alexametrics
31.9 C
Probolinggo
Thursday, 29 July 2021

Cerita CJH 98 Tahun asal Purwosari usai 2 Kali Keberangkatan Tertunda

Gagal berangkat haji hingga dua kali merupakan ujian yang tidak mudah bagi para calon jamaah haji (CJH) di Indonesia. Terutama bagi mereka yang usianya sudah sepuh. Namun, tidak ada yang bisa dilakukan selain legawa. Memendam rindu sembari berharap, takdir mempertemukan dengan Baitullah tahun depan.

RIZAL F. SYATORI, Purwosari, Radar Bromo

Usianya hampir 100 tahun. Tahun ini, Kasmoro genap 98. Namun, kerinduan Kasmoro menjadi tamu Allah tidak pernah surut. Berhaji ke Baitullah menjadi impian satu-satunya yang tak pernah dia kubur.

Maka pada 2014, bapak delapan anak itu pun mendaftar haji. Saat itu, usianya sudah 91 tahun. Enam tahun kemudian atau tahun 2020, warga Desa Sumberrejo, Purwosari, Kabupaten Pasuruan, itu dipastikan berangkat. Dia menjadi CJH tertua di Kabupaten Pasuruan yang dapat porsi.

Namun, pandemi Covid-19 sejak awal tahun 2020 membuyarkan impiannya. Pemerintah Indonesia membatalkan pemberangkatan CJH ke Makkah tahun lalu.

Kasmoro pun pasrah. Berharap, tahun ini bisa berangkat. Namun, lagi-lagi, pemerintah membatalkan ibadah haji tahun ini.

“Saya daftar haji tahun 2014. Mestinya berangkat ke tanah suci tahun 2020 kemarin, tapi ditunda. Lalu, mau berangkat tahun ini kembali ditunda. Jadi, ya harus sabar. Nunggu berangkat tahun depan,” tutur Kasmoro ditemui Jawa Pos Radar Bromo di rumahnya.

Gagal berangkat haji dua tahun berturut-turut, tidak membuatnya gelisah dan kecewa. Justru, Kasmoro menganggap hal itu biasa.

“Bukan hanya saya yang gagal berangkat. Tapi, semua calon jamaah haji setanah air. Jadi, ya harus tetap sabar. Mudah-mudahan pandemi korona segera berakhir dan tahun depan bisa berangkat haji ke tanah suci,” tutur suami dari Nami yang kini dikaruniai tujuh cucu dan lima cicit ini.

Kasmoro sendiri belum sempat menggelar tasyakuran haji. Dia juga belum sempat membeli oleh-oleh haji. Sebab, dia selalu mendapat informasi awal bahwa pemberangkatan haji ditunda.

Namun, bukan berarti lelaki yang secara fisik masih sehat itu diam saja. Jauh sebelum memutuskan mendaftar haji, dia sudah menyiapkan semua biaya. Saat mendaftar pada 2014, dia membayar kontan. “Seingat saya waktu itu saya membayar kontan dua puluh lima juta lima ratus ribu,” tuturnya.

Uang itu ia dapatkan dari hasil menjual sapi miliknya. Saat itu, empat sapi dia jual demi mendaftar haji. Lalu, kekurangannya ditambah dari hasil tabungan tani. Yaitu, hasil panen sawah miliknya.

“Alhamdulillah, hasil menjual sapi empat ekor dan tabungan panen padi bisa saya pakai untuk daftar haji. Sebab, naik haji sudah nadzar sejak dulu. Mudah-mudahan tahun depan bisa berangkat dan tidak ditunda lagi,” katanya. (hn)

Gagal berangkat haji hingga dua kali merupakan ujian yang tidak mudah bagi para calon jamaah haji (CJH) di Indonesia. Terutama bagi mereka yang usianya sudah sepuh. Namun, tidak ada yang bisa dilakukan selain legawa. Memendam rindu sembari berharap, takdir mempertemukan dengan Baitullah tahun depan.

RIZAL F. SYATORI, Purwosari, Radar Bromo

Usianya hampir 100 tahun. Tahun ini, Kasmoro genap 98. Namun, kerinduan Kasmoro menjadi tamu Allah tidak pernah surut. Berhaji ke Baitullah menjadi impian satu-satunya yang tak pernah dia kubur.

Maka pada 2014, bapak delapan anak itu pun mendaftar haji. Saat itu, usianya sudah 91 tahun. Enam tahun kemudian atau tahun 2020, warga Desa Sumberrejo, Purwosari, Kabupaten Pasuruan, itu dipastikan berangkat. Dia menjadi CJH tertua di Kabupaten Pasuruan yang dapat porsi.

Namun, pandemi Covid-19 sejak awal tahun 2020 membuyarkan impiannya. Pemerintah Indonesia membatalkan pemberangkatan CJH ke Makkah tahun lalu.

Kasmoro pun pasrah. Berharap, tahun ini bisa berangkat. Namun, lagi-lagi, pemerintah membatalkan ibadah haji tahun ini.

“Saya daftar haji tahun 2014. Mestinya berangkat ke tanah suci tahun 2020 kemarin, tapi ditunda. Lalu, mau berangkat tahun ini kembali ditunda. Jadi, ya harus sabar. Nunggu berangkat tahun depan,” tutur Kasmoro ditemui Jawa Pos Radar Bromo di rumahnya.

Gagal berangkat haji dua tahun berturut-turut, tidak membuatnya gelisah dan kecewa. Justru, Kasmoro menganggap hal itu biasa.

“Bukan hanya saya yang gagal berangkat. Tapi, semua calon jamaah haji setanah air. Jadi, ya harus tetap sabar. Mudah-mudahan pandemi korona segera berakhir dan tahun depan bisa berangkat haji ke tanah suci,” tutur suami dari Nami yang kini dikaruniai tujuh cucu dan lima cicit ini.

Kasmoro sendiri belum sempat menggelar tasyakuran haji. Dia juga belum sempat membeli oleh-oleh haji. Sebab, dia selalu mendapat informasi awal bahwa pemberangkatan haji ditunda.

Namun, bukan berarti lelaki yang secara fisik masih sehat itu diam saja. Jauh sebelum memutuskan mendaftar haji, dia sudah menyiapkan semua biaya. Saat mendaftar pada 2014, dia membayar kontan. “Seingat saya waktu itu saya membayar kontan dua puluh lima juta lima ratus ribu,” tuturnya.

Uang itu ia dapatkan dari hasil menjual sapi miliknya. Saat itu, empat sapi dia jual demi mendaftar haji. Lalu, kekurangannya ditambah dari hasil tabungan tani. Yaitu, hasil panen sawah miliknya.

“Alhamdulillah, hasil menjual sapi empat ekor dan tabungan panen padi bisa saya pakai untuk daftar haji. Sebab, naik haji sudah nadzar sejak dulu. Mudah-mudahan tahun depan bisa berangkat dan tidak ditunda lagi,” katanya. (hn)

MOST READ

BERITA TERBARU