alexametrics
26.9 C
Probolinggo
Wednesday, 18 May 2022

Asyiknya Hobi Koleksi Prangko-Materai

DI era internet, bisa dibilang pehobi filateli merupakan hobi yang cukup menarik. Kini, mengirim surat lebih mudah melalui layanan surat elektronik alias e-mail. Namun, bukan berarti tak ada yang menggunakan prangko.

Sebelum ada internet, orang biasa berkirim surat untuk menyampaikan pesan-pesan pribadi. Kini fungsi surat banyak tergantikan oleh layanan chating dari berbagai aplikasi atau media sosial. Alhasil, berdampak terhadap pemanfaatan prangko.

Prangko merupakan salah satu bagian benda koleksi dalam hobi filateli. Filateli merupakan kegiatan mengumpulkan atau mengoleksi benda pos, seperti prangko. Prangko yang dikumpulkan bisa jadi prangko bekas yang sudah digunakan dan dicap.

Ada juga yang mengumpulkan prangko baru, seri keluaran dari Kantor Pos yang belum digunakan untuk korespondensi. Meski mulai banyak yang beralih ke surat elektronik dan media sosial, pehobi filateli masih ada. Meski sepi, hobi ini tidaklah hilang.

Di Kota Probolinggo, ada Yeti Hera Wati, 52. Berangkat dari kesukaannya dengan sejumlah warna prangko atau materai, Yeti tertarik untuk mengoleksinya.

Warga RT 11/RW 12, Kelurahan/Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, itu mengaku suka dengan prangko sejak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Itu setelah melihat sejumlah prangko Pakaian Adat Nusantara, yang beragam dan beraneka warna. Ia pun menyimpannya.

“Mulai SD hingga ke jenjang berikutnya, sudah mulai suka. Akhirnya, dikumpulkan,” ujar ibu tiga anak tersebut.

Ketika masih duduk di bangku SMA, Yeti mengaku memiliki seorang teman yang juga suka mengoleksi prangko. Tak hanya jadi teman sekolah, namun juga menjadi partner dalam memburu prangko. “Jika saya punya dua prangko yang sama, kami tukar-tukaran,” katanya.

Hobinya semakin tersalurkan ketika kemudian bekerja di Perhutani Probolinggo pada 1993. Saat itu, dia ditugaskan di bagian resepsionis. Sejak saat itu, koleksi prangkonya semakin beragam. Tak hanya prangko dalam negeri, prangko luar negeri juga banyak didapat. Seperti prangko asal Malaysia, Brunei, Singapura, Mongolia, dan sejumlah negara lainnya.

BERTAHAN: Meski saat ini ada surat elektronik, masih banyak pehobi prangko. (Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

“Banyak prangko dari negara lain yang sudah tidak terpakai. Daripada dibuang, saya gunting (dari amplop surat) dan dikumpulkan. Makanya banyak prangko yang sudah berstempel Pos,” jelasnya.

Sejauh ini, ada dua buku prangko berukuran A5 yang dimiliki. Jumlahnya sekitar 100 lembar. Meski “mencintai” prangko, Yeti mengaku tidak sampai pada tingkat kolektor akut. Yang mana, rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar, bahkan sampai memburu barang incarannya ke mana-mana, termasuk keluar negeri.

“Saya memang suka prangko dari kecil. Tapi, bukan dari kalangan yang sampai keluar negeri untuk mencari prangko langka yang harganya mahal. Meski ada beberapa prangko yang sampai saat ini saya belum miliki. Seperti prangko Pakaian Adat Nusantara, yang beragam modelnya. Saya hanya punya beberapa saja,” katanya.

Yeti memang paling menyukai prangko Pakaian Adat Nusantara. Selain beragam dengan baju adat yang berbeda, warnanya juga beragam. “Yang paling tua, saya lupa tahun berapa. Ada yang zamannya Pak Soekarno, bahkan ada yang sekitar tahun 1953. Termasuk dari negara lain. Tapi, yang saya suka yang Pakaian Adat Nusantara, sekitar tahun 1989 jika tidak salah,” ujarnya.

HUNTING: Bagi para kolektor prangko dan materi, mereka sering berburu koleksinya di berbagai tempat. (Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Rela Lepas asal Dirawat

Koleksi puluhan lembar prangko milik Yeti Hera Wati, sejauh ini masih terawat. Tersimpan rapi dalam buku khusus dan disimpan di lemari. Namun, sudah lama koleksinya tak bertambah.

Sejak memiliki anak, Yeti mengaku tidak lagi serajin sebelumnya dalam hal mengumpulkan prangko atau materai. Sudah sekitar 10 tahun tidak lagi berkutat dengan prangko.

Bahkan, sebelumnya sempat terpikir untuk membuangnya. Namun, niatan itu diurungkan. Dua buku berisi puluhan prangko itu kembali disimpan dengan baik di lemarinya.

Yeti mengaku sudah lama tidak lagi mengumpulkan prangko. Terlebih, sudah berpindah tugas. Semula di bagian resepsionis di Perhutani Probolinggo, kini menjabat Bagian Keuangan Pemasaran. “Dulu sempat mau dibuang, tapi kok sayang. Akhirnya, tetap disimpan di lemari saja,” katanya.

Disinggung bila ada kolektor yang hendak membelinya, Yeti mengaku bersedia melepasnya. Syaratnya, orang itu harus layak untuk merawatnya.

“Jika hanya dikasihkan, saya pikir tidak. Soalnya mengumpulkanya juga tidak mudah dan sudah punya nilai sejarah bagi saya. Jika ada yang benar-benar mau merawatnya, saya persilakan. Daripada di sini dan tidak terawat, juga sayang,” katanya.

Salah satu tolok ukur yang paling mudah untuk mengetahui orang tersebut layak atau tidak, kata Yeti, dengan cara membelinya. Jika harga yang ditawarkan terbilang wajar, akan dipertimbangkan.

“Jika dibeli dengan harga sesukanya, nilainya akan berbeda dengan orang yang membelinya minimal dengan harga yang wajar. Misalnya, koleksi di tahun seperti itu dan barang sulit didapat, layaknya saat ini harganya berapa?” ujarnya.

Dengan demikian, kata Yeti, orang yang membeli itu lebih meyakinkan untuk bisa melanjutkan merawat koleksi. “Bukan semata melihat dari nilainya. Tapi, memang nilainya memengaruhi kecintaan dan cara merawatnya,” ujar perempuan berkerudung ini.

Bagi Yeti, banyak kenangan dari perjuangan mengoleksi prangko. Ia pun tak mau melepaskannya begitu saja. “Jika ada orang yang mau merawatnya dengan lebih baik lagi, saya juga senang,” ujar perempuan kelahiran Lumajang itu. (rpd/rud)

DI era internet, bisa dibilang pehobi filateli merupakan hobi yang cukup menarik. Kini, mengirim surat lebih mudah melalui layanan surat elektronik alias e-mail. Namun, bukan berarti tak ada yang menggunakan prangko.

Sebelum ada internet, orang biasa berkirim surat untuk menyampaikan pesan-pesan pribadi. Kini fungsi surat banyak tergantikan oleh layanan chating dari berbagai aplikasi atau media sosial. Alhasil, berdampak terhadap pemanfaatan prangko.

Prangko merupakan salah satu bagian benda koleksi dalam hobi filateli. Filateli merupakan kegiatan mengumpulkan atau mengoleksi benda pos, seperti prangko. Prangko yang dikumpulkan bisa jadi prangko bekas yang sudah digunakan dan dicap.

Ada juga yang mengumpulkan prangko baru, seri keluaran dari Kantor Pos yang belum digunakan untuk korespondensi. Meski mulai banyak yang beralih ke surat elektronik dan media sosial, pehobi filateli masih ada. Meski sepi, hobi ini tidaklah hilang.

Di Kota Probolinggo, ada Yeti Hera Wati, 52. Berangkat dari kesukaannya dengan sejumlah warna prangko atau materai, Yeti tertarik untuk mengoleksinya.

Warga RT 11/RW 12, Kelurahan/Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, itu mengaku suka dengan prangko sejak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Itu setelah melihat sejumlah prangko Pakaian Adat Nusantara, yang beragam dan beraneka warna. Ia pun menyimpannya.

“Mulai SD hingga ke jenjang berikutnya, sudah mulai suka. Akhirnya, dikumpulkan,” ujar ibu tiga anak tersebut.

Ketika masih duduk di bangku SMA, Yeti mengaku memiliki seorang teman yang juga suka mengoleksi prangko. Tak hanya jadi teman sekolah, namun juga menjadi partner dalam memburu prangko. “Jika saya punya dua prangko yang sama, kami tukar-tukaran,” katanya.

Hobinya semakin tersalurkan ketika kemudian bekerja di Perhutani Probolinggo pada 1993. Saat itu, dia ditugaskan di bagian resepsionis. Sejak saat itu, koleksi prangkonya semakin beragam. Tak hanya prangko dalam negeri, prangko luar negeri juga banyak didapat. Seperti prangko asal Malaysia, Brunei, Singapura, Mongolia, dan sejumlah negara lainnya.

BERTAHAN: Meski saat ini ada surat elektronik, masih banyak pehobi prangko. (Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

“Banyak prangko dari negara lain yang sudah tidak terpakai. Daripada dibuang, saya gunting (dari amplop surat) dan dikumpulkan. Makanya banyak prangko yang sudah berstempel Pos,” jelasnya.

Sejauh ini, ada dua buku prangko berukuran A5 yang dimiliki. Jumlahnya sekitar 100 lembar. Meski “mencintai” prangko, Yeti mengaku tidak sampai pada tingkat kolektor akut. Yang mana, rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar, bahkan sampai memburu barang incarannya ke mana-mana, termasuk keluar negeri.

“Saya memang suka prangko dari kecil. Tapi, bukan dari kalangan yang sampai keluar negeri untuk mencari prangko langka yang harganya mahal. Meski ada beberapa prangko yang sampai saat ini saya belum miliki. Seperti prangko Pakaian Adat Nusantara, yang beragam modelnya. Saya hanya punya beberapa saja,” katanya.

Yeti memang paling menyukai prangko Pakaian Adat Nusantara. Selain beragam dengan baju adat yang berbeda, warnanya juga beragam. “Yang paling tua, saya lupa tahun berapa. Ada yang zamannya Pak Soekarno, bahkan ada yang sekitar tahun 1953. Termasuk dari negara lain. Tapi, yang saya suka yang Pakaian Adat Nusantara, sekitar tahun 1989 jika tidak salah,” ujarnya.

HUNTING: Bagi para kolektor prangko dan materi, mereka sering berburu koleksinya di berbagai tempat. (Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Rela Lepas asal Dirawat

Koleksi puluhan lembar prangko milik Yeti Hera Wati, sejauh ini masih terawat. Tersimpan rapi dalam buku khusus dan disimpan di lemari. Namun, sudah lama koleksinya tak bertambah.

Sejak memiliki anak, Yeti mengaku tidak lagi serajin sebelumnya dalam hal mengumpulkan prangko atau materai. Sudah sekitar 10 tahun tidak lagi berkutat dengan prangko.

Bahkan, sebelumnya sempat terpikir untuk membuangnya. Namun, niatan itu diurungkan. Dua buku berisi puluhan prangko itu kembali disimpan dengan baik di lemarinya.

Yeti mengaku sudah lama tidak lagi mengumpulkan prangko. Terlebih, sudah berpindah tugas. Semula di bagian resepsionis di Perhutani Probolinggo, kini menjabat Bagian Keuangan Pemasaran. “Dulu sempat mau dibuang, tapi kok sayang. Akhirnya, tetap disimpan di lemari saja,” katanya.

Disinggung bila ada kolektor yang hendak membelinya, Yeti mengaku bersedia melepasnya. Syaratnya, orang itu harus layak untuk merawatnya.

“Jika hanya dikasihkan, saya pikir tidak. Soalnya mengumpulkanya juga tidak mudah dan sudah punya nilai sejarah bagi saya. Jika ada yang benar-benar mau merawatnya, saya persilakan. Daripada di sini dan tidak terawat, juga sayang,” katanya.

Salah satu tolok ukur yang paling mudah untuk mengetahui orang tersebut layak atau tidak, kata Yeti, dengan cara membelinya. Jika harga yang ditawarkan terbilang wajar, akan dipertimbangkan.

“Jika dibeli dengan harga sesukanya, nilainya akan berbeda dengan orang yang membelinya minimal dengan harga yang wajar. Misalnya, koleksi di tahun seperti itu dan barang sulit didapat, layaknya saat ini harganya berapa?” ujarnya.

Dengan demikian, kata Yeti, orang yang membeli itu lebih meyakinkan untuk bisa melanjutkan merawat koleksi. “Bukan semata melihat dari nilainya. Tapi, memang nilainya memengaruhi kecintaan dan cara merawatnya,” ujar perempuan berkerudung ini.

Bagi Yeti, banyak kenangan dari perjuangan mengoleksi prangko. Ia pun tak mau melepaskannya begitu saja. “Jika ada orang yang mau merawatnya dengan lebih baik lagi, saya juga senang,” ujar perempuan kelahiran Lumajang itu. (rpd/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/