alexametrics
25.8 C
Probolinggo
Saturday, 28 November 2020

Komunitas Ujung Jari yang Tumpahkan Kreasi dari Kelihaian Jemari

Disatukan oleh bakat dan kreativitas, sekelompok perajin ukiran kayu di Pasuruan membentuk sebuah komunitas Ujung Jari. Sesuai dengan namanya, karya yang dihasilkan para perajin itu seluruhnya dibuat dengan kelihaian jemari. Alias tanpa bantuan mesin sama sekali.

MUHAMAD BUSTHOMI, Gadingrejo, Radar Bromo

Kelima pria itu tampak sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Mereka terkesan begitu serius. Sofyan Hadi dan M Khozin sedang mengamplas celah-celah patung yang baru selesai dipahat. Sedangkan M Makhrus, M Syaifudin dan M Hasan memahat bongkahan kayu dengan alat cukil.

Tak terdengar suara apapun. Kecuali bunyi gesekan kertas amplas yang diselingi ketukan alat cukil yang dipukul pakai kayu. Pagi itu, tepat Minggu (15/11) lalu, mereka berkumpul di rumah Sofyan Hadi di Kelurahan Bukir, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan.

Sebelum bekerja, mereka sejenak berbincang. Topik apalagi yang mereka bahas selain soal orderan. Baru beberapa hari yang lalu mereka menyelesaikan pesanan tempat pembakaran dupa berupa patung naga. Setelah memakan waktu sebulan pengerjaan, patung itu kini sudah dikirim ke empunya di Mojokerto.

“Cukup rumit karena harus detil sampai lubang mulutnya agar asap pembakarannya bisa keluar dari mulut,” tutur Sofyan Hadi.

TANPA MESIN: Komunitas ini membuat karyanya tanpa memakai mesin. (Foto: M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Patung itu dijual sekitar Rp 1 juta. Uang hasil penjualan itu langsung diberikan kepada yang mengerjakan. Sebagian dimasukkan dalam kas kelompok. “Yang masuk kas itu dipakai buat modal,” kata Sofyan.

Hari sudah cukup terik ketika mereka membicarakan pesanan yang baru diterima. Yakni patung lambang Komando Pasukan Katak (Kopaska). Beberapa saat berlalu, mereka mulai membagi tugas. Makhrus, Hasan dan Syaifudin mulai menatah bongkahan kayu sudah menyerupai katak itu. Sedangkan Sofyan dan Khozin mengamplas.

Sebenarnya, mereka tergabung dalam Komunitas Ujung Jari itu belum lama. “Kurang lebih baru dapat setahun,” kata Makhrus. Pertemuan para perajin ukiran kayu itu juga tak disengaja. Yakni dalam sebuah kegiatan pelatihan yang diprakarsai Dinas Koperasi Kota Pasuruan.

“Dari kegiatan itu kita saling cerita, ternyata masing-masing punya bakat yang bisa saling melengkapi,” kata Hasan.

Masing-masing dari mereka punya keterampilan yang tak sama. Segala keterampilan itu lalu diwadahi dalam Komunitas Ujung Jari. Karya yang dihasilkan menjadi lebih beragam. Tidak hanya ukiran kayu. Tetapi juga minatur, lukisan, lukisan bakar 3D dan lainnya.

“Semua dikerjakan manual, pakai tangan. Makanya nama komunitasnya Ujung Jari,” tambah Khozin.

Ada alasan tersendiri mengapa mereka tetap mempertahankan cara konvensional itu. Padahal, kalau mau, mereka bisa saja tetap berkarya dengan bantuan mesin. “Kami ingin menonjolkan nilai seninya, kalau pakai mesin bentuk yang dihasilkan akan sama semua,” ujar Makhrus menimpali.

Sedangkan jika pakai cara-cara konvensional seperti yang mereka lakukan selama ini, setiap karya akan berbeda hasilnya. Tak bisa persis dan serupa bentuknya. Mereka juga tak pernah membuat konsep secara detil sebelum memulai pekerjaan.

“Nggak ada. Misalnya ukiran, mungkin cuma corat-coret di medianya pakai pensil. Setelah itu mengikuti feeling saja,” tutur Sofyan.

Kayu jati, kalau patung tidak bisa gambar detil. Cuma gambar pensil jadi produk yang dihasilkan beda-beda. Tidak pakai mal, tapi pakai perasaan.

Tentu saja, kegagalan juga pernah mereka alami. Seperti kala memahat patung singa. “Hasilnya tidak sesuai yang dibayangkan,” terang Sofyan.

Meski begitu, bongkahan kayu itu tak lantas dibuang begitu saja. “Ya tetap dipakai, tapi untuk patung-patung yang ukurannya lebih kecil,” terang Makhrus.

Dia juga mengaku tak rugi meski pernah gagal menumpahkan kreasi. “Kalau bicara rugi ya nggak, karena kayu yang dipakai ini kan limbah,” kata Sofyan.

Begitulah yang mereka lakukan selama ini. Mengumpulkan kayu-kayu limbah yang berkualitas seperti kayu jati. Lalu dengan sentuhan kreatif mereka bisa berubah menjadi sebuah karya. “Sekiranya tanpa modal, cuma bondo tenaga tapi bisa menghasilkan rupiah,” kelakar Makhrus.

Namun kalau ada pemesan yang meminta kayu utuh, mereka tentu harus membeli bahan juga. “Ada juga yang pesan bawa kayu sendiri, kami garap,” ungkap Khozin.

Sayangnya, mereka kerap terkendala dalam urusan permodalan. Karena itu, karya yang dihasilkan kebanyakan juga by order. Mereka pernah mencoba memproduksi karya serupa dalam jumlah cukup banyak. Namun akhirnya terhenti sampai di tahapan finishing.

“Maunya ya bisa dijual seperti di GOR, tapi ya itu, masak barang mentah mau dijual. Kendalanya di modal, makanya nggak bisa finishing,” ujar Khozin.

Mereka juga telanjur nyaman kerja bareng tanpa ada seorang yang mengoordinasi ataupun mengetuai. Dulu, komunitas itu memang pernah dipimpin seorang ketua di luar mereka berlima. Tapi itu justru menjadi pengalaman buruk bagi Sofyan CS. Mereka kena tipu sosok yang menjadi ketua di komunitas itu.

Semua hasil penjualan diserahkan ketua, ujung-ujungnya tidak ada hitungan pembagian hasil kerja. Yang mengerjakan sama sekali tidak dapat uang sekadar mengeringkan peluh. “Makanya sekarang fokus berkarya. Siapa yang bekerja dialah yang dapat hasil. Nggak perlu ada ketua-ketuaan. Jadi nggak ada lagi yang lari bawa kabur uang,” tukas Khozin. (fun)

- Advertisement -
- Advertisement -

MOST READ

Siswi SDN di Kraksaan Lolos dari Penculikan, Ini Ciri-Ciri Pelaku

KRAKSAAN, Radar Bromo - Niat Cld, 13, berangkat sekolah, Rabu (12/2) pagi berubah menjadi kisah menegangkan. Siswi SDN Kandangjati Kulon 1, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo,...

Mau Ke Tretes, Muda-mudi Asal Gempol Tertabrak Truk Tangki di Candiwates, Penumpangnya Tewas

PRIGEN – Nasib sial dialami pasangan muda-mudi ini. Minggu siang (20/1) keduanya terlibat kecelakaan saat hendak menuju Tretes, Akibatnya, satu orang tewas dan satu...

Siswa MI di Pandaan Tewas Gantung Diri, Diduga usai Smartphonenya Disembunyikan Orang Tua

PANDAAN, Radar Bromo – Tragis nian cara AA, 11, mengakhiri hidupnya. Pelajar di Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan ini, ditemukan tewas, Minggu (17/11) pagi. Dia...

Geger Mayat Wanita di Pantai Pasir Panjang-Lekok, Kondisinya Terikat Tali dan Dikaitkan Batu

LEKOK, Radar Bromo - Temuan mayat dengan kondisi terikat, kembali menggegerkan warga. Rabu (18/9) pagi, mayat perempuan tanpa identitas ditemukan mengapung di Pantai Pasir...

BERITA TERBARU

Awal Mengeluh Greges, Nakes RSUD dr Saleh Positif Covid-19 Meninggal

Sumarsono meninggal setelah sempat dirawat selama 7 hari di RSUD dr Moh Saleh.

Hendak Parkir, Truk Tertabrak Motor di Nguling

Saat berbelok ke arah utara, sopir truk tak mengetahui ada motor melaju dari arah barat ke arah timur.

Guru Dituntut Kreatif Mengajar di Tengah Pandemi  

Di saat pandemi, tugas guru tidak hanya sebagai pengajar tapi juga pembelajar, karena harus menemukan ide kreatif agar pembelajaran tetap menyenangkan.

Kali Wrati Masih Tercemar, Dewan Soroti Pengalihan Limbah

Polemik limbah yang mencemari sungai Wrati di Kecamatan Beji belum berakhir.

Perbaikan Jalan di Kab Probolinggo Dilanjut Hingga Akhir Tahun

Adanya perbaikan tersebut tidak terlepas dari adanya perubahan anggaran (P-APBD) yang dilakukan pihak PUPR