Inilah Komunitas Muslim Bangil yang Rela Berbagi Rezeki

ETALASE BERBAGI: Anggota komunitas berdiri di etalase berbagi sebagai gerakan berbagi agar siapa saja bisa mengisi makanan dan minuman kepada orang yang membutuhkan. (Erri Kartika/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Berbuat baik tidak harus terlihat orang. Inilah yang dilakukan Komunitas Muslim Bangil Berbagi. Mereka membuat etalase agar setiap orang bisa mengisi makanan dan minuman. Selain itu, siapa pun yang membutuhkan bisa mengambilnya, tanpa perlu malu.

ERRI KARTIKA, Bangil

Etalase kaca setinggi 1,5 meter itu berdiri di sudut selatan, depan Poslantas Alun-alun Bangil. Sekilas, etalase kaca ini hampir sama dengan etalase yang biasa dipakai para pedagang berjualan. Terutama, berjualan makanan dan minuman. Bedanya, di depan ada banner dengan tulisan “Nasi Bungkus dan Air Minum Gratis”.

Sudah hampir satu bulan etalase kaca itu ada di Alun-alun Bangil. Bukan dipakai berjualan. Etalase ini menjadi tempat warga Bangil dan sekitarnya untuk berbagi makanan dan minuman. Tak sedikit yang diam-diam meletakkan nasi bungkus atau air mineral di etalase. Demikian juga, banyak warga yang butuh, kemudian mengambil makanan dan minuman di etalase.

“Dari pantauan kami, Alhamdulillah yang merasa banyak terbantu adalah tukang becak atau orang lewat dan tidak punya. Mereka ini biasanya mengambil makanan dan minuman di etalase,” terang Nunik Iflaha, 32, warga Latek, Bangil.

Ide membuat etalase kaca untuk berbagi sebenarnya bukan ide baru. Bertahun-tahun lalu di negara lain, sudah banyak yang menerapkan ide serupa. Dan, para homeless atau gelandangan merasa terbantu dengan gerakan itu.

Di Bangil sendiri idenya memang meniru hal tersebut. Nunik mengatakan, realisasinya justru tidak menyangka bisa seperti ini. “Jadi, awalnya saya share di Facebook tentang etalase berbagi ini. Ternyata teman-teman banyak yang respons dan komentar, termasuk tak sedikit yang transfer dana ke saya,” terangnya.

Posting-an tersebut di-share pada 9 Desember 2018. Dan, dari hasil transfer teman-temannya, dibelikanlah etalase kaca senilai Rp 1,2 juta plus nasi bungkus sebanyak 35 bungkus.

Namun, saat itu dia masih bingung, akan diletakkan di mana etalase itu. “Kan nggak bisa asal naruh, kalau nggak ada izin. Akhirnya kenal dengan komunitas ILKP Bangil dan dibantu perizinannya ke Kapolsek, Camat, Satpol PP, sampai DLH juga,” terangnya.

Setelah mendapatkan izin, etalase kaca itu diletakkan di Alun-alun Bangil, tepatnya di selatan atau depan Poslantas Bangil. Lokasi tersebut cukup strategis karena merupakan jantung kota Bangil. Selain itu, lokasinya yang dekat Poslantas Bangil, membuat etalase kaca itu selalu terpantau.

Oktavia Damayanti, 41, warga Pogar, Kecamatan Bangil menambahkan, butuh sekitar 2 minggu, akhirnya rencana komunitas ini terealisasi. Saat ini ada 36 anggota aktif dari berbagai latar belakang termasuk puluhan anggota lain sebagai Hamba Allah.

“Agar setiap hari ada yang mengisi nasi bungkus, maka anggota dijadwal mengisi. Jadi, etalase tidak sampai kosong,” terang anggota komunitas ini.

Namun, setelah di-share di Facebook, termasuk di grup-grup media sosial, tak sedikit yang akhirnya ikut mengisi etalase tersebut. “Kalau anggota biasanya rutin pagi sekitar pukul 08.00, mengisi etalase. Jumlahnya bervariasi. Tak lama biasanya cepat habis diambil tukang becak, musafir, polisi cepek, termasuk orang yang lewat dan membutuhkan,” terangnya.

Selain anggota, etalase juga diisi warga lain dengan tujuan berbagi ke sesama tanpa harus bingung menyerahkan ke siapa yang membutuhkan. Gerakan ini sendiri, dikatakan juga mulai menyebar ke tempat lain.

Misalnya Sigit Suhantoro, warga Pandaan berencana membuat hal serupa di Pandaan. “Ini juga diskusi dengan teman-teman dan berharap gerakan ini bisa meluas ke seluruh Pasuruan juga,” pungkasnya. (fun)