alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Friday, 19 August 2022

Inilah Komunitas Darbuka Pasuruan yang Luwes dan Bisa Masuk ke Semua Genre Musik

Banyak cara berdakwah dengan kesenian. Sejumlah pemuda di Pasuruan ini memilih berdakwah menggunakan alat musik pukul dari Timur Tengah, darbuka. Dengan ketukan yang khas, mereka menyisipkan pesan-pesan moral lewat tembang-tembang Islami.

—————

Alat musik darbuka memang baru populer di Indonesia, termasuk di Kabupaten Pasuruan. Darbuka merupakan alat musik pukul berbentuk jam pasir dan fungsinya mendendangkan irama ketukan.

Seiring dengan kepopulerannya, di Pasuruan muncullah Darbuka Komunitas Pasuruan (Darkopas). Komunitas ini mengawinkan instrumen musik darbuka dengan kesenian Islami dan menjadi media dakwah.

Achmad Najich, 30, admin Darkopas mengatakan, darbuka memang baru populer sejak 2010-an. Dengan kepopuleran pemusik religi “Debu,” membuat darbuka juga makin dilirik di Kabupaten Pasuruan.

Najich mengatakan, awalnya pihaknya rutin mengikuti komunitas darbuka di berbagai kota. Seperti di Malang, Bogor, dan Bandung. “Dari sering sharing bareng teman-teman pecinta darbuka, akhirnya Agustus 2014 dibentuklah Darkopas atau Darbuka Komunitas Pasuruan,” ujar warga Desa Winongan Lor, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan ini.

Sebagai anggota musik hadrah, Najich mengaku tidak asing dengan darbuka. Karenanya, pihaknya mengajak lima temannya yang sebelumnya juga terbiasa dengan hadrah untuk mendirikan Darkopas. Awalnya, cukup sulit mencari anggota. Termasuk, ketika hendak mengenalkan darbuka.

“Karena pada 2014 masih sedikit yang tahu tentang alat musik ini. Sehingga, kami rutin latihan di Alun-alun Kota Pasuruan, setiap minggu sore. Saat itu, ada 4-5 orang yang main darbuka dan akhinya banyak masyarakat yang penasaran dengan alat musik yang kami mainkan,” ujarnya.

Lambat laun, darbuka makin dikenal. Bahkan, kini ada 20-30 anggota Darkopas yang aktif. Rata-rata mereka masih muda dari anak sekolah, mahasiswa, dan masyarakat umum. Mereka rata-rata berusia antara 20-30. Tak hanya dari Winongan, tapi juga dari Rejoso, Wonorejo, Pandaan, Kota Pasuruan, dan Probolinggo.

Meski sama jenis alat pukulnya seperti hadrah, namun suara yang dihasilkan darbuka cukup berbeda. Darbuka ada variasi ketukannya. Seperti baladi, malfuf, saidi, dan sebagainya. Menurut Najich, ada 10 dasar ketukan yang bisa dipelajari.

Najich mengatakan, darbuka bisa bermain secara solo lewat variasi ketukan ataupun bersama-sama. Alat musik ini juga bisa dimainkan dengan sejumlah instrumen musik dan grup lainnya. Seperti, hadrah, hiphop, bahkan musik jazz.

“Karena itu, kami sangat luwes bisa masuk ke semua genre musik. Namun, kebanyakan hadrah yang rutin membawakan lagu-lagu Islami yang populer,” ujarnya. Paling sering, Darkopas main bareng bersama pemain hadrah dan gambus di Pasuruan.

Yang berbeda dengan adanya darbuka, menurut Najich, ketukannya yang khas membuat alunan musik menjadi lebih meriah dan ramai. Dengan alat musik ini, komonitasnya bisa berdakwah. “Dengan alat musim darbuka, biasanya kami bisa kumpul, main musim bersama, dan bersalawat bersama dengan iringan darbuka,” ujarnya.

