Akhmad Fatikh, Pelukis Impresionis yang Karyanya Dipesan hingga Singapura dan Saudi Arabia

Kegemaran menggambar, mengantarkan Akhmad Fatikh, 49, menjadi salah satu pelukis ternama di Bangil. Hasil karyanya tidak hanya diminati pasar dalam negeri. Hasil karya pelukis beraliran impresionis yang juga seorang komputer grafis ini, tembus sampai Arab Saudi dan Singapura.

——————

Goresan kuas menghiasi kanvas yang ada di depannya. Tangan kanan lelaki 49 tahun itu tampak terampil “mencoret-coret” kain putih. Warna putih kanvas itu pun berubah menjadi lukisan yang indah.

Butuh waktu yang tidak sebentar. Tidak hanya sejam atau dua jam. Karena bisa memakan waktu berjam-jam. Tak kalah pentingnya adalah suasana hati.

“Kalau suasana hati sedang baik, tentunya akan membuat ide-ide dengan mudah mengalir. Melukis pun jadi lebih menyenangkan,” kata Akhmad Fatikh saat ditemui di rumahnya.

Fatikh -sapaan Akhmad Fatikh- merupakan salah satu pelukis asal Bendomungal, Kecamatan Bangil. Ia merupakan pelukis berbagai aliran. Namun, jika memilih, ia lebih menyukai lukisan impresionis.

Soal karya, jangan ditanya. Karyanya tidak hanya diminati pasar lokal. Karena lukisannya tembus luar negeri. Seperti, Singapura dan Arab Saudi.

Bapak dua anak yang sehari-harinya bekerja sebagai komputer grafis di sebuah percetakan di Kelurahan Kauman, Kecamatan Bangil, ini hobi menggambar sejak kelas empat SD. Saat itu ia hanya sekadar menggambar, tanpa ada teknik untuk membuat karya yang benar.

“Hobi itu terus saya dalami hingga SMA. Bahkan, saya sempat membeli peralatan lukis, meski teknik melukis belum saya dapatkan,” kisahnya.

Baru saat kuliah sekitar tahun 1990-an, dia mulai menyeriusi seni lukis. Bahkan, ia aktif melukis dan ikut dalam beberapa pameran di Surabaya.

Alumnus IKIP Surabaya yang kini menjadi UNESA, itu mulai kebanjiran order lukisan. Tidak hanya dari teman atau kerabatnya, tetapi juga dari orang-orang yang pernah melihat karyanya dalam pameran.

Ia pun bertambah semangat melukis. Semangatnya semakin membara ketika ia mendapatkan order lukisan dari Singapura. Jumlahnya tak sedikit, mencapai 20 lukisan. Pesanan lukisan itu diperolehnya dari pemilik perusahaan pita mesin ketik di Surabaya.

Kebetulan, pemilik perusahaan tersebut membangun hotel di Singapura. Sehingga, membutuhkan banyak lukisan. “Saya memperoleh pesanan 20 unit dengan tema pantai,” sambungnya.

Dengan order tersebut, tidak hanya cukup baginya untuk uang jajan. Karena hasil dari karyanya itu, ia gunakan untuk biaya kuliah. “Jadi, tidak ngerepoti orang tua,” imbuh lulusan seni rupa tersebut.

Tak berhenti di situ. Ia juga pernah memperoleh order dari Arab Saudi. Order itu diperoleh setelah ada tetangganya yang melihat kreasinya. Tertarik, akhirnya tetangganya itu pesan untuk saudaranya yang ada di Arab Saudi. “Pesan lukisan potret orang ke saya,” kenangnya.

Hasil yang diperoleh dari melukis itu, cukup membuat kantongnya tebal. Kebetulan, waktu itu ia mau wisuda. Sehingga, uang yang diperolehnya dari melukis, ia gunakan untuk membayar wisuda.

Lulus kuliah, tak serta merta ia fokus menjadi pelukis. Karena baginya, melukis hanyalah hobi yang menghasilkan. Di luar melukis, ia manfaatkan hari-harinya untuk mengelola bisnis percetakan yang didirikan saudaranya. “Saya bekerja sebagai komputer grafis di sebuah percetakan milik saudara saya,” ulasnya.

Di tengah kesibukannya bekerja, tak membuat hobinya terabaikan. Ia masih aktif melukis dan membuat karya. Rata-rata sebulan, bisa menghasilkan dua karya. Karya-karyanya pun masih “laku” dipasarkan.

Buktinya, beberapa waktu yang lalu, ia menerima order dari Kalimantan. Meski tak mahal. Rata-rata dihargai Rp 3 juta per lukisan.

Dikatakan Fatikh, melukis bukan sekadar hobi yang digunakan untuk mencari uang. Lebih dari itu, melukis adalah sarana untuk menenangkan pikiran. Karena ketika berhadapan dengan kuas dan kanvas, pikiran suntuk yang memutari kepala, bisa hilang.

Ia pun tak tahu sampai kapan akan berhenti berkarya. Karena yang pasti, ia akan terus menggoreskan kuasnya di atas kanvas selagi masih bisa. Baginya, kuas dan kanvas adalah obat penghilang kepenatan.

“Saya melukis biasanya setelah pulang kerja atau saat libur kerja. Saat jenuh melanda, terasa menyenangkan ketika saya gunakan untuk melukis,” pungkasnya. (one/hn/fun)