alexametrics
27.2 C
Probolinggo
Sunday, 29 May 2022

Abang Becak di Kota Probolinggo yang Terus Berkurang

Becak menjadi salah satu alat transportasi yang banyak digunakan di Kota Probolinggo. Jumlahnya pun mencapai 5.000 abang becak. Itu dulu. Sekitar 10 tahun lalu. Kini tergerus. Banyak yang alih profesi dan pensiun.

RIZKY PUTRA DINASTI, Kedopok, Radar Bromo

SEORANG lelaki melangkah pelan. Keluar dari musala di RT 3/RW 10, Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo. Dialah Miskan. Ketua Paguyuban Abang Becak Kota Probolinggo.

Mengetahui kedatangan Jawa Pos Radar Bromo, Miskan mengajak masuk ke rumahnya. Tak jauh dari musala. “Saya kena stoke. Sempat tidak bisa bicara dan sebagian tubuh bagian kanan mati rasa,” ujarnya mengawali pembicaraan.

Ia mengaku bersyukur sudah mendingan. Meski belum 100 persen. Miskan terpilih menjadi ketua Paguyuban Tukang Becak Kota Probolinggo pada 12 Februari 2011.

Sudah berjalan 10 tahun. Ia juga masih menjadi ketua definitif. Hanya saja paguyuban yang dulu anggotanya mencapai sekitar 5.000 abang becak, kini mati suri. “Sudah sekitar lima tahun tidak ada kegiatan,” ujarnya.

Kepengurusan paguyuban pengayuh becak ini berjenjang. Mulai tingkat kelurahan, kecamatan, dan kota. Miskan menjadi pengurus dan ketua di tingkat kota bersama tujuh orang lainnya. Kini, kata Miskan, kompak tidak aktif.

Seiring perkembangan zaman, becak mulai terkikis. Kehilangan eksistensinya. Banyak abang becak yang beralih profesi. Ada juga yang pensiun. Banyak keturanan tukang becak yang tak meneruskan pekerjaan orang tuanya.

Becak menjadi salah satu alat transportasi yang banyak digunakan di Kota Probolinggo. Jumlahnya pun mencapai 5.000 abang becak. Itu dulu. Sekitar 10 tahun lalu. Kini tergerus. Banyak yang alih profesi dan pensiun.

RIZKY PUTRA DINASTI, Kedopok, Radar Bromo

SEORANG lelaki melangkah pelan. Keluar dari musala di RT 3/RW 10, Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo. Dialah Miskan. Ketua Paguyuban Abang Becak Kota Probolinggo.

Mengetahui kedatangan Jawa Pos Radar Bromo, Miskan mengajak masuk ke rumahnya. Tak jauh dari musala. “Saya kena stoke. Sempat tidak bisa bicara dan sebagian tubuh bagian kanan mati rasa,” ujarnya mengawali pembicaraan.

Ia mengaku bersyukur sudah mendingan. Meski belum 100 persen. Miskan terpilih menjadi ketua Paguyuban Tukang Becak Kota Probolinggo pada 12 Februari 2011.

Sudah berjalan 10 tahun. Ia juga masih menjadi ketua definitif. Hanya saja paguyuban yang dulu anggotanya mencapai sekitar 5.000 abang becak, kini mati suri. “Sudah sekitar lima tahun tidak ada kegiatan,” ujarnya.

Kepengurusan paguyuban pengayuh becak ini berjenjang. Mulai tingkat kelurahan, kecamatan, dan kota. Miskan menjadi pengurus dan ketua di tingkat kota bersama tujuh orang lainnya. Kini, kata Miskan, kompak tidak aktif.

Seiring perkembangan zaman, becak mulai terkikis. Kehilangan eksistensinya. Banyak abang becak yang beralih profesi. Ada juga yang pensiun. Banyak keturanan tukang becak yang tak meneruskan pekerjaan orang tuanya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/