Menurutnya, dari darbuka, selain dapat menjalin silaturahmi sesama pecinta musik dan penonton, juga banyak pendengar musik timur tengah yang tertarik mendengar, bahkan belajar bermain darbuka. (eka/fun)

Banyak cara berdakwah dengan kesenian. Sejumlah pemuda di Pasuruan ini memilih berdakwah menggunakan alat musik pukul dari Timur Tengah, darbuka. Dengan ketukan yang khas, mereka menyisipkan pesan-pesan moral lewat tembang-tembang Islami.

—————

Alat musik darbuka memang baru populer di Indonesia, termasuk di Kabupaten Pasuruan. Darbuka merupakan alat musik pukul berbentuk jam pasir dan fungsinya mendendangkan irama ketukan.

Seiring dengan kepopulerannya, di Pasuruan muncullah Darbuka Komunitas Pasuruan (Darkopas). Komunitas ini mengawinkan instrumen musik darbuka dengan kesenian Islami dan menjadi media dakwah.

Achmad Najich, 30, admin Darkopas mengatakan, darbuka memang baru populer sejak 2010-an. Dengan kepopuleran pemusik religi “Debu,” membuat darbuka juga makin dilirik di Kabupaten Pasuruan.

Najich mengatakan, awalnya pihaknya rutin mengikuti komunitas darbuka di berbagai kota. Seperti di Malang, Bogor, dan Bandung. “Dari sering sharing bareng teman-teman pecinta darbuka, akhirnya Agustus 2014 dibentuklah Darkopas atau Darbuka Komunitas Pasuruan,” ujar warga Desa Winongan Lor, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan ini.

Sebagai anggota musik hadrah, Najich mengaku tidak asing dengan darbuka. Karenanya, pihaknya mengajak lima temannya yang sebelumnya juga terbiasa dengan hadrah untuk mendirikan Darkopas. Awalnya, cukup sulit mencari anggota. Termasuk, ketika hendak mengenalkan darbuka.

“Karena pada 2014 masih sedikit yang tahu tentang alat musik ini. Sehingga, kami rutin latihan di Alun-alun Kota Pasuruan, setiap minggu sore. Saat itu, ada 4-5 orang yang main darbuka dan akhinya banyak masyarakat yang penasaran dengan alat musik yang kami mainkan,” ujarnya.

Lambat laun, darbuka makin dikenal. Bahkan, kini ada 20-30 anggota Darkopas yang aktif. Rata-rata mereka masih muda dari anak sekolah, mahasiswa, dan masyarakat umum. Mereka rata-rata berusia antara 20-30. Tak hanya dari Winongan, tapi juga dari Rejoso, Wonorejo, Pandaan, Kota Pasuruan, dan Probolinggo.

Meski sama jenis alat pukulnya seperti hadrah, namun suara yang dihasilkan darbuka cukup berbeda. Darbuka ada variasi ketukannya. Seperti baladi, malfuf, saidi, dan sebagainya. Menurut Najich, ada 10 dasar ketukan yang bisa dipelajari.

Najich mengatakan, darbuka bisa bermain secara solo lewat variasi ketukan ataupun bersama-sama. Alat musik ini juga bisa dimainkan dengan sejumlah instrumen musik dan grup lainnya. Seperti, hadrah, hiphop, bahkan musik jazz.

“Karena itu, kami sangat luwes bisa masuk ke semua genre musik. Namun, kebanyakan hadrah yang rutin membawakan lagu-lagu Islami yang populer,” ujarnya. Paling sering, Darkopas main bareng bersama pemain hadrah dan gambus di Pasuruan.

Yang berbeda dengan adanya darbuka, menurut Najich, ketukannya yang khas membuat alunan musik menjadi lebih meriah dan ramai. Dengan alat musik ini, komonitasnya bisa berdakwah. “Dengan alat musim darbuka, biasanya kami bisa kumpul, main musim bersama, dan bersalawat bersama dengan iringan darbuka,” ujarnya.

Menurutnya, dari darbuka, selain dapat menjalin silaturahmi sesama pecinta musik dan penonton, juga banyak pendengar musik timur tengah yang tertarik mendengar, bahkan belajar bermain darbuka. (eka/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/