Kondisi Pasar di Probolinggo di Tengah Imbauan Menghindari Kerumunan

Sejumlah tempat yang biasa dikunjungi masyarakat, mulai sepi karena protokoler pencegahan terhadap penularan virus korona. Tidak hanya tempat wisata, pasar yang jadi pusat jual beli masyarakat pun sepi. Seperti di Pasar Baru Kota Probolinggo, sejumlah pedagang mengalami penurunan penjualan 30-40 persen.

RIZKY PUTRA DINASTI, Probolinggo, Radar Bromo

Waktu sudah menunjukkan pukul 10.15. Namun, kendaraan yang melintas di sepanjang Jl Panglima Sudirman Kota Probolinggo tampak lengang. Maklum saja, Pemkot Probolinggo mengimbau warga tidak keluar rumah apabila tidak terlalu penting. Warga juga diminta menghindari kerumunan.

Kebijakan ini mulai berpengaruh pada tempat-tempat yang biasa ramai dikunjungi warga. Seperti Pasar Baru di Jalan Panglima Sudirman. Tidak seperti biasanya, kemarin tidak banyak kendaraan yang terparkir di depan pasar.

Begitu masuk ke dalam pasar, suasana pasar begitu lengang. Mirip saat bulan Ramadan. Bahkan, beberapa gang di pasar tidak terlihat pengunjung sama sekali. Kosong, sepi.

LEBIH LENGANG: Salah satu sudut Pasar Baru yang sepi imbas kabar merebaknya virus korona. (Rizky Putra Dinasti/Radar Bromo)

 

Tepat 10 meter di pintu masuk pasar, sejumlah pedagang terlihat lesu. Bahkan, tak sedikit yang tertidur sembari menunggu dagangannya.

Dian Rahmawati, 26, anak dari pemilik toko Hanafi yang berjaga di tokonya mengatakan, dua hari terakhir kondisi pasar sepi.

Perempuan asal Kelurahan jati, Kecamatan Mayangan, itu menerangkan, pada Senin (16/3) dan Selasa (17/3), jumlah pengunjung turun drastis. Biasanya pada pukul 10.30, ia sudah melayani lebih dari 15 pembeli. Namun, kali ini kurang dari 10.

“Pengunjung pasar turun. Biasanya kan sampai berdesak-desakan. Nah, ini sepi sekali. Yang datang dan beli paling cuman langganan,” terangnya.

Hal senada diungkapkan Ais, 46, penjual aksesori asal Sumber Taman Indah (STI), Kecamatan Wonoasih. Perempuan yang saban hari menagih tabungan ke sejumlah pedagang itu mengaku, omzetnya turun 30 persen. Sebab, pengunjung yang masuk berkurang.

“Saya kan juga nagih tabungan ke sejumlah pedagang, nah rata-rata banyak yang prei (tidak menabung) karena dagangannya sepi,” katanya.

Ais berharap wabah virus korona ini segera hilang. Karena virus yang telah ditetapkan sebagai bencana nasional ini, membuat semua orang waspada dan memilih tidak keluar kalau tidak ada kepentingan yang mendesak.

Dampaknya, menurut Ais, banyak pedang sepi pembeli. Sehingga, jumlah tabungannya juga turun. Terbukti, dua hari saja menjalankan imbauan dari pemerintah, omzetnya sudah turun 30 persen.

Hal yang sama dialami Subawon, 38, penjual ayam di depan Pasar Baru. Biasanya, tiap hari dia kulakan ayam pedaging 50 kilogram. Namun, kini hanya 25 kilogram.

Menurutnya, saat ini pembeli tidak mau masuk ke pasar. Lebih lagi saat ini ada instruksi waspada virus korona.

“Sudah hampir sebulan pintu belakang ditutup karena katanya mau dibangun. Lalu sekarang ada kewaspadaan ini (korona). Jadi, jumlah pembeli yang masuk bahkan melihat saja bisa dihitung dengan jari,” bebernya.

Ia berharap kondisi demikian cepat berangsur surut. “Semoga segera kembali normal situasinya,” ujarnya. (hn)