alexametrics
26 C
Probolinggo
Friday, 20 May 2022

CJH Termuda Kab Pasuruan Ini Gantikan Ayah yang Meninggal

Usianya baru menginjak 18. Ia jadi Calon Jamaah Haji (CJH) termuda Kabupaten Pasuruan. Seharusnya, Fahmi Rizal Ilham Ramadhan, berangkat berhaji bersama ibunya tahun ini. Dia menggantikan ayahnya yang meninggal. Namun keberangkatannya ditunda.

RIZAL FAHMI SYATORI, Sukorejo, Radar Bromo

Mau tidak mau harus siap. Berangkat haji mendampingi ibu ke tanah suci. Sekaligus menggantikan ayah yang telah meninggal.”

Begitu ucapan Fahmi Rizal Ilham Ramadhan, 18, saat ditemui di rumahnya di bawah jalan tol Pandaan – Malang, Dusun Kemiri, Desa Pakukerto, Kecamatan Sukorejo. Dia adalah CJH termuda Kabupaten Pasuruan tahun ini.

Alumni SMK PGRI Pandaan itu menuturkan, orang tuanya pedagang toko peracangan di Pasar Palang, Desa Lemahbang, Kecamatan Sukorejo. Pasangan Slamet Mustaji – Hartini. Mereka mendaftar haji tahun 2012 dan dijadwalkan berangkat tahun 2020.

Saat itu, ayahnya masih sehat. Sayang, pada tahun 2020 itu ayahnya tidak bisa berangkat haji. Karena pandemi Covid-19, pemerintah menunda keberangkatan ibadah haji.

Seharusnya, tahun ini ayah dan ibunya berangkat haji. Tapi, ayahnya meninggal sebelum sempat menjadi tamu Allah. Ilham pun menggantikan posisi ayahnya berhaji di usia yang masih 18 tahun, sekaligus mendampingi ibunya.

“Tahun ini harusnya yang berangkat haji adalah ibu dan ayah. Tapi ayah sakit dan meninggal pada Maret. Saya menggantikan ayah berangkat ke tanah suci bersama ibu,” katanya.

Walaupun memang, tahun ini pemerintah kembali menunda pemberangkatan ibadah haji. Mereka dijadwalkan berangkat tahun depan.

Ayahnya menurut Ilham memang punya riwayat sakit, sehingga meninggal. Jadi bukan karena terbebani pikiran akibat beribadah haji tertunda tahun lalu.

“Selama ini memang punya riwayat sakit. Tahun lalu saat berangkat haji ditunda, Ayah dan Ibu legawa. Kemudian Ayah meninggal, jauh sebelum pemerintah memutuskan pembatalan,” lanjutnya.

Orang tuanya menurut Ilham, mengumpulkan uang untuk mendaftar haji dari tabungan hasil toko peracangan di Pasar Palang. Alhamdulillah saat ini sudah lunas.

Meski dijadwalkan berangkat tahun 2020, ibu dan ayahnya semasa hidup belum sempat menggelar tasyakuran. Juga belum membeli oleh-oleh haji.

Tahun inipun, tasyakuran belum digelar. Sebab, ayahnya sakit waktu itu. Namun, oleh-oleh haji sudah dibeli untuk persiapan.

“Tasyakuran belum ada. Tapi oleh-oleh haji sudah beli. Lumayan banyak jumlahnya. Sekarang disimpan di rumah,” bebernya.

Bagi Ilham, penundaan tahun ini juga merupakan kesempatan baginya untuk memaksimalkan persiapan berhaji. Sebab, dia belum siap 100 persen berangkat tahun ini. Surat-surat administrasi pun baru selesai diurus.

“Saya punya kesempatan lebih maksimal untuk menyiapkan diri berhasi. Mudah-mudahan tahun depan bisa berangkat ke tanah suci dan tidak ditunda lagi. Doakan ya,” ucapnya. (hn)

Usianya baru menginjak 18. Ia jadi Calon Jamaah Haji (CJH) termuda Kabupaten Pasuruan. Seharusnya, Fahmi Rizal Ilham Ramadhan, berangkat berhaji bersama ibunya tahun ini. Dia menggantikan ayahnya yang meninggal. Namun keberangkatannya ditunda.

RIZAL FAHMI SYATORI, Sukorejo, Radar Bromo

Mau tidak mau harus siap. Berangkat haji mendampingi ibu ke tanah suci. Sekaligus menggantikan ayah yang telah meninggal.”

Begitu ucapan Fahmi Rizal Ilham Ramadhan, 18, saat ditemui di rumahnya di bawah jalan tol Pandaan – Malang, Dusun Kemiri, Desa Pakukerto, Kecamatan Sukorejo. Dia adalah CJH termuda Kabupaten Pasuruan tahun ini.

Alumni SMK PGRI Pandaan itu menuturkan, orang tuanya pedagang toko peracangan di Pasar Palang, Desa Lemahbang, Kecamatan Sukorejo. Pasangan Slamet Mustaji – Hartini. Mereka mendaftar haji tahun 2012 dan dijadwalkan berangkat tahun 2020.

Saat itu, ayahnya masih sehat. Sayang, pada tahun 2020 itu ayahnya tidak bisa berangkat haji. Karena pandemi Covid-19, pemerintah menunda keberangkatan ibadah haji.

Seharusnya, tahun ini ayah dan ibunya berangkat haji. Tapi, ayahnya meninggal sebelum sempat menjadi tamu Allah. Ilham pun menggantikan posisi ayahnya berhaji di usia yang masih 18 tahun, sekaligus mendampingi ibunya.

“Tahun ini harusnya yang berangkat haji adalah ibu dan ayah. Tapi ayah sakit dan meninggal pada Maret. Saya menggantikan ayah berangkat ke tanah suci bersama ibu,” katanya.

Walaupun memang, tahun ini pemerintah kembali menunda pemberangkatan ibadah haji. Mereka dijadwalkan berangkat tahun depan.

Ayahnya menurut Ilham memang punya riwayat sakit, sehingga meninggal. Jadi bukan karena terbebani pikiran akibat beribadah haji tertunda tahun lalu.

“Selama ini memang punya riwayat sakit. Tahun lalu saat berangkat haji ditunda, Ayah dan Ibu legawa. Kemudian Ayah meninggal, jauh sebelum pemerintah memutuskan pembatalan,” lanjutnya.

Orang tuanya menurut Ilham, mengumpulkan uang untuk mendaftar haji dari tabungan hasil toko peracangan di Pasar Palang. Alhamdulillah saat ini sudah lunas.

Meski dijadwalkan berangkat tahun 2020, ibu dan ayahnya semasa hidup belum sempat menggelar tasyakuran. Juga belum membeli oleh-oleh haji.

Tahun inipun, tasyakuran belum digelar. Sebab, ayahnya sakit waktu itu. Namun, oleh-oleh haji sudah dibeli untuk persiapan.

“Tasyakuran belum ada. Tapi oleh-oleh haji sudah beli. Lumayan banyak jumlahnya. Sekarang disimpan di rumah,” bebernya.

Bagi Ilham, penundaan tahun ini juga merupakan kesempatan baginya untuk memaksimalkan persiapan berhaji. Sebab, dia belum siap 100 persen berangkat tahun ini. Surat-surat administrasi pun baru selesai diurus.

“Saya punya kesempatan lebih maksimal untuk menyiapkan diri berhasi. Mudah-mudahan tahun depan bisa berangkat ke tanah suci dan tidak ditunda lagi. Doakan ya,” ucapnya. (hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/