alexametrics
25.5 C
Probolinggo
Wednesday, 18 May 2022

Gus Husni, Jaga Eksistensi Kajian Kitab Klasik di Era Modernisasi

MERAWAT dan menjaga eksistensi pesantren tak semudah membalik telapak tangan. Butuh pengorbanan dan perjuangan ekstra. Itulah yang kini dilakukan sejumlah Pengasuh Pesantren Raudlatul Mutaallimin, Kota Probolinggo. Termasuk Gus Husni Mubaroq.

Sejak pulang dari Jogjakarta dan menetap di Kota Probolinggo, Gus Husni Mubaroq membantu keluarga besarnya merawat dan mengembangkan Pesantren Raudlatul Mutaalimin. Kala itu, pesantren warisan orang tuanya ini diasuh oleh kakaknya, K.H. Ibnu Athoillah.

Gus Husni mengatakan, tidak mudah menjalani dan meneruskan perjuangan sang ayah serta keluarga dalam merintis pesantren. Apalagi, orang yang dituakan sudah meninggal dunia. Karenanya, kini sejumlah generasi penerusnya terus berjuang untuk menjaga eksistensi dan mengembangkan pesantren.

Pesantren yang berdiri di Kelurahan/Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, ini didirikan oleh Almarhum K.H. Marzoeqi. Pada 1998, alumni Pesantren Zainul Hasan Genggong, Kecamatan Pajarakan, itu meninggal dunia pada usia 63 tahun. Ia meninggalkan tujuh orang putra dan putri.

Kepemimpinan pesantren ini pun dilanjutkan oleh putranya, K.H. Ibnu Athoillah. Pada 2015, Kiai Ibnu Athoillah juga dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa. Kini, pesantren ini diasuh bersama oleh putra dan putri Almahum K.H. Marzoeqi. “Ayah mempunyai tujuh anak. Saya anak yang terakhir,” ujar Gus Husni.

Sebagai putra Kiai Marzoeqi, Gus Husni juga turut berusaha menjaga eksistensi dan mengembangkan pesantren. Salah satunya dengan tetap melaksanakan kegiatan, baik di pendidikan formal dan nonformal. Serta, melayani kebutuhan masyarakat. Seperti mengkaji kitab kuning, termasuk melakukan kegiatan pengajian di masyarakat atau sarweh.

MERAWAT dan menjaga eksistensi pesantren tak semudah membalik telapak tangan. Butuh pengorbanan dan perjuangan ekstra. Itulah yang kini dilakukan sejumlah Pengasuh Pesantren Raudlatul Mutaallimin, Kota Probolinggo. Termasuk Gus Husni Mubaroq.

Sejak pulang dari Jogjakarta dan menetap di Kota Probolinggo, Gus Husni Mubaroq membantu keluarga besarnya merawat dan mengembangkan Pesantren Raudlatul Mutaalimin. Kala itu, pesantren warisan orang tuanya ini diasuh oleh kakaknya, K.H. Ibnu Athoillah.

Gus Husni mengatakan, tidak mudah menjalani dan meneruskan perjuangan sang ayah serta keluarga dalam merintis pesantren. Apalagi, orang yang dituakan sudah meninggal dunia. Karenanya, kini sejumlah generasi penerusnya terus berjuang untuk menjaga eksistensi dan mengembangkan pesantren.

Pesantren yang berdiri di Kelurahan/Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, ini didirikan oleh Almarhum K.H. Marzoeqi. Pada 1998, alumni Pesantren Zainul Hasan Genggong, Kecamatan Pajarakan, itu meninggal dunia pada usia 63 tahun. Ia meninggalkan tujuh orang putra dan putri.

Kepemimpinan pesantren ini pun dilanjutkan oleh putranya, K.H. Ibnu Athoillah. Pada 2015, Kiai Ibnu Athoillah juga dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa. Kini, pesantren ini diasuh bersama oleh putra dan putri Almahum K.H. Marzoeqi. “Ayah mempunyai tujuh anak. Saya anak yang terakhir,” ujar Gus Husni.

Sebagai putra Kiai Marzoeqi, Gus Husni juga turut berusaha menjaga eksistensi dan mengembangkan pesantren. Salah satunya dengan tetap melaksanakan kegiatan, baik di pendidikan formal dan nonformal. Serta, melayani kebutuhan masyarakat. Seperti mengkaji kitab kuning, termasuk melakukan kegiatan pengajian di masyarakat atau sarweh.

MOST READ

BERITA TERBARU

/