alexametrics
30.5 C
Probolinggo
Wednesday, 17 August 2022

Tabungan Menipis, Pegiat Snorkeling Gili Jual Emas untuk Beri THR

Pandemi Covid-19 sangat berdampak kepada para pelaku wisata di Kabupaten Probolinggo. Karena wabah itu, mereka harus kehilangan pekerjaan. Sebab, tempat wisata hampir dua bulan terakhir ditutup.

MUKHAMAD ROSYIDI, Probolinggo, Radar Bromo

Kabupaten Probolinggo kaya akan wisata. Mulai dari pucuk barat Desa Sapih, Kecamatan Lumbang. Di sana ada Bukit Kembang dan Air Terjun Madakaripura. Turun sedikit, di Kecamatan Sukapura ada Gunung Bromo, di Kecamatan Sumber ada P30 Pundak Lembu.

Selanjutnya, di Kecamatan Tongas terdapat Pantai Bahak, di Kecamatan Sumberasih ada wisata yang lagi hit yaitu snorkeling di pulau Gili Ketapang. Paling timur, ada wisata Pantai Bohay di Kecamatan Paiton, dan masih banyak lagi. Semua lokasi wisata itu, saat ini tutup tanpa ada aktivitas.

Karena itu, para pelaku jasa wisata pun tidak dapat pemasukan sama sekali. Salah satunya, seperti yang dialami Huzaini Romli. Ia merupakan pengelola snorkeling di Pulai Gili Ketapang. Saat ini karena usahanya yang tutup, ia berdiam di rumah sembari membersihkan perabotan rumah yang kotor.

Senin (17/5) siang, seperti biasa selama hampir dua bulan ini ia melakukan kegiatan bersih-bersih rumah. Ada dua rumah yang ia miliki. Di Kecamatan Kademangan dan Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Yang dibersihkan, rumah yang ditempati di Kecamatan Kademangan. Beberapa perabot rumah dibersihkan, mulai dari kursi, garasi, dan lainnya.

Bersih-bersih itu, dilakoninya berdua dengan sang istri yang bertugas membersihkan perabot dapur. “Ya begini sudah setiap kali saya di rumah sekarang. Tidak ada yang dilakukan selain bersih-bersih rumah,” ujar Zaini.

Bersih-bersih rumah itu dilakukan setiap dua hari, secara bergantian. Kalau hari ini membersihkan rumah yang ditempati, besoknya di rumah yang biasanya dipakai menginap tamu yang akan ber-snorkeling. Selain itu, ia hanya bermain-main dengan anaknya saja.

“Kalau tidak ada kegiatan ya bersama anak-anak. Anak saya empat. Satu yang besar kuliah di Malang dan lainnya ikut saya,” terangnya.

Untuk memenuhi biaya hidup keluarga, dia pun mengandalkan tabungannya. Namun, beberapa hari terakhir tabungannya sudah menipis. Untuk mencari sambilan, Zaini mengaku tidak bisa. Karena sejak terjun ke dunia wisata, semua jaringannya menghilang.

“Saya dulu bisnis ikan. Tetapi, setelah terjun ke dunia wisata sudah hilang jaringan. Dan kalau memulai bisnis ikan lagi ya begitu, butuh modal besar. Sedangkan keuangan sudah menipis,” terangnya.

Meski demikian, dia masih memberikan THR kepada karyawannya yang berjumlah 15 orang. Untuk memberikan tunjangan itu, ia menjual perhiasan istrinya.

“Yang pasti saat ini semuanya sama. Karena itu, THR saya berikan meskipun tidak seberapa. Saya berharap, wabah ini segera hilang. Karena banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Sebentar lagi juga pendaftaran sekolah,” tambah Zaini.

Hal senada diutarakan Aripin, seorang penjaga pos pendakian Gunung Argopuro, di Kecamatan Krucil. Sejak jalur pendakian lewat Desa Bermi, Kecamatan Krucil itu ditutup, ia melakukan kegiatan lain. Saat ini dia beternak dan memantau konservasi hutan.

“Setiap hari saya beternak. Saya memiliki sapi. Jadi kebanyakan waktu saya untuk merawat ternak,” katanya saat berbincang.

Selain beternak sapi, kegiatan Aripin saat ini lebih banyak mengawasi hutan. Tujuannya, agar tidak ada pembalakan liar.

“Untuk pengawasan hutan tidak tentu. Kadang dua hari sekali, kadang kebih. Tergantung kesiapan fisik saya ketika mau melakukan kegiatan tersebut,” tuturnya.

Di pos Bermi sendiri sebenarnya tidak banyak pendaki yang lewat. Lebih banyak pendaki diarahkan ke jalur Baderan. Sebab, di Baderan jalurnya lebih landai dibandingkan di Bermi.

“Sekitar 20 orang biasanya. Tetapi, sekarang ya tutup tidak ada sama sekali,” ungkapnya.

Aripin dan Zaini berharap pandemi ini segera berakhir. Dengan begitu kegiatan yang biasa mereka lakoni berjalan normal. Begitupun bagi masyarakat lainnya. (hn)

Pandemi Covid-19 sangat berdampak kepada para pelaku wisata di Kabupaten Probolinggo. Karena wabah itu, mereka harus kehilangan pekerjaan. Sebab, tempat wisata hampir dua bulan terakhir ditutup.

MUKHAMAD ROSYIDI, Probolinggo, Radar Bromo

Kabupaten Probolinggo kaya akan wisata. Mulai dari pucuk barat Desa Sapih, Kecamatan Lumbang. Di sana ada Bukit Kembang dan Air Terjun Madakaripura. Turun sedikit, di Kecamatan Sukapura ada Gunung Bromo, di Kecamatan Sumber ada P30 Pundak Lembu.

Selanjutnya, di Kecamatan Tongas terdapat Pantai Bahak, di Kecamatan Sumberasih ada wisata yang lagi hit yaitu snorkeling di pulau Gili Ketapang. Paling timur, ada wisata Pantai Bohay di Kecamatan Paiton, dan masih banyak lagi. Semua lokasi wisata itu, saat ini tutup tanpa ada aktivitas.

Karena itu, para pelaku jasa wisata pun tidak dapat pemasukan sama sekali. Salah satunya, seperti yang dialami Huzaini Romli. Ia merupakan pengelola snorkeling di Pulai Gili Ketapang. Saat ini karena usahanya yang tutup, ia berdiam di rumah sembari membersihkan perabotan rumah yang kotor.

Senin (17/5) siang, seperti biasa selama hampir dua bulan ini ia melakukan kegiatan bersih-bersih rumah. Ada dua rumah yang ia miliki. Di Kecamatan Kademangan dan Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Yang dibersihkan, rumah yang ditempati di Kecamatan Kademangan. Beberapa perabot rumah dibersihkan, mulai dari kursi, garasi, dan lainnya.

Bersih-bersih itu, dilakoninya berdua dengan sang istri yang bertugas membersihkan perabot dapur. “Ya begini sudah setiap kali saya di rumah sekarang. Tidak ada yang dilakukan selain bersih-bersih rumah,” ujar Zaini.

Bersih-bersih rumah itu dilakukan setiap dua hari, secara bergantian. Kalau hari ini membersihkan rumah yang ditempati, besoknya di rumah yang biasanya dipakai menginap tamu yang akan ber-snorkeling. Selain itu, ia hanya bermain-main dengan anaknya saja.

“Kalau tidak ada kegiatan ya bersama anak-anak. Anak saya empat. Satu yang besar kuliah di Malang dan lainnya ikut saya,” terangnya.

Untuk memenuhi biaya hidup keluarga, dia pun mengandalkan tabungannya. Namun, beberapa hari terakhir tabungannya sudah menipis. Untuk mencari sambilan, Zaini mengaku tidak bisa. Karena sejak terjun ke dunia wisata, semua jaringannya menghilang.

“Saya dulu bisnis ikan. Tetapi, setelah terjun ke dunia wisata sudah hilang jaringan. Dan kalau memulai bisnis ikan lagi ya begitu, butuh modal besar. Sedangkan keuangan sudah menipis,” terangnya.

Meski demikian, dia masih memberikan THR kepada karyawannya yang berjumlah 15 orang. Untuk memberikan tunjangan itu, ia menjual perhiasan istrinya.

“Yang pasti saat ini semuanya sama. Karena itu, THR saya berikan meskipun tidak seberapa. Saya berharap, wabah ini segera hilang. Karena banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Sebentar lagi juga pendaftaran sekolah,” tambah Zaini.

Hal senada diutarakan Aripin, seorang penjaga pos pendakian Gunung Argopuro, di Kecamatan Krucil. Sejak jalur pendakian lewat Desa Bermi, Kecamatan Krucil itu ditutup, ia melakukan kegiatan lain. Saat ini dia beternak dan memantau konservasi hutan.

“Setiap hari saya beternak. Saya memiliki sapi. Jadi kebanyakan waktu saya untuk merawat ternak,” katanya saat berbincang.

Selain beternak sapi, kegiatan Aripin saat ini lebih banyak mengawasi hutan. Tujuannya, agar tidak ada pembalakan liar.

“Untuk pengawasan hutan tidak tentu. Kadang dua hari sekali, kadang kebih. Tergantung kesiapan fisik saya ketika mau melakukan kegiatan tersebut,” tuturnya.

Di pos Bermi sendiri sebenarnya tidak banyak pendaki yang lewat. Lebih banyak pendaki diarahkan ke jalur Baderan. Sebab, di Baderan jalurnya lebih landai dibandingkan di Bermi.

“Sekitar 20 orang biasanya. Tetapi, sekarang ya tutup tidak ada sama sekali,” ungkapnya.

Aripin dan Zaini berharap pandemi ini segera berakhir. Dengan begitu kegiatan yang biasa mereka lakoni berjalan normal. Begitupun bagi masyarakat lainnya. (hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/