alexametrics
27.4 C
Probolinggo
Monday, 15 August 2022

Mbah Lowo Ijo yang Dikenal Ulama Pendiri Ponpes Cangaan Bangil

Konon Mbah Lowo Ijo kerap menjadi sosok yang dicari-cari oleh tentara penjajah. Untuk bersembunyi dari tentara penjajah waktu itu, beliau memilih bertapa dan beribadah dengan bergelantungan di pohon pisang. Mirip seperti kelelawar.

“Hal inilah yang membuat julukan Mbah Jalaludin sebagai Mbah Lowo Ijo melekat hingga sekarang,” tutup pengasuh Ponpes Darut Tauhid Bangil tersebut.

 

Ziarah Ramai saat Malam Jumat

Mbah Lowo Ijo meninggal di kisaran abad ke-17 Masehi. Ia dimakamkan di area pemakaman umum Lingkungan Diwet, Kelurahan Pogar, Kecamatan Bangil. Di samping makamnya, ada makam istrinya, Sa’diyyah. Makam tersebut sampai kini menjadi jujukan warga untuk berziarah.

Muhammad Imam Harromain yang memiliki silsilah garis keturunan dengan Mbah Lowo Ijo menyebut, peziarah yang datang bukan hanya berasal dari Kabupaten Pasuruan. Ada pula yang datang dari Surabaya, Madura, dan beberapa daerah lainnya.

Saat malam hari, makin banyak peziarah yang datang. Bisa puluhan orang, bahkan ratusan.

“Apalagi kalau malam Jumat. Biasanya banyak yang datang untuk kirim doa,” tandasnya.

Bukan hanya hari-hari biasa saja. Pengunjung makam, berdatangan ketika momen Ramadan. “Hampir setiap hari ada peziarah. Terlebih saat Ramadan. Makam Mbah Lowo Ijo Tak pernah sepi dari kunjungan,” sambung dia. (iwan andrik/hn)

Konon Mbah Lowo Ijo kerap menjadi sosok yang dicari-cari oleh tentara penjajah. Untuk bersembunyi dari tentara penjajah waktu itu, beliau memilih bertapa dan beribadah dengan bergelantungan di pohon pisang. Mirip seperti kelelawar.

“Hal inilah yang membuat julukan Mbah Jalaludin sebagai Mbah Lowo Ijo melekat hingga sekarang,” tutup pengasuh Ponpes Darut Tauhid Bangil tersebut.

 

Ziarah Ramai saat Malam Jumat

Mbah Lowo Ijo meninggal di kisaran abad ke-17 Masehi. Ia dimakamkan di area pemakaman umum Lingkungan Diwet, Kelurahan Pogar, Kecamatan Bangil. Di samping makamnya, ada makam istrinya, Sa’diyyah. Makam tersebut sampai kini menjadi jujukan warga untuk berziarah.

Muhammad Imam Harromain yang memiliki silsilah garis keturunan dengan Mbah Lowo Ijo menyebut, peziarah yang datang bukan hanya berasal dari Kabupaten Pasuruan. Ada pula yang datang dari Surabaya, Madura, dan beberapa daerah lainnya.

Saat malam hari, makin banyak peziarah yang datang. Bisa puluhan orang, bahkan ratusan.

“Apalagi kalau malam Jumat. Biasanya banyak yang datang untuk kirim doa,” tandasnya.

Bukan hanya hari-hari biasa saja. Pengunjung makam, berdatangan ketika momen Ramadan. “Hampir setiap hari ada peziarah. Terlebih saat Ramadan. Makam Mbah Lowo Ijo Tak pernah sepi dari kunjungan,” sambung dia. (iwan andrik/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/