kepala BPN Lampung Utara. Memang, tidak lagi jadi petugas pengukur tanah. Namun, dia tetap harus masuk ke desa-desa untuk sosialisasi. Seperti sosialisasi program PTSL. Dengan kondisi pegunungan, sekali perjalanan ke tempat tujuan bisa sampai 3 jam.

“Sampai di desa, mau sosialisasi sudah capek. Jangan dibayangkan kondisinya seperti di Kota Probolinggo yang jalannya beraspal lurus dan bagus. Di sana awalnya beraspal mulus, kemudian beraspal berlubang, lalu jalan makadam, akhirnya jalan tanah,” tambahnya.

Kabupaten Lampung Utara berbatasan dengan dua provinsi. Yaitu, Provinsi Bengkulu dan Provinsi Sumatra Selatan. Kondisinya bergunung-gunung.

“Di sana tidak bisa mengukur tanah 1-2 hari selesai. Bisa sampai berhari-hari baru bisa selesai,” terangnya.

Selain tantangan dari lingkungan alam, bekerja di luar Jawa memiliki tantangan berupa tugas yang lebih variatif. Salah satunya adalah sengketa lahan.

Permasalahan sengketa lahan ini terkait penggunaan hak guna usaha dengan lahan adat. Ini kerap memicu permasalahan pertanahan di sana.

“Kami BPN bertugas sebagai juri dalam sengketa seperti itu. Kami harus melihat sejarah kepemilikan tanah tersebut, termasuk keberadaan sertifikatnya berasal dari tahun berapa. Bahkan, ada yang berasal dari zaman belanda,” terangnya. (hn)

- Advertisement -
- Advertisement -

MOST READ

Siswi SDN di Kraksaan Lolos dari Penculikan, Ini Ciri-Ciri Pelaku

KRAKSAAN, Radar Bromo - Niat Cld, 13, berangkat sekolah, Rabu (12/2) pagi berubah menjadi kisah menegangkan. Siswi SDN Kandangjati Kulon 1, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo,...

Mau Ke Tretes, Muda-mudi Asal Gempol Tertabrak Truk Tangki di Candiwates, Penumpangnya Tewas

PRIGEN – Nasib sial dialami pasangan muda-mudi ini. Minggu siang (20/1) keduanya terlibat kecelakaan saat hendak menuju Tretes, Akibatnya, satu orang tewas dan satu...

Siswa MI di Pandaan Tewas Gantung Diri, Diduga usai Smartphonenya Disembunyikan Orang Tua

PANDAAN, Radar Bromo – Tragis nian cara AA, 11, mengakhiri hidupnya. Pelajar di Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan ini, ditemukan tewas, Minggu (17/11) pagi. Dia...

Geger Mayat Wanita di Pantai Pasir Panjang-Lekok, Kondisinya Terikat Tali dan Dikaitkan Batu

LEKOK, Radar Bromo - Temuan mayat dengan kondisi terikat, kembali menggegerkan warga. Rabu (18/9) pagi, mayat perempuan tanpa identitas ditemukan mengapung di Pantai Pasir...

BERITA TERBARU

Pohon Tumbang Sempat Tutup Jalan Mastrip  

Pohon tumbang inipun cepat dievakuasi, karena berada tak jauh dari kantor Badan penanggulangan bencana Daerah (BPBD) Kota Probolinggo.

Sopir Ngantuk, Dua Dump Truk Adu Moncong di Purwosari  

Truk yang disopiri Komarudin tiba-tiba melaju ke jalur berlawanan hingga tertabrak truk lain.

Truk Terguling di Cangkringmalang Beji, Muatan Pupuk Tercecer

Kecelakaan itu memicu kemacetan di jalur pantura.

Para Ahli Pastikan Vaksin yang Digunakan Aman dan Efektif

Keberadaan vaksin yang aman dan efektif sangat penting

Lantik Pengurus Pusat JMSI, Ini Pesan Bamsoet

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) menaruh harapan besar kehadiran JMSI akan semakin melengkapi berbagai entitas kelembagaan pers yang telah lahir sebelumnya.