alexametrics
24.9 C
Probolinggo
Tuesday, 17 May 2022

Meski Pandemi, Rak Bunga Warga Rejoso Ini Bisa Hasilkan Pundi Rupiah

Pandemi tak melulu membuat perekonomian jatuh. Buktinya usaha warga di Desa Karangpandan, Kecamatan Rejoso. Usaha keluarga yang dirintis saat pandemi ini justru berhasil meraih omzet besar meski pandemi.

———————

KESIBUKAN terlihat di salah satu rumah di Desa Karangpandan. Saat Jawa Pos Radar Bromo ke sana, ada yang menggergaji kayu, mengamplas, bahkan menyusun menjadi sebuah bentuk yang elok dipandang. Ada pula yang melakukan pengecatan dengan warna warna yang telah direncanakan.

Sesekali, seorang wanita dengan memakai baju muslimah berkeliling untuk mengecek hasil karya yang dihasilkan. Ya, itulah keseharian di rumah keluarga Farida. Perempuan 29 tahun itu nampak melihat pekerjanya yang sedang menyelesaikan rak bunga.

“Saya hanya meneruskan usaha adik saya,” katanya memperkenalkan diri.

Sembari mengajak keliling ke tempat usahanya, ia bercerita panjang lebar. Dia mengawalinya dengan pendirian usaha itu.

“Ini usaha rintisan adik saya yaitu Abdul Karim. Sekitar Agustus 2020 lalu di tengah pandemi,” ceritanya.

Sayang, saat usaha itu mulai berkembang, si perintis dipanggil sang kuasa. Ia terkena musibah bersama sang ayah yakni Suparman saat membersihkan alat kerjanya. Keduanya meninggal bersamaan.

“Kejadiannya akhir tahun lalu. Dari situ, kemudian saya bersama dua saudara yang lain, melanjutkan usaha ini,” paparnya.

DARI KELUARGA: Farida, pemilik usaha kerajinan rak bunga. (Foto: Mukhamad Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)

Perempuan lulusan salah satu pondok pesantren itu mengaku, awalnya bukan rak bunga yang digeluti. Melainkan alat musik. Tapi, itu tidak dibuat olehnya. Adiknya, mengambil dari orang lain. Usaha itu juga moncer. Sayang, karena permintaan yang banyak dan stok barang yang sedikit, menjadikannya tidak bisa memenuhi permintaan pasar.

“Sampai sekarang masih berjalan. Tapi ya begitu tidak sebagus yang usaha rak bunga ini,” tuturnya.

Farida mengaku, penjualan rak bunganya sementara mengambil pasar online. Dalam sehari, sekitar 50 rak bunga terjual. Harganya bervariasi, tergantung dari besar kecilnya rak yang dibuat.

Bukan hanya masyarakat Indonesia saja yang telah memesan. Tetapi, juga ada beberapa pesanan dari luar negeri. “Kami memang menjual online. Sehingga jangkauannya lebih luas. Ini ternyata berhasil,” terangnya.

Usahanya juga diuntungkan dengan fenomena tren bunga hias. Sehingga permintaan pasar meningkat tajam. Namun, juga kualitas raknya yang memang bisa bersaing.

“Rak bunga yang kami buat itu terbuat dari besi dan kayu. Ada dua jenis yakni rak bunga susun dua dan susun tiga,” katanya.

Rak bunga hasil buatannya itu bukan hanya untuk dipajang di depan rumah. Tetapi, juga bisa dipajang di dalam rumah. Katanya, akan menjadikan rumah lebih indah. Apalagi dengan hiasan pot bunga yang bagus.

“Kami ada 15 karyawan yang bekerja. Kalau dari keluarga sendiri ya tidak akan bisa memenuhi pesanannya,” ungkapnya. (sid/fun)

Pandemi tak melulu membuat perekonomian jatuh. Buktinya usaha warga di Desa Karangpandan, Kecamatan Rejoso. Usaha keluarga yang dirintis saat pandemi ini justru berhasil meraih omzet besar meski pandemi.

———————

KESIBUKAN terlihat di salah satu rumah di Desa Karangpandan. Saat Jawa Pos Radar Bromo ke sana, ada yang menggergaji kayu, mengamplas, bahkan menyusun menjadi sebuah bentuk yang elok dipandang. Ada pula yang melakukan pengecatan dengan warna warna yang telah direncanakan.

Sesekali, seorang wanita dengan memakai baju muslimah berkeliling untuk mengecek hasil karya yang dihasilkan. Ya, itulah keseharian di rumah keluarga Farida. Perempuan 29 tahun itu nampak melihat pekerjanya yang sedang menyelesaikan rak bunga.

“Saya hanya meneruskan usaha adik saya,” katanya memperkenalkan diri.

Sembari mengajak keliling ke tempat usahanya, ia bercerita panjang lebar. Dia mengawalinya dengan pendirian usaha itu.

“Ini usaha rintisan adik saya yaitu Abdul Karim. Sekitar Agustus 2020 lalu di tengah pandemi,” ceritanya.

Sayang, saat usaha itu mulai berkembang, si perintis dipanggil sang kuasa. Ia terkena musibah bersama sang ayah yakni Suparman saat membersihkan alat kerjanya. Keduanya meninggal bersamaan.

“Kejadiannya akhir tahun lalu. Dari situ, kemudian saya bersama dua saudara yang lain, melanjutkan usaha ini,” paparnya.

DARI KELUARGA: Farida, pemilik usaha kerajinan rak bunga. (Foto: Mukhamad Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)

Perempuan lulusan salah satu pondok pesantren itu mengaku, awalnya bukan rak bunga yang digeluti. Melainkan alat musik. Tapi, itu tidak dibuat olehnya. Adiknya, mengambil dari orang lain. Usaha itu juga moncer. Sayang, karena permintaan yang banyak dan stok barang yang sedikit, menjadikannya tidak bisa memenuhi permintaan pasar.

“Sampai sekarang masih berjalan. Tapi ya begitu tidak sebagus yang usaha rak bunga ini,” tuturnya.

Farida mengaku, penjualan rak bunganya sementara mengambil pasar online. Dalam sehari, sekitar 50 rak bunga terjual. Harganya bervariasi, tergantung dari besar kecilnya rak yang dibuat.

Bukan hanya masyarakat Indonesia saja yang telah memesan. Tetapi, juga ada beberapa pesanan dari luar negeri. “Kami memang menjual online. Sehingga jangkauannya lebih luas. Ini ternyata berhasil,” terangnya.

Usahanya juga diuntungkan dengan fenomena tren bunga hias. Sehingga permintaan pasar meningkat tajam. Namun, juga kualitas raknya yang memang bisa bersaing.

“Rak bunga yang kami buat itu terbuat dari besi dan kayu. Ada dua jenis yakni rak bunga susun dua dan susun tiga,” katanya.

Rak bunga hasil buatannya itu bukan hanya untuk dipajang di depan rumah. Tetapi, juga bisa dipajang di dalam rumah. Katanya, akan menjadikan rumah lebih indah. Apalagi dengan hiasan pot bunga yang bagus.

“Kami ada 15 karyawan yang bekerja. Kalau dari keluarga sendiri ya tidak akan bisa memenuhi pesanannya,” ungkapnya. (sid/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/