alexametrics
24C
Probolinggo
Saturday, 23 January 2021

Ini Pasar Tematik yang Menjajakan Beraneka Benda Pusaka di Kebonagung

Kota Pasuruan kini memiliki pasar tematik. Beraneka benda pusaka bisa dijumpai di sana. Lokasinya berada di area Pasar Kebonagung. Tepatnya di bangunan eks pasar burung yang sudah bertahun-tahun mangkrak.

—————–

Sejumlah kios di lokasi paling timur di Pasar Kebonagung selama ini selalu sepi. Di sana hanya ada segelintir kios. Sebagian berjualan kopi. Ada juga yang berjualan burung dan ikan. Sementara bangunan eks pasar burung lebih sering terlihat melompong.

Bangunan terbuka yang luasnya sekitar 6 x 12 meter itu seringkali tidak difungsikan. Dulu, bangunan itu memang didirikan untuk menjadi pasar burung. Tetapi, sekitar lima tahun lalu sudah tidak lagi ada geliat jual-beli di sana.

Namun, beberapa hari terakhir kawasan itu hidup kembali. Setiap area parkir selalu dijejali kendaraan pengunjung. Bangunan yang sudah menahun tak berfungsi itu pun menjadi tempat berkumpulnya pedagang dan pembeli.

Deretan meja kayu kecil ditata memanjang di dua sisi. Beraneka benda pusaka memenuhi meja kayu itu. Keris yang merupakan senjata tikam dalam budaya Jawa paling banyak dijual. Namun, ada juga yang menjajakan benda pusaka lain. Seperti tombak hingga pedang.

Masing-masing pedagang dengan telaten menunggu bakal pembelinya yang sedang melirik barang-barang yang dijajakan. Meski begitu, suasana yang terkesan di pasar tematik itu tidak seperti pasar lainnya.

Biasanya, pengunjung yang datang kebanyakan melihat, memilih, lalu membeli barang yang disukai. Namun, tidak demikian di pasar tematik itu.

PEMERSATU: Tak sekadar jual-beli, ada jandonan budaya sebagai pemersatu. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Yang terjadi lebih dari sekadar transaksi jual-beli. Hubungan antara pedagang dan pengunjung di pasar tematik itu lebih hangat. Mereka juga betah duduk berlama-lama. Bukan hanya tawar menawar soal harga. Tetapi, juga membincang dan saling tukar informasi mengenai benda-benda pusaka.

Sebelumnya, belasan pedagang yang ada di pasar tematik hanya menerima pesanan dari rumahnya. Sebagian pedagang merupakan perajin pusaka. Salah satunya ialah Ahmad Humaidi.

Pria berusia 46 tahun itu sudah sekitar 20 tahun menggeluti kerajinan pusaka. Semua pesanan dia kerjakan di rumahnya di Desa Karangsentul, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan. Sesekali dia mengikuti festival atau pameran benda pusaka.

“Tapi kalau berjualan di pasar baru kali ini,” bebernya.

Menurutnya, aktivitas berjualan di luar rumah lebih menyita waktu. Sehingga, kreativitasnya membuat keris atau tombak tidak leluasa. “Tapi ya senang saja ikut gabung di sini. Karena juga menyemangati pecinta benda pusaka yang muda-muda,” katanya.

Ibarat pepatah, sembari menyelam minum air. Di pasar tematik, Humaidi juga masih melakukan aktivitas produksi. Saat ditemui wartawan, dia tengah memahat warangka keris. “Karena momen kemerdekaan saya buat motif Garuda,” terang dia.

Benda-benda pusaka yang dijual di pasar tematik itu pun dipatok dengan harga beragam. Yang paling murah Rp 250 ribu. Adapun yang paling mahal menyesuaikan dengan tingkat kerumitannya.

“Tapi, kami biasanya menyesuaikan budgetnya dulu. Kalau yang rumit sampai harga jutaan ya bisa juga,” beber Humaidi.

Plt Kepala UPT Pasar di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Pasuruan Ridho Wijaya menerangkan, bangunan eks pasar burung itu sengaja dijadikan pasar tematik. “Kami ingin menyajikan apa yang jarang ditemui di pasar. Makanya, diadakan pasar tematik ini,” ungkapnya.

Di samping itu, Ridho menyebut bahwa koleksi benda pusaka ternyata juga banyak diminati. Karena itu, mereka yang gandrung dalam melestarikan budaya nusantara harus diberikan wadah.

“Harapan kami ini menjadi wadah bagi para perajin dan pecinta benda pusaka untuk melestarikan budaya,” jelasnya.

Tak sekadar jual-beli, kata Ridho, melalui pasar tematik, pengunjung dan pedagang bisa saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Apalagi, kalau menyangkut urusan budaya sudah tidak ada ikatan dengan latar belakang profesi.

“Jadi, istilahnya ada jandonan budaya di sana. Semua kalangan kalau sudah kumpul akan gayeng obrolannya. Nah, budaya ini juga menjadi pemersatu,” bebernya. (tom/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU