alexametrics
24 C
Probolinggo
Tuesday, 28 June 2022

Bripka Wahyu Suprayogo Buka Rumah Terapi, Beri Layanan Gratis

Polisi yang satu ini tahu betul menempatkan diri sebagai ‘pelayan masyarakat’. Menariknya, hal itu tak hanya dilakukan saat berdinas. Ketika sedang tak berseragam, Bripka Wahyu Suprayogo tetap sibuk melayani masyarakat. Melalui Rumah Terapi Kesehatan.

————-

MBAH Brengos. Begitulah ia lebih familiar dipanggil. Tak perlu heran. Wahyu memang memiliki kumis tebal. Dari postur tubuhnya yang tegap, tidak sukar menebaknya sebagai aparat. Tapi, di rumah terapi kesehatan yang ada di Perumnas Bugul Kidul, sama sekali tidak ada atribut yang mencerminkan dia anggota Korps Bhayangkara.

Karena itulah, sebagian orang yang memakai jasa pijatnya tak mengira Wahyu seorang anggota polisi. Sebab, penampilannya sangat santai. Hanya mengenakan kaus dan celana panjang. Siang itu, dia baru saja pulang menjalankan tugas. Sehari-hari, Wahyu berdinas di Polsek Bugul Kidul.

Jika sedang lepas dinas, dia menghabiskan waktunya di rumah terapi kesehatan. Bukan suatu kebetulan bagi Wahyu. Hingga dirinya punya kesibukan lain di samping menjalankan tugas-tugas kepolisian.

Semua juga bermula dari rutinitasnya ketika bertugas. Dia dan rekan-rekannya seprofesi sering pijat-pijatan.

MBAH BRENGOS: Bripka Wahyu Suprayogo kerap dipanggil Mbah Brengos. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

“Sekadar untuk melepas lelah sekaligus melemaskan otot-otot yang tegang,” katanya membuka percakapan dengan Jawa Pos Radar Bromo.

Rupanya, pijatan Wahyu berbekas. Banyak rekannya yang ketagihan. Bahkan, bukan saja rekan sesama anggota polisi. Ada juga kerabat dan tetangga yang ketagihan.

Keahlian memijat yang dimilikinya pun begitu cepat menyebar luas. Wahyu makin sering menerima panggilan dari beberapa orang untuk memijat.

“Sempat juga keliling kalau diminta tolong orang,” ungkapnya.

Namun, dia sadar tugasnya sebagai polisi adalah yang utama. Tak boleh dikesampingkan. Karenanya, tak semua panggilan memijat ia terima begitu saja. Dia lebih dulu membuat janji. Agar tak mengganggu aktivitasnya berdinas.

“Jika sedang lepas dinas, saya lakukan pijat ini untuk bantu orang,” jelasnya.

Yang tidak kalah penting, Wahyu juga tak memungut tarif dari jasa pijatnya. Semua orang bisa dipijat dengan cuma-cuma alias gratis.

“Saya ingin membantu saja. Asal tidak mengganggu pekerjaan saya sebagai polisi,” katanya.

Namun, kalau ada yang memaksa memberinya uang, Wahyu tak akan menolak. Hanya saja, duit imbalan itu tak dimasukkan ke kantong pribadi. Melainkan dimasukkan ke kotak amal yang disediakan di rumah terapi itu. Bila sudah terkumpul, dia menyerahkannya ke orang yang lebih membutuhkan.

“Kalau ada pasien atau keluarga pasien yang ingin ngasih uang, saya sumbangkan kepada yatim piatu. Karena mereka lebih membutuhkan,” bebernya.

Tempat yang dijadikan rumah terapi kesehatan itu bukan miliknya sendiri. Itu juga dipinjami oleh Yuyud, ketua RW di kawasan perumahannya.

Yuyud memberi Wahyu fasilitas itu agar tak lagi berkeliling memijat orang. Dengan begitu, ia bisa lebih fokus di satu tempat.

Memang, baru dua bulan ini Wahyu melayani jasa pijat di rumah terapi kesehatan. Tetapi, beberapa pasiennya merasa lebih mendingan. Banyak keluhan yang kemudian mereda.

Dalam memijat, Wahyu tak memakai alat apapun. Hanya dengan tangan kosong. Dan dibaluri minyak zaitun.

Keluhan pasien Wahyu cukup beragam. Mulai penyakit ringan, hingga berat. Seperti sakit kepala, permasalahan tulang, cedera otot, hingga vertigo.

Priyongko adalah salah satu pasien yang sudah merasakan kemampuan Wahyu memijat. Priyongko yang mengalami nyeri punggung awalnya sempat takut dipijat. Sebab, dia tak tahan sakit.

“Ternyata saat dipijat nggak terasa sakit. Badan jauh lebih enak. Pandangan saya yang tadinya agak kabur juga lebih jelas,” ujarnya. (hn)

Polisi yang satu ini tahu betul menempatkan diri sebagai ‘pelayan masyarakat’. Menariknya, hal itu tak hanya dilakukan saat berdinas. Ketika sedang tak berseragam, Bripka Wahyu Suprayogo tetap sibuk melayani masyarakat. Melalui Rumah Terapi Kesehatan.

————-

MBAH Brengos. Begitulah ia lebih familiar dipanggil. Tak perlu heran. Wahyu memang memiliki kumis tebal. Dari postur tubuhnya yang tegap, tidak sukar menebaknya sebagai aparat. Tapi, di rumah terapi kesehatan yang ada di Perumnas Bugul Kidul, sama sekali tidak ada atribut yang mencerminkan dia anggota Korps Bhayangkara.

Karena itulah, sebagian orang yang memakai jasa pijatnya tak mengira Wahyu seorang anggota polisi. Sebab, penampilannya sangat santai. Hanya mengenakan kaus dan celana panjang. Siang itu, dia baru saja pulang menjalankan tugas. Sehari-hari, Wahyu berdinas di Polsek Bugul Kidul.

Jika sedang lepas dinas, dia menghabiskan waktunya di rumah terapi kesehatan. Bukan suatu kebetulan bagi Wahyu. Hingga dirinya punya kesibukan lain di samping menjalankan tugas-tugas kepolisian.

Semua juga bermula dari rutinitasnya ketika bertugas. Dia dan rekan-rekannya seprofesi sering pijat-pijatan.

MBAH BRENGOS: Bripka Wahyu Suprayogo kerap dipanggil Mbah Brengos. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

“Sekadar untuk melepas lelah sekaligus melemaskan otot-otot yang tegang,” katanya membuka percakapan dengan Jawa Pos Radar Bromo.

Rupanya, pijatan Wahyu berbekas. Banyak rekannya yang ketagihan. Bahkan, bukan saja rekan sesama anggota polisi. Ada juga kerabat dan tetangga yang ketagihan.

Keahlian memijat yang dimilikinya pun begitu cepat menyebar luas. Wahyu makin sering menerima panggilan dari beberapa orang untuk memijat.

“Sempat juga keliling kalau diminta tolong orang,” ungkapnya.

Namun, dia sadar tugasnya sebagai polisi adalah yang utama. Tak boleh dikesampingkan. Karenanya, tak semua panggilan memijat ia terima begitu saja. Dia lebih dulu membuat janji. Agar tak mengganggu aktivitasnya berdinas.

“Jika sedang lepas dinas, saya lakukan pijat ini untuk bantu orang,” jelasnya.

Yang tidak kalah penting, Wahyu juga tak memungut tarif dari jasa pijatnya. Semua orang bisa dipijat dengan cuma-cuma alias gratis.

“Saya ingin membantu saja. Asal tidak mengganggu pekerjaan saya sebagai polisi,” katanya.

Namun, kalau ada yang memaksa memberinya uang, Wahyu tak akan menolak. Hanya saja, duit imbalan itu tak dimasukkan ke kantong pribadi. Melainkan dimasukkan ke kotak amal yang disediakan di rumah terapi itu. Bila sudah terkumpul, dia menyerahkannya ke orang yang lebih membutuhkan.

“Kalau ada pasien atau keluarga pasien yang ingin ngasih uang, saya sumbangkan kepada yatim piatu. Karena mereka lebih membutuhkan,” bebernya.

Tempat yang dijadikan rumah terapi kesehatan itu bukan miliknya sendiri. Itu juga dipinjami oleh Yuyud, ketua RW di kawasan perumahannya.

Yuyud memberi Wahyu fasilitas itu agar tak lagi berkeliling memijat orang. Dengan begitu, ia bisa lebih fokus di satu tempat.

Memang, baru dua bulan ini Wahyu melayani jasa pijat di rumah terapi kesehatan. Tetapi, beberapa pasiennya merasa lebih mendingan. Banyak keluhan yang kemudian mereda.

Dalam memijat, Wahyu tak memakai alat apapun. Hanya dengan tangan kosong. Dan dibaluri minyak zaitun.

Keluhan pasien Wahyu cukup beragam. Mulai penyakit ringan, hingga berat. Seperti sakit kepala, permasalahan tulang, cedera otot, hingga vertigo.

Priyongko adalah salah satu pasien yang sudah merasakan kemampuan Wahyu memijat. Priyongko yang mengalami nyeri punggung awalnya sempat takut dipijat. Sebab, dia tak tahan sakit.

“Ternyata saat dipijat nggak terasa sakit. Badan jauh lebih enak. Pandangan saya yang tadinya agak kabur juga lebih jelas,” ujarnya. (hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/