alexametrics
26.4 C
Probolinggo
Tuesday, 27 October 2020

Inilah Koleksi Ratusan Akik dan Keris Milik Kasi PDPontren Kemenag

Di tengah kesibukannya memantau Madrasah Diniyah, TPQ, sampai Pondok Pesantren di lingkungan Kemenag Kabupaten Pasuruan, Achmad Sarjono masih sempat mengoleksi akik dan keris. Baginya, mengoleksi keris dan akis merupakan sarana mempererat pertemanan dengan sesama pecinta warisan budaya.

——————-

Tak banyak perabot yang ada di ruang tamu berukuran 7×6 meter di rumah Achmad Sarjono, 50. Selain karpet dan meja besar di tengah, hanya ada lemari besar di bagian Utara ruangan itu. Di lemari itulah, selain buku-buku dan kitab, juga ada puluhan keris yang ditata rapi.

Tak hanya di lemari. Di dinding ruangan itu, beberapa keris juga dipajang. Keris-keris itu akhirnya terkesan sebagai hiasan dinding. Sehingga, membuat rumah di Perum Keboncandi Gondangwetan itu terlihat sangat bernuansa kejawen.

Selama ini Sarjono panggilannya memang mengoleksi puluhan keris dan ratusan akik. Namun, tak semua koleksinya disimpan di satu tempat. Ada yang disimpan di ruang tengah dan lantai atas. Saat menemui Jawa Pos Radar Bromo di rumahnya, Sarjono pun mengeluarkan sebagian koleksinya yang ditata di kotak khusus.

Sampai saat ini, Sarjono masih rajin berburu keris dan akik. Tentu, hal itu dilakukan di luar tugasnya sebagai Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PDPontren) di Kemenag Kabupaten Pasuruan. Juga di luar aktivitasnya memantau Madin, TPQ sampai Ponpes.

MELESTARIKAN WARISAN BUDAYA: Bagi Achmad Sarjono, benda yang dikoleksinya juga bisa mempererat silaturahmi sesama penghobi. (Foto: Erri Kartika/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Kadang di sela-sela tugasnya, dia menyempatkan diri berburu akik dan keris. Tak heran, koleksinya pun terus bertambah. Saat ini, koleksi akiknya lebih dari 200 buah. Sementara koleksi kerisnya lebih dari 50 buah.

Bapak 4 anak ini mengatakan, hobinya didasari kesukaannya pada seni dan bentuk keris sebagai salah satu benda pusaka. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan sisi mistis atau klenik.

“Jadi bukan terkait klenik dan sebagainya. Saya suka akik dan keris karena memang suka dengan bentuk dan seninya. Apalagi ini warisan budaya Nusantara,” terangnya.

Untuk keris selain bentuknya, biasanya ada pamor atau ukiran di kerisnya. Misalnya pamor melati renteng, junjung derajat, udan mas, blarak sineret dan sebagainya.

Sedangkan untuk akik, yang menjadi daya tarik adalah jenis batu dan nilai sejarahnya. Misalnya diberi oleh seseorang yang secara personal membuat akik tersebut lebih berharga.

Selain untuk melestarikan warisan budaya nasional dan menyukai bentuknya, mengkoleksi akik dan keris menurutnya bisa menambah kawan dan mempererat pertemanan. “Kami sesama pencinta akik dan keris, sering bertemu untuk ngobrol. Ada yang menawarkan dan saya beli. Ada juga yang memberi hadiah. Jadi pertemanan makin rekat,” ujarnya.

Sarjono sendiri menyukai akik sejak tahun 1990-an. Saat itu dia diberi batu akik oleh KH Ahmad Mujib dari Ponpes Denanyar Jombang. “Batu Akik jenis merah delima itu akik pertama saya dan sampai sekarang rutin saya pakai kurang lebih sudah 30 tahunan,” terangnya.

Sedangkan kecintaannya pada keris dimulai pada tahun 1995. Saat itu, Sarjono baru lulus dari IAIN Malang Jurusan Tarbiyah. Dia lantas mendaftar di Kemenag dan diterima.

Penempatan pertamanya yaitu di Sumenep, Madura. Di Madura itulah, Sarjono mengenal keris dari M. Kholil, seorang kiai di Sumenep.

“Dari situ, saya mulai suka mengoleksi batu akik dan keris. Untuk keris lebih sulit mencarinya. Namun, lambat laun makin banyak karena pertemanan. Misalnya ada teman tahu saya suka keris, lalu diberi hadiah. Kadang saya beli punya teman,” terangnya.

Sarjono pun lebih sering berburu akik, karena mudah didapat. Terutama saat berlibur atau dinas keluar kota. Dia selalu menyempatkan diri mendatangi pasar akik. Jika ada yang menarik atau tidak punya, selalu dibelinya. Akik paling mahal yang pernah dibelinya seharga Rp 4 juta.

Untuk merawat koleksinya itu, menurutnya tidak sulit. Yang penting rutin dibersihkan dan tidak disimpan di tempat lembab. Untuk akik yang kusam biasanya disepuh. Sedangkan keris rutin dicuci paling tidak 3 tahun sekali.

Keluarga menurutnya, memaklumi hobinya itu. “Karena sejak dulu saya suka, jadi istri menyadari meskipun pernah marah kalau belinya mahal,” ceritanya tertawa kecil. (eka/hn/fun)

- Advertisement -
- Advertisement -

MOST READ

Siswi SDN di Kraksaan Lolos dari Penculikan, Ini Ciri-Ciri Pelaku

KRAKSAAN, Radar Bromo - Niat Cld, 13, berangkat sekolah, Rabu (12/2) pagi berubah menjadi kisah menegangkan. Siswi SDN Kandangjati Kulon 1, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo,...

Mau Ke Tretes, Muda-mudi Asal Gempol Tertabrak Truk Tangki di Candiwates, Penumpangnya Tewas

PRIGEN – Nasib sial dialami pasangan muda-mudi ini. Minggu siang (20/1) keduanya terlibat kecelakaan saat hendak menuju Tretes, Akibatnya, satu orang tewas dan satu...

Siswa MI di Pandaan Tewas Gantung Diri, Diduga usai Smartphonenya Disembunyikan Orang Tua

PANDAAN, Radar Bromo – Tragis nian cara AA, 11, mengakhiri hidupnya. Pelajar di Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan ini, ditemukan tewas, Minggu (17/11) pagi. Dia...

Geger Mayat Wanita di Pantai Pasir Panjang-Lekok, Kondisinya Terikat Tali dan Dikaitkan Batu

LEKOK, Radar Bromo - Temuan mayat dengan kondisi terikat, kembali menggegerkan warga. Rabu (18/9) pagi, mayat perempuan tanpa identitas ditemukan mengapung di Pantai Pasir...

BERITA TERBARU

Usai Donor Darah, Bold Riders-Super Soccer Pasuruan Tanam Pohon

Tanaman kayu putih dipilih karena ini adalah tanaman obat.

Jualan Buah di Jl Juanda, Putri Polisi Dijambret, Ini Modusnya  

Korban melaporkan pelaku yang saat itu mengendarai sepeda motor Honda Vario merah.

Innalillahi, Pulang Kerja, PNS Pemkab Pasuruan Tewas Tertabrak Truk Tronton

Sore itu, Slamet Supriyanto hendak pulang ke rumahnya usai bekerja. Ia mengendarai motor Honda Vario bernopol N 2175 TBL dari arah utara ke selatan.

Kaliputih Sumbersuko Gempol Kembali Tercemar Busa Berlimpah

Kondisi sungai tercemar busa itu bukan kali ini terjadi. Pada pertengahan Agustus lalu, kondisi serupa juga pernah terjadi.

Komunitas Difabel Antusias Ikuti Donor Darah Bold Riders Probolinggo

Dalam aksi sosial ini, Difabel Motorcycle Indonesia (DMI) Probolinggo turut serta menjadi pendonor